Suatu Sore

Seorang teman lama-lama tiba-tiba mengontak Amuli. Setelah saling menanyakan “apa kabar, kabar apa”, kami akhirnya janjian untuk bertemu di kantor Amuli karena kebetulan dia akan pergi ke kota J untuk sebuah keperluan.

Pada hari X, teman datang setelah zuhur menemui Amuli. Arah pembicaraan semula membincangkan masalah-masalah remeh temeh sehari-hari sampai akhirnya kami tiba di sebuah tema yang mengasyikkan yang menjadi perhatian kami selama sewindu belakangan ini. Dia berkisah bahwa dia merasa sudah lama tidak mengikuti kajian-kajian pemikiran, khususnya esoterisme. Di kota B, katanya, sudah tidak menemukan lembaga dan figur yang bisa memenuhi kebutuhannya itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Tentang Rahmat Ilahi

syekh-akbar-ibn-arabi1

Bukalah hatimu untuk menerima rahmat Ilahi. Hati yang penuh kasih menjadi cermin tempat karunia Allah menjelma, saat karunia Ilahi menjelma dan muncul melalui engkau, ketika engkau merasakan kehadiran-Nya, engkau akan merasa malu atas perbuatan-perbuatanmu yang tidak patut. Hal ini akan menjadikan engkau dan yang lainnya memiliki kesadaran. Dengan begitu, rahmat akan menjagamu dan yang lainnya dari dosa. Baca lebih lanjut

Ummi, Himmah, dan Tasharruf: Perspektif Ibn ‘Arabi

Rabu malam tadi (19/11), seperti biasa, Amuli mengikuti kajian Fushush al-Hikam-nya Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Pembahasan malam itu adalah pasal Fashshu Hikmatin Malkiyyatin fi Kalimatin Luthiyyatin (atau “The Ringstone of the Wisdom of Mastery in the World of Lot”, kalau cara nulis bulenya. Habis agak susah untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia). Tema yang dibahas terfokus himmah (kekuatan ruhani seorang ‘ârif) dan tasharruf seorang ‘ârif (selanjutnya ditulis arif saja). Baca lebih lanjut

Konsep-konsep Kunci Metafisika Ibn ‘Arabi: Tanzih dan Tasybih

syekh-akbar-ibn-arabi

DALAM perspektif Ibn ’Arabi, sebagaimana kita baca, dualitas al-Haqq dan al-khalq bukanlah suatu dualitas wujud yang hakiki melainkan suatu dualitas dari apa yang kita sebut aspek-aspek yang berbeda. Aspek-aspek yang berbeda diidentifikasi dalam filsafatnya dengan apa yang disebutnya transendensi (tanzih) dan imanensi (tasybih). Dalam doktrin tanzih dan tasybih Ibn ’Arabi, tasybih tidak dipahami dalam arti bahwa Tuhan memiliki pendengaran atau penglihatan, atau tangan dan seterusnya, namun sebaliknya Dia imanen dalam seluruh pendengaran dan penglihatan. Ini merupakan imanensi-Nya. Di sisi lain, Esensi-Nya tidak terbatas kepada satu makhluk atau sekelompok makhluk yang mendengar dan melihat, namun dimanifestasikan dalam seluruh makhluk apa pun. Dalam artian ini, Tuhan adalah transenden karena Dia di atas seluruh limitasi dan individualisasi. Sebagai suatu substansi universal, Dia adalah Esensi dari semua itu. Dengan demikian, Ibn ’Arabi mereduksi tanzih dan tasybih kepada kemutlakan (ithlaq) dan keterbatasan (taqyid).

Secara empatik, Ibn ’Arabi menolak antropomorfisme dan korporealisme, dan doktrin inkarnasi (hulul) Kristen. Mengatakan bahwa Kristus adalah Tuhan adalah benar, katanya, dalam arti bahwa segala sesuatu yang lainnya adalah Tuhan, demikian juga mengatakan bahwa Kristus adalah putra Maria juga benar. Namun mengatakan, bahwa Tuhan adalah Kristus putra Maria adalah salah, karena ini mengimplikasikan bahwa Dia adalah Kristus dan bukan yang lain. Tuhan adalah Anda dan saya serta segala sesuatu yang lainnya di alam semesta. Dia adalah segala sesuatu yang dapat dipersepsi dan tak dapat dipersepsi; material ataupun spiritual. Adalah kufur untuk mengatakan bahwa Dia adalah hanya Anda atau saya sendiri atau hanya Kristus, atau membatasi-Nya dalam bentuk apa pun, bahkan dalam suatu bentuk konseptual.

Ketika seseorang mengatakan bahwa ia telah melihat Tuhan dalam sebuah mimpi dengan warna, ukuran, ataupun bentuk tertentu, segala yang ia ingin katakan adalah Tuhan telah menunjukkan Diri-Nya kepadanya dalam salah satu bentuk bentuk tak terbatas-Nya, karena Dia menjelmakan Diri-Nya dalam bentuk intelijibel juga dalam bentuk konkret. Jadi, apa yang sebenarnya orang itu lihat adalah bentuk Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.

Ibn ’Arabi memandang bahwa transendensi dan imanensi adalah dua aspek fundamental Realitas. Jika kita ingin menjelaskan Realitas atau Hakikat tidaklah cukup dengan hanya menjelaskan satu aspek saja. Al-Haqq yang darinya aspek transendensi dijelaskan sama dengan al-Khalq yang darinya imanensi ditegaskan, sekalipun (secara logis) Pencipta jelas berbeda dari yang diciptakan.

