Resolusi 1430

Sepanjang tahun 1430, aku ingin menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tertunda, di antaranya:

1. Menyelesaikan tesis (masih jauh, baru Bab IV. Kabarnya, Paramadina akan menyelenggarakan wisuda bulan Maret. Artinya, aku harus rampungkan tesis sebelum bulan itu)

2. Merampungkan beberapa rancangan buku seperti Rahasia Tasbih az-Zahra (kerja sama dengan teman), Metode Suluk (kerja sama dengan teman), Tema-tema Inti Nahj al-Balaghah (kerja sama dengan teman), dan 40 Perbincangan Ruhani bersama Muhyiddin Ibn ‘Arabi dan Para Muridnya (proyek pribadi).

3. Menyelesaikan terjemahan Syarah Ziarah Jami’ah al-Kabirah yang niatnya akan kuhadiahkan kepada kedua orangtuaku, Jalaluddin Rumi, dan Imam Hasan Askari [menurut sebagian versi]–kedua orang ini sama-sama diriwayatkan lahir pada 6 Rabiul Awal, yang merupakan tanggal kelahiranku. Di samping itu, Imam Hasan Askari adalah pemilik hari Kamis [hari kelahiranku], menurut riwayat Imam Ali Hadi as. Artinya, terjemahan ini harus selesai menjelang HUT-ku (!) dan akan kuhadiahkan kepada orang-orang dekatku. Syukur-syukur ini bisa dicetak oleh penerbit.

4. Menyekolahkan istriku ke salah satu perguruan tinggi terbuka.

Ini 4 agenda utama yang ingin kuselesaikan pada tahun 1430 H. Semoga Allah memperkenankan.

Iklan

Dialog dengan Mr Bruce: Beriman tanpa Nalar

Seorang teman di Bandung mengajak saya untuk berdialog dengan Mr Bruce. Kabarnya, ia seorang konsultan pendidikan untuk sekolah bertaraf internasional. Tentu saja, bukan dalam rangka masalah pendidikan kami datang ke rumahnya. Datangnya saya ke sana karena kata teman saya ia seorang yang terbuka dalam persoalan agama. Bruce sering sowan ke tetangga-tetangganya. Barangkali karena teman saya ini cukup terbuka dalam dialog lintas iman dibandingkan dengan tetangga-tetangganya, Bruce sering berkunjung ke teman saya itu.

Akhirnya, berbarengan dengan datangnya musim liburan sekolah anak-anak, saya dan teman datang ke rumahnya. Semula saya memperkenalkan profesi (!) saya dan penjelajahan bacaan saya menyangkut agama perennial, Frithjof Schuon, Huston Smith, Annemarie Schimmel. Maksudnya, dengan mengawali pembicaraan tersebut, saya mendeklarasikan secara tidak langsung bahwa saya cukup mampu untuk berdialog lintas iman. Baca lebih lanjut

Hari Ibu

Ribut-ribut soal Hari Ibu, aku merasa engkau melupakan sesuatu. Benar, sesuatu itu adalah sosok Dewi Sarika, seorang pejuang hak-hak keperempuanan dari Bandung. Hari lahirnya, yang jatuh pada 22 Desember, dijadikan sebagai Hari Ibu. Namun agaknya pemaknaan tentang Hari Ibu lari ke mana-mana. Di sini aku ingin bicara tentang dua hal, yakni fenomena Hari Ibu kontemporer dan sosok Ibu itu sendiri. Baca lebih lanjut

Obat Kuat [Senggama] Itu

Suatu hari seorang teman mempromosikan sesuatu yang biasanya akrab dengan dunia lelaki: obat kuat. Teman itu menyebutnya ‘Hajar Jahannam’. Lebih kurang berarti ‘batu neraka’. Dengan mendengar promosinya itu, bahwa obat itu adalah sejenis batu halus yang apabila dioleskan ke kepala zakar (maaf) maka si laki bisa main 1,5 jam apabila ‘main’ dengan pasangannya (saya sudah membuktikannya, kata si teman), maka wajarlah jika obat itu digelari ‘batu neraka’. Yakni, ‘neraka’ bagi si perempuan dan ‘surga’ bagi laki (batin saya). “Harganya,” kata si teman, “Rp 250.000,-” Baca lebih lanjut