Konsep-konsep Kunci Metafisika Ibn ‘Arabi: Al-Haqq dan al-Khalq

KATA al-Haqq dalam karya-karya Ibn ’Arabi memiliki beberapa pengertian yang berbeda dalam konteks-konteks yang berbeda juga. Dalam hal ini, makna al-Haqq yang dibicarakan dibatasi dalam konteks hubungan ontologis antara al-Haqq dan al-khalq. Dalam konteks ini, al-Haqq adalah Allah, Sang Pencipta, Yang Esa, wujud, dan wajib al-wujud. Sementara, al-khalq adalah alam, makhluk, yang banyak, al-mawjudat dan al-mumkinat.

Menurut Ibn ’Arabi, hanya ada satu Realitas. Realitas ini kita pandang dari dua sudut yang berbeda. Ketika kita menganggapnya sebagai Esensi dari semua fenomena, Realitas itu kita namai al-Haqq (the Real). Sementara, ketika kita memandangnya sebagai fenomena yang termanifestasi dari Esensi tersebut, kita menyebutnya al-khalq. Al-Haqq dan al-khalq, Realitas dan Penampakan, Yang Satu dan Yang Banyak hanyalah nama-nama untuk dua aspek subjektif dari Realitas Tunggal.

Lantas, apakah hubungan ontologis antara al-Haqq dan al-Khalq, antara Allah dan alam, antara Sang Pencipta dan ciptaan, antara Yang Satu dan Yang Banyak? Sebelumnya, dalam masalah wujud, telah disebutkan bahwa satu-satunya wujud adalah Allah; tidak ada wujud selain wujud Allah. Dengan kata lain, wujud dalam pengertian hakiki hanya milik al-Haqq. Segala sesuatu selain al-Haqq sesungguhnya tidak memiliki wujud. Karena itu, wujud hanya satu yaitu al-Haqq. Jika satu-satu wujud adalah al-Haqq, bagaimana kedudukan ontologis al-khalq? Apakah alam identik dengan Tuhan? Atau, apakah alam tidak mempunyai wujud sama sekali? Baca lebih lanjut

Ali bin Abi Thalib dan Tasawuf

Caner K. Dagli

“Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya,” (Nabi saw)

Tidak ada satu tokoh dalam sejarah Islam awal, selain Nabi sendiri, yang menjadi pusat kontroversi dan perdebatan seperti Ali bin Abi Thalib. Kontroversi ini muncul pada lebih dari satu tataran, mulai dari persoalan-persoalan politik dan sejarah hingga masalah-masalah di bidang teologi dan metafisika. Keluasan intelektual dan kedalam spiritual Ali telah mengilhami seluruh penjuru dunia Islam, baik Sunni maupun Syi’i, dan sekalipun banyak konflik di antara kedua mazhab besar Islam ini yang berpusat pada pribadi Ali, satu pihak tidak pernah bisa menuduh yang lain kurang memiliki kecintaan dan penghormatan kepadanya. Dalam hal ini, secara paradoks, Ali menyatukan kaum Muslim dalam kecintaan mereka kepadanya, tetapi sentralitasnya dalam sudut pandang yang berlawanan menjadikannya sumber perselisihan yang serius. Baca lebih lanjut