Allah Memberikan Tiga Kesempatan untuk Hamba dalam Shalat

Diriwayatkan Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Ketika seorang hamba shalat, Allah Swt akan memalingkan wajah-Nya kepada hamba dan selalu memperhatikannya sampai hamba-Nya berpaling dari Allah sebanyak tiga kali, dan ketika hamba berpaling tiga kali, maka ketika itulah Allah juga akan berpaling darinya.”

Ayatullah Mojtaba Tehrani menjelaskan hadis tersebut dan mengatakan, “Itu adalah terjemahan tekstual dari riwayat tersebut, dan akan saya kemukakan beberapa poin. Pertama, jelas sudah bahwa ketika hamba menghadap dan memalingkan muka kepada Allah Swt, maka Allah juga akan berpaling kepadanya. Inilah inti dari riwayat tersebut. Baca lebih lanjut

Shalat Syariat dan Shalat Thariqah

Syekh Abdul Qadir Jailani

Shalat syariat, Anda sudah tahu ayat: Peliharalah segala shalat(mu)…(2: 238 ) yang di sana tentu ada rukun-rukun shalat secara lahiriah dengan gerakan-gerakan jasmani, seperti berdiri, rukuk, sujud, duduk, suara dan lafaz yang diucapkan. Semua itu masuk dalam ayat, “Peliharalah segala shalatmu…” Sedangkan shalat thariqah adalah shalatnya kalbu, yaitu shalat yang diabadikan. Dalam frase ayat itu dikatakan, “Dan (peliharalah) shalat wusthâ (yang di tengah…).

Shalat wusthâ adalah shalatnya kalbu karena kalbu itu diciptakan posisinya di tengah, antara kanan dan kiri, antara bawah dan atas, antara bahagia dan sengsara, sebagaimana sabda Nabi saw : “Kalbu berada di antara dua jemari dari Jemari-jemari
ar-Rahman, yang Allah bolak-balikkannya semau-Nya…” (HR. Muslim dan juga dikutip oleh al-Ghazali dalam al-Ihya’).


Yang dimaksud dengan “dua jemari” adalah dua sifat-Nya: al-Qahr (Yang Maha Memaksa) dan al-Luthf (Yang Mahalembut) karena sebab Allah Mahasuci dari jari-jemari. Jelaslah, maksud ayat tersebut adalah shalat kalbu. Apabila shalat kalbu rusak, maka shalatnya pun rusak termasuk shalat jasmaninya sebagaimana hadis Nabi saw, “Tidak ada shalat melainkan dengan hati yang hadir di hadapan Allah.”

Orang yang shalat bermunajat kepada Tuhannya, dan tempat munajat itu kalbu (hati). Jika hatinya alpa, maka rusak pula shalatnya. Hati adalah pokoknya, yang lain hanyalah pengikutnya, sebagaimana dalam hadis Nabi saw: “ Ingatlah! Sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal daging. Apabila ia bagus, maka bagus pula seluruh jasadnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ingatlah, ’daging’ itu adalah kalbu…” (HR. Bukhari). Baca lebih lanjut

Al-Quran: Kitab untuk Insan

Bahauddini

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah saja yang semisal al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar. (QS. al-Baqarah: 23)

Membangun Insâniyah, Salah Satu Mukjizat Al-Quran

Sebagian mutakallimîn (teolog Islam) mengatakan bahwa al-Quran itu mukjizat, tidak ada menandinginya. Mengapa? Karena Allah Swt telah melumpuhkan semua kekuatan para penentang al-Quran secara mutlak. Bahkan mereka takkan mampu menandingi, meski terhadap satu surah yang paling pendek dari al-Quran. Kaum musyrikin yang selalu bekerja keras dan menguras pikiran, jika mereka berupaya untuk melawan al-Quran, maka mereka tidak akan bisa melawannya. Demikianlah interpretasi para ahli ilmu kalam. Mukjizat al-Quran antara lain adalah kefasihan dan balâghah-nya yang berada di tingkat paling atas, sebagaimana pengakuan mutakhashisîn (orang-orang yang menekuni bidang khusus sastra).

Akan tetapi, mukjizat al-Quran bermacam