Anak-anak dan Kenakalan Mereka

Suatu pagi, saya mendapat long message bukan short message lagi dari A Ipin mengenai kenakalan anak-anak. Begini pesannya:

Senin sore, 1September 2008

Saya ditelpon seorang guru untuk sebuah kabar yang terlalu membebaninya: dua tahun yang lalu, di kelas 6, seorang muridnya dibawa masuk ke kamar mandi oleh empat temannya. Di dalam ia dipaksa telanjang untuk difoto dengan menggunakan kamera di HP. Ortunya teramat marah: mengancam sengit kami, berjanji mempidanakan, … beruntung kami masih dipersilakan menyelesaikan. Dengan catatan, kami membawa kabar gembira dalam penyelesaian kasusnya. Apa yang dimaksud kabar gembira, kami hanya menduga: pengakuan dari keempat anak dan permohonan maaf.

Saya tertekan. Saya konsultasi ke beberapa sahabat: mencari sudut pandang berbeda, nasihat, dukungan. Saya tertekan? Betul. Saya melindungi diri, memastikan diri akan aman dari gugatan. Ini di bawah sadar kepengecutan saya yang berdampak di permukaan sebagai ketakutan. Akal sehat untuk mengukuhkan empati, benar-benar terlewatkan. Contoh untuk fakta bahwa itu baru terungkap setelah dua tahun: kenapa baru sekarang? Kami tidak tahu kok sebelumnya. Semua yang mengemuka (9-9-08 ; 05:20:31)

… dapat kami buktikan, selalu kami tangani. Karena korban ditengarai berkebutuhan khusus, muncul dugaan beritanya dibuat-buat. Sungguh, bukannya terpikir bagaimana derita korban menanggung kelam bertahun2? Bagaimana hati yang telah berbuat selalu harus menyembunyikannya bertahun-tahun? Tak terbersit kutempatkan diriku sebagai ayah mereka? Yng kucintai dihina atau menghinakan, dilecehkan atau melecehkan kehormatan? Aneh sekali caraku mendampingi hati. Gusar aku dengan hati yang terjebak dalam belantara hasrat. (9-9-’08 ; 05:45:38).

Selasa, 2 September 2008

Kudapat pembenaran kejadian dari seorang anak, dengan tambahan info bahwa ia menutup mata dengan telapak tangan ketika kejadian berlangsung dan tahu persis bahwa file langsung dihapus. Langsung dihapus! Dapat kuyakini kejadian masih dalam wilayah anak-anak. Pertanyaan kenapa melakukan dan untuk apa, tak terjawab. Anak-anak hanya bisa menjelaskan bagaimana keberlangsungannya. Sebagai anak-anak pula, ketika kecil, temanku, menaiki bukit di pinggir jalan raya bersama temannya dan berlomba mengenai sasaran lemparan batu pada mobil yang lewat.

Berbahaya? Seberbahaya apa pun tetap saja itu tindakan anak-anak: permainan, bermain-main, sensasi laku yang terkungkung subjektivitas. Tidak ada dalam pikirannya, mereka yang lewat itu adalah si fulan, yang kalau tertimpa tindakan kita akan berakibat yang merugikannya. Di sinilah aku ngotot, tak peduli sebagai tindakan itu asusila, tetaplah itu wilayah anak-anak. Seakan kudengar “Ayo kamu berani tidak buka bajunya!”, “Kita telanjangi yuk”, atau ajakan dan tantangan lainnya. (9-9-’08 ; 06:35:46)

Aku pikir ini pelajaran berharga: memisahkan tindakan dengan alasan tindakan atau menetapkan nilai tindakan dengan menetapkan status pelaku tindakan mendahului tindakannya. Status anak-anak yang tertetapkan lebih dahulu mengharuskan kita menganalisis dengan sudut pandang dan ‘nilai’ anak-anak. Bagaimana kalau tindakan anak-anak mengikuti logika tindakan orang dewasa? Kupikir dewasa karbitan menjadi tanggung jawab pendidikan yang melemahkan atau mengacaukan pikiran dan lingkungan yang memanjakan hasrat terhadap keduniawian.

Ha ha. Punten, aku tidak siap memikirkannya lebih jauh. Rindu sekali dapat kupahami betul Akhlak al Quran, TM Yazdi, sehingga aku tak sesat pikir atau berpikir ulang setelah terkejut dengan akibat yang diperoleh. Doain ya dapat kutamatkan bukunya. (9-9-’08 ; 07:17:41)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s