Ummi, Himmah, dan Tasharruf: Perspektif Ibn ‘Arabi

Rabu malam tadi (19/11), seperti biasa, Amuli mengikuti kajian Fushush al-Hikam-nya Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Pembahasan malam itu adalah pasal Fashshu Hikmatin Malkiyyatin fi Kalimatin Luthiyyatin (atau “The Ringstone of the Wisdom of Mastery in the World of Lot”, kalau cara nulis bulenya. Habis agak susah untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia). Tema yang dibahas terfokus himmah (kekuatan ruhani seorang ‘ârif) dan tasharruf seorang ‘ârif (selanjutnya ditulis arif saja).

Waktu itu pembahasan pada pasase pertanyaan seseorang kepada Syaikh al-Akbar mengenai pernyataan Nabi Luth as: Law anna li bikum quwwatan aw âwî ilâ ruknin syadîd(in) (“Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).” (11:80). Pertanyaannya:

What would block him from an effectual willpower, seeing that such is to be found amongst the travelers, who are followers, and since the messengers are more properly possessed of it? We would say that you have spoken truthfully, but fall short with respect to another aspect of knowledge, which is that knowledge does not leave willpower (tasharruf) any disposal. As one’s knowledge (ma’rifat) grows his disposal through willpower diminishes. This is so for two reasons. The first reason is that one realizes the station of slavehood (‘ubudiyyat) and contemplates the origin’s of one’s own natural creation.1

Dalam jawabannya itu, Syaikh mengatakan bahwa ada satu hal yang dilupakan oleh si penanya, yakni masalah makrifat (ma’rifat). Ketika kesadaran dan makrifat manusia semakin tinggi dan meningkat, tasharruf-nya akan melemah.

Ibn ’Arabi memberikan penjelasan melalui tiga kata kunci: makrifat, al-himmah, dan al-tasharruf. Makrifat adalah kesadaran akan kekosongan dirinya (the emptiness); al-himmah adalah suatu kekuatan spiritual yang sebenarnya merupakan suatu kualitas Ilahi (Divine Quality) [yang sesuai dengan ungkapan pengharapan Nabi Luth as]. Al-Himmah adalah puncak kekuatan kehendak. Dari sini, akan muncul kemampuan untuk melakukan tasharruf, yakni kemampuan untuk menembusi dan mempengaruhi atau mewujudkan kesan dan efek pada sesuatu. Misalnya, Nabi Musa as membelah lautan, Rasulullah saw membelah bulan dan seterusnya.

Jadi, ketika seorang arif telah menyadari bahwa dia kosong di hadapan al-Haq Yang Mutlak, maka segala kualitas dan aktivitas yang menampakkan suatu eksistensi akan mulai menghilang dari dirinya. Dia tidak lagi kelihatan kuat. Malah akan lebih kelihatan lemah dan tak berdaya. Inilah apa yang Syaikh maksudkan dengan aktualisasi maqam al-‘ubudiyyah (one realizes the station of slavehood). Maqam ini adalah kekosongan eksistensial atau vacaro deo (emptying for God). Saat dia menyadari akan kekosongan dirinya, maka dia akan tunduk di hadapan al-Haq dan akan menurut segala perintah dan kemauan al-Haq.

”Karena itu, dalam konteks Nabi Muhammad,” kata pengajar Fushush, ”beliau tidaklah buta huruf. Ummi yang dinisbatkan pada Nabi saw bukanlah buta huruf dalam arti harfiah melainkan ’kosong dari keakuan’. Yang ada hanyalah al-Haq. Beliau melakukan tasharruf sejauh itu memang diperintahkan oleh Dia.”

Entahlah, akhirnya pikiran Amuli melayang ke suatu peristiwa bagaimana Imam Ali Ridha mengeluarkan uang emas dari tanah yang diberikan kepada pengikutnya. ”Jadi, dalam konteks itu, Imam Ridha pun tengah mengekspresikan kehendak-Nya. Bukan kehendak ia sendiri untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Oh, pantaslah mengapa para nabi dan para imam suci itu lebih sering tampil sebagai seorang hamba, penegak syariat ketimbang sebagai manusia-Tuhan. Mukjizat, karamah, dan sejenisnya tak lain hanya keluar ketika al-Haq sendiri yang menghendakinya,” batin Amuli.

Dalam penjabaran berikutnya, Muhyiddin Ibn ’Arabi menyatakan bahwa para arif tidak mengaktifkan al-himmah dan al-tasharruf karena subjek tasharruf (al-mutasharrif) dan objek tasharruf (al-mutasharraf fihi) tidak beda. Keduanya kosong di hadapan al-Haq.

Maunya sih bercerita banyak. Tapi Amuli ingin mengendapkan semua pemikiran ini.



1 Makalahnya sih sudah berbahasa Indonesia. Hanya Amuli merujukkannya ke bahasa Inggris—yakni The Ringstones of Wisdom (Fusus al-hikam), terjemahan Caner K. Dagli, hal.140—karena bahasa Arabnya tidak punya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s