Antara Persoalan Rezeki dan Tuntutan Beribadah

Ibn ‘Athaillah berkata:
Ijtihaaduka bimaa dhumina laka wataqshiiruka fiimaa thuliba minka daliilun ‘alanthimaasil bashiirati minka.

“Kesungguhan Anda dalam mencari rezeki yang telah dijamin oleh Allah bagi Anda, dan mengabaikan apa yang menjadi tuntutan Allah terhadap Anda (kewajiban beribadah) adalah petunjuk atas tertutupnya mata hati Anda.”

Ulasan
Sesuatu yang telah dijamin oleh Allah bagi hamba adalah persoalan rezekinya. Dengan rezeki itu, seorang hamba bisa tetap tegak wujud dan keberadaannya di dunia. Makna bahwa Allah menjamin dan menanggung rezeki hamba-hamba-Nya dimaksud adalah agar mereka dapat membebaskan dirinya dari memikirkan persoalan rezeki.
Mereka tidak dituntut bersungguh-sungguh dalam berusaha mencarinya, dan tidak pula mencurahkan perhatiannya pada persoalan rezeki. Tetapi sesuatu yang dituntut dari seorang hamba adalah amal ibadah dan kebaktiannya yang dapat mengantarkannya untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Dalil bahwa Allah Swt menjamin rezeki hamba bisa disimak pada ayat berikut, Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (29:60)
Dalil bahwa Allah Swt menuntut kepatuhan dari hamba-Nya terdapat pada sebuah atsar: “Wahai hamba-Ku, patuhilah apa yang Aku perintahkan kepadamu, sementara engkau tidak perlu tahu kemaslahatan yang akan Aku perbuat bagimu.”

Refleksi
Kata hikmah di atas bisa mengandung dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, Ibn Athaillah agaknya mengkhususkan makna ibadah pada aktivitas-aktivitas ibadah tertentu seperti shalat. Ini seolah memberikan pengandaian bahwa mencari rezeki tidak termasuk pada aktivitas ibadah. Tentu ini amat jauh dari pandangan Shahibul Hikam.
Kemungkinan kedua, Ibn Athaillah mengisyaratkan agar selama menuntut penghidupan atau mencari rezeki, hendaknya itu diiringi dengan unsur ketakwaan, tahu halal-haramnya, dan lain-lain. Karena dengan ketakwaan, usaha mencari rezeki menjadi bernilai ibadah.
Akan tetapi, dalam perspektif kesatuan wujud, semua itu penampakan merupakan nama-nama Al-Haqq semata.

Iklan

Memilih Guru, Sahabat, dan Pemimpin

“Janganlah anda berguru atau bersahabat dengan orang yang tidak membangkitkan dirimu dan menunjukkan kepada Allah, baik kondisi ruhani (haal) maupun kata-katanya. Ketika anda berbuat buruk, ia memberitahu kalau perbuatan itu baik bagi anda, karena sesungguhnya anda telah bergabung pada orang yang lebih buruk daripada diri anda.”

Orang yang tidak membangkitkan dirimu, tingkah laku ruhani maupun ucapannya yang bisa menunjukkan kepada Allah adalah orang yang sesungguhnya belum menempati posisi hakikat, belum mampu menghilangkan hasratnya dari sesama makhluk, bahkan dia lebih rela pada kepentingan dirinya. Baca lebih lanjut