Hukum Truk Sampah

Dari sms teman (mohon maaf jika pernah di media manapun):

Suatu hari saya naik sebuah taksi dan menuju ke bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Supir taksi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut. Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya dan memaki ke arah kami. Supir taksi hanya tersenyum dan melambai pada orang tersebut.

Saya sangat heran dengan sikapnya yang bersahabat. Saya bertanya, “Mengapa Anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil Anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah saki!” Saat itulah saya belajar dari supir taksi tersebut mengenai apa yang kemudian sebut “Hukum Truk Sampah”. Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya dan seringkali mereka membuangnya kepada Anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja. Lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan… [sampai sini sms-nya terpotong. tapi pembaca bisa menduga arah ke mana pembicaraan supir itu, bukan?]

Nasihat-Nasihat Ibn ‘Arabi (3): Tentang Diam

ADA dua macam diam: pertama, diam lisan dari berbicara tentang selain-Allah Swt dengan oknum selain-Allah secara sekaligus; kedua, diam hati dari hal-hal yang muncul di hati mengenai yang maujud, diam sama sekali.  Barangsiapa lisannya diam tetapi hatinya tidak, maka dosanya akan ringan. Barangsiapa lisannya diam dan juga hatinya diam, maka yang rahasia akan menjadi jelas baginya, dan Allah akan menjadi jelas pula baginya. Barangsiapa hatinya diam tetapi lisannya tidak, maka dia akan berkata dengan hikmah. Barangsiapa yang lisan dan hatinya tidak diam, maka itu adalah kekuasaan setan dan ia tunduk kepadanya. Baca lebih lanjut

Berkah Materi dan Spiritual Zikir Salawat

Tuan Muhammad Azadegan termasuk salah seorang penyair di zaman kita. Ia tinggal di kota Qum. Syair-syairnya yang berkenaan dengan keluarga Nabi banyak digunakan oleh para pemuji Ahlulbait.

Sudah sejak lama ia sangat senang dengan hal-hal yang bersifat spiritual. Ia banyak menghadiri mejelis-mejelis orang besar.

Suatu hari ketika saya sedang bersamanya ia berkata, “Setiap pekerjaan yang saya jalani tidak langgeng, dan kehidupan saya tidak teratur. Saya dengar Anda hendak berangkat ke Masyhad, saya minta supaya Anda mendoakan saya secara khusus. Di samping itu, jika di sana Anda bertemu dengan Tuan Mujtahidi, tanyakan kepadanya, ‘Kesalahan saya di mana, dan apa yang harus saya lakukan supaya saya dapat terlepas dari keruwetan ini?’” Baca lebih lanjut