Mengobati Hati yang Sakit

Hikmah Sufi menawarkan obat untuk hati yang sakit.

1. Zikir, mengingat Tuhan. Zikir adalah bentuk kehadiran hati dalam memohon kepada Tuhan. Tujuan zikir adalah memasukkan “cahaya” ke dalam hati agar hati dapat berfungsi sebagai organ perseptif.

2. Melakukan kontemplasi makna dari kitab wahyu tradisi-tradisi keagamaan dan perkataan orang-orang suci karena semua ini menimbulkan efek pada hati, menghilangkan ilusi-ilusinya, menyembuhkan sakitnya,  memulihkan kekuatannya.

3. Mengosongkan perut. Kelebihan makanan dapat mengeraskan hati. Puasa adalah lawan dari kecanduan yang tersembunyi tetapi nyata yang karenanya kita menjadikan menjadikan diri kita mati rasa terhadap pengalaman hati. Jika dengan berpuasa kita menyakiti diri sendiri dengan derita hati, kita menjadi secara emosional  lebih perasa dan jujur; barulah hati kemudian dapat disembuhkan.

4. Tetap terjaga dan mendirikan salat malam sebelum terbit matahari. Pada saat pagi buta ini aktivitas dunia menjadi minimal, suasana jiwa menjadi tenang dan kita lebih dapat mencapai kedalaman konsentrasi atas alam bawah sadar kita.

5. Bersahabat dengan orang-orang yang memiliki kesadaran dapat memulihkan keimanan dan kesehatan di hati.

(Kabir Helminski. Hati yang Bermakrifat. Bandung: Pustaka Hidayah, hal.92)

Iklan

Senyumlah, Maka Dunia Berubah

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana . Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah. Baca lebih lanjut

Suatu “Benturan Peradaban”? Pengaruh Tasawuf di Eropa*

Eric Geoffroy

Konferensi di Universitas Kolumbia

Abad Pertengahan

Ketika kontribusi ilmiah, filsafat, dan teologi dari peradaban Islam kepada Eropa Pertengahan merupakan suatu fakta baku dan mendapatkan pengakuan relatif di kalangan masyarakat Barat, pengaruh tasawuf dan spiritualitas Islam secara umum, pada Eropa Daratan tidak dikenal. Kami memiliki sejumlah bukti di lapangan ini, namun juga banyak titik simpang perihal cara yang di dalamnya transmisi antara Timur dan Barat terjadi. Hal ini terutama karena kenyataan bahwa tasawuf adalah ilmu yang subtil, suatu disiplin esoteris yang sering dirahasiakan (sirr, dalam bahasa Arab).

Mari kita ambil contoh Ibn Sab’in (abad ke-13), yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Ceuta—suatu komuni Spanyol di bagian utara Maroko. Sebagai seorang filosof dan logikawan, ia dikenal karena pernah menjawab Sicilian Questions-nya Frederic II dari Hohenstaufen, kaisar Jerman dan raja Sicilia, yang merupakan mangsa bagi persoalan metafisis dan pencarian solusi dalam pemikiran Islam. Akan tetapi, Ibn Sab’in juga seorang Sufi dan guru ruhani penting, bahkan lebih berani daripada Ibn ‘Arabi mengenai doktrin Sufi wahdat al-wujud, yang ia sebut “Kesatuan Mutlak” (al-wahdah al-mutlaqah). Baca lebih lanjut

Anak-anak dan Kenakalan Mereka

Suatu pagi, saya mendapat long message bukan short message lagi dari A Ipin mengenai kenakalan anak-anak. Begini pesannya:

Senin sore, 1September 2008

Saya ditelpon seorang guru untuk sebuah kabar yang terlalu membebaninya: dua tahun yang lalu, di kelas 6, seorang muridnya dibawa masuk ke kamar mandi oleh empat temannya. Di dalam ia dipaksa telanjang untuk difoto dengan menggunakan kamera di HP. Ortunya teramat marah: mengancam sengit kami, berjanji mempidanakan, … beruntung kami masih dipersilakan menyelesaikan. Dengan catatan, kami membawa kabar gembira dalam penyelesaian kasusnya. Apa yang dimaksud kabar gembira, kami hanya menduga: pengakuan dari keempat anak dan permohonan maaf. Baca lebih lanjut

Menghilangkan “Aku”, Menghadirkan Allah

Muhammad Bagir, MA. –

Dosen Filsafat, Islamic College for Advanced Studies (ICAS)

Dalam kehidupan modern, sering dibedakan antara kebenaran Tuhan dengan kebenaran manusia. Sehingga teologi harus diturunkan pada level kemanusiaan (antropomorfisme) . Ketuhanan baru berarti, jika mampu
menyelesaikan dan berangkat dari paradigma kemanusiaan. Sampai-sampai sekularisme mensyaratkan “hilangnya Tuhan” demi kemajuan dunia.

Kita tentu bertanya, bagaimana bisa ciptaan terbebas dari pencipta? Bisa kata Newton, sebab alam seperti jam yang memiliki mesin sendiri. Jadi, setelah Tuhan mencipta “jam” itu, maka Dia dianggap nganggur.
Manusia dengan akalnya telah mampu melihat dan bahkan menguasai mesin (hukum alam) yang membuat jam berdetak. Maka dimana lagi tersedia ruang bagi Tuhan?

Adalah Muhammad Bagir MA, dosen filsafat dan tasawuf pada Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta, yang menjadi salah satu garda depan, dari pihak yang mengritik paradigma ini. Melalui filsafat perenial, sebuah disiplin keilmuan yang menggabungkan antara rasionalitas filosofis dengan dimensi irfani dari tasawuf, ia mencoba mengklarifikasi salah paham akal modern, yang menciptakan degradasi makna berpikir, dari intelek (akal batin), kepada reason (rasio).
Baginya, pemisahan antara akal dan jiwa inilah yang membuat manusia modern, menjadi tuhan-tuhan kecil diatas bumi, yang sayangnya tak mampu melepaskan diri dari jerat samsara (kesengsaraan) , akibat kedunguan spiritualitas, dan arogansi egoisme. Meminjam Lukacs, manusia modern tengah mengalami transcendental homelessness: hilangnya hubungan harmonis dan keterkaitan batiniyah dengan dunia.
Orang tidak lagi menemukan makna dan tujuan hidup, justru ketika berbagai alat kemanusiaan telah dikuasai. Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan dosen kelahiran Singapura dan lulusan Universitas Qum
Teheran tersebut.

Menurut Mas Bagir, bagaimana tasawuf bisa menjelaskan, bahwa ketika berada di jalan Tuhan, maka kita bisa menyelesaikan masalah dunia (kemanusiaan) ?
Kita lihat dalam Kristen dulu ya. Dalam Kristen, the word (kalimat) itu mendaging, meat, flesh. Antropomorfisme. Maknanya, Tuhan turun dalam form manusia. Ketika Tuhan turun dalam form manusia, sepertinya Tuhan merasakan kesengsaraan manusia. Dia mau menunjukkan, bahwa Aku dalam form manusia bisa menyelamatkan kalian dari kesengsaraan. Tuhan berkata, bahwa ketika manusia terhubung dengan Aku, mereka bisa selamat, salvation. Sementara dalam Islam kan teo-morfisme, bukan antropomorfisme. Tuhan tidak “mendaging” dalam manusia, tetapi manusia melangit. Jadi teo-morfisme merupakan tajalli Tuhan. Perbedaannya ada tapi tidak mencari mana yang benar mana yang salah. Disini manusia jadi tajalli-nya Tuhan. Berarti manusia jadi refleksi. Dan ketika manusia menjadi tajalli Tuhan, dirinya sendiri sudah tidak ada lagi. Jadi dalam Islam, manusia bisa menghilangkan individualisme untuk mencapai pada the divine (ketuhanan). Baca lebih lanjut

Insan Kamil: Kemaslahatan Manusia

Di bawah ini saya kutipkan salah satu pasase dari buku kami, Dicintai Allah dengan Shalawat, yang diterbitkan oleh Arifa Publisher. Harga buku Rp 34.900,- Bagi pembaca blog yang berminat pada buku ini silakan kontak ke: 0813 1049 6012 (Retno)

Siapakah sebenarnya Nabi Muhammad saw? Pertanyaan ini tampaknya tidak akan pernah bisa dijawab sampai tuntas. Sebab, tak seorang pun menggaransi mampu mencapai penjelasan tentang hakikat sepenuhnya diri Muhammad saw. Yang mengetahuinya hanyalah Allah Swt, Sang Pemberi dan Mahatahu. Realitas tertentu yang dapat diketahui oleh seseorang tentang Rasul-Nya ialah sebatas yang sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah semata, sebagai sumber ilmu dan pendidik sejati. Karena itu, pemahaman, cara memandang dan bersikap terhadap Rasulullah saw pun tidak selalu sama. Kalau mau jujur, untuk menjelaskan siapa sesungguhnya (jati)dirinya sendiri saja –secara sempurna dan detail– seseorang sudah cukup sulit, apalagi untuk seorang insan kamil, Muhammad saw, tentu mustahil. Baca lebih lanjut

Memohon Ampun kepada Allah

Berikut ini saya kutipkan salah satu pasase dalam buku terjemahan saya yang terbaru, KASIDAH CINTA UNTUK RAMADHAN, yang diterbitkan oleh Tahira (lini dari Madia Publisher) Agustus 2008. Pengarangnya, Jameel Kermali dan kawan-kawan, membahas persoalan puasa dan shalat. Harga Rp 49.500,-

Bulan suci Ramadhan merupakan kesempatan luar biasa agar dosa-dosa kita diampuni Allah. Berkah dan rahmat Allah begitu melimpah dalam bulan ini hingga siapa saja yang sungguh-sungguh bertaubat di bulan ini, menjadi bebas dari dosa-dosa pada akhir bulan suci tersebut sebagaimana ketika ia dilahirkan. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan yang diberikan kepada kita oleh Yang Mahakuasa, suatu kesempatan untuk membersihkan dan menyucikan diri kita dari kotoran dosa-dosa dan kejahatan. Rasulullah saw telah memberikan wejangan kepada kaum mukmin: ”Wahai manusia… punggung kalian retak karena memikul beban berat dari dosa-dosa kalian, maka rebahkanlah diri kalian bersujud di haribaan-Nya (dalam bulan Ramadhan) dengan memanjangkan sujud kalian, dan buatlah beban pikulan kalian menjadi lebih ringan.” Baca lebih lanjut