Meski Syaikh menegaskan bahwa segala sesuatu adalah Tuhan (dari aspek imanensinya), ia menjaga betul untuk tidak mengatakan sebaliknya. Tuhan adalah Ketunggalan di balik multiplisitas dan Realitas di balik Penampakan (dari aspek transendensinya). Ia mengatakan bahwa ia bukanlah transendensi sebagaimana ditegaskan oleh manusia yang menjabarkan bahwa watak hakiki Tuhan sebagai Yang Absolut. Bahkan transendensi yang paling abstrak (yang dikonsepsi manusia) adalah sebentuk limitasi, karena ia mengimplikasikan, setidaknya, eksistensi seorang penegas atau subjek selain eksistensi Tuhan. Lebih jauh, menegaskan sesuatu atas sesuatu berarti membatasinya. Karena itu, penegasan bahkan atas transendensi mutlak Tuhan adalah satu pembatasan atau limitasi. Penegasan, yang dilakukan oleh intelek, atas transendensi Tuhan hanya merupakan suatu jalan yang tepat dalam mengkontraskan dua aspek Realitas sebagaimana kita memahaminya, tetapi itu tidak menerangkan sifatnya.

Konsep-konsep Kunci Metafisika Ibn ‘Arabi: Tajali al-Haqq

Kata “tajali” (Ar.: tajalli) merupakan istilah tasawuf yang berarti ”penampakan diri Tuhan yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Istilah ini berasal dari kata tajalla atau yatajalla, yang artinya “menyatakan diri”.

Tajali merupakan poin poros dalam pemikiran Ibn ’Arabi. Sebenarnya, konsep tajali adalah pijakan-dasar pandangan-dunianya. Semua pemikiran Ibn ’Arabi ihwal struktur ontologis alam berkisar pada poros ini, dan dari situ berkembang menjadi sistem kosmik berjangkauan luas. Tidak ada bagian dalam pandangan-dunianya yang bisa dipahami tanpa merujuk pada konsep utama ini. Keseluruhan filsafatnya, secara ringkas, adalah teori tajali (Toshihiko Izutsu, 152)

Konsep tajali beranjak dari pandangan bahwa Allah Swt dalam kesendirian-Nya (sebelum ada alam) ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya. Karena itu, dijadikan-Nya alam ini. Dengan demikian, alam ini merupakan cermin bagi Allah Swt. Ketika Ia ingin melihat diri-Nya, Ia melihat pada alam. Dalam versi lain diterangkan, yakni dengan merujuk pada Hadis Qudsi kanzun makhfiyyan (Harta karun yang tersembunyi), bahwa Tuhan berkehendak untuk diketahui, maka Ia pun menampakkan Diri-Nya dalam bentuk tajali.

Proses penampakan diri Tuhan itu diuraikan oleh Ibn ’Arabi. Menurutnya, Zat Tuhan yang mujarrad dan transendental itu bertajali dalam tiga martabat melalui sifat dan asma (nama)-Nya, yang pada akhirnya muncul dalam berbagai wujud konkret-empiris. Ketiga martabat itu adalah martabat ahadiyah, martabat wahidiyah, dan martabat tajalli syuhudi.

Pada martabat ahadiyah, wujud Tuhan merupakan Zat Mutlak lagi mujarrad, tidak bernama dan tidak bersifat. Karena itu, Ia tidak dapat dipahami ataupun dikhayalkan. Pada martabat ini Tuhan—sering diistilahkan al-Haq oleh Ibn ’Arabi—berada dalam keadaan murni bagaikan kabut yang gelap (fi al-’amâ’); tidak sesudah, tidak sebelum, tidak terikat, tidak terpisah, tidak ada atas, tidak ada bawah, tidak mempunyai nama, tidak musammâ (dinamai). Pada martabat ini, al-Haq tidak dapat dikomunikasikan oleh siapa pun dan tidak dapat diketahui.

Martabat wahidiyah adalah penampakan pertama (ta’ayyun awwali) atau disebut juga martabat tajali zat pada sifat atau faydh al-aqdas (emanasi paling suci). Dalam aras ini, zat yang mujarrad itu bermanifestasi melalui sifat dan asma-Nya. Dengan manifestasi atau tajali ini, zat tersebut dinamakan Allah, Pengumpul dan Pengikat Sifat dan Nama yang Mahasempurna (al-asma al-husna, Allah). Akan tetapi, sifat dan nama itu sendiri identik dengan zat. Di sini kita berhadapan dengan zat Allah yang Esa, tetapi Ia mengandung di dalam diri-Nya berbagai bentuk potensial dari hakikat alam semesta atau entitas permanen (al-’a’yan tsabitah).

Martabat tajalli syuhudi disebut juga faidh al-muqaddas (emanasi suci) dan ta’ayyun tsani (entifikasi kedua, atau penampakan diri peringkat kedua). Pada martabat ini Allah Swt bertajali melalu asma dan sifat-Nya dalam kenyataan empiris atau alam kasatmata. Dengan kata lain, melalui firman kun (jadilah), maka entitas permanen secara aktual menjelma dalam berbagai citra atau bentuk alam semesta. Dengan demikian, alam ini tidak lain adalah kumpulan fenomena empiris yang merupakan lokus atau mazhar tajali al-Haq. Alam yang menjadi wadah manifestasi itu sendiri merupakan wujud atau bentuk yang tidak ada akhirnya. Ia tidak lain laksana ’aradh atau aksiden (sifat yang datang kemudian) dan jauhar (substansi) dalam istilah ilmu kalam. Selama ada substansi, maka aksiden akan tetap ada. Begitu pula dalam tasawuf. Menurut Ibn ’Arabi, selama ada Allah, maka alam akan tetap ada, ia hanya muncul dan tenggelam tanpa akhir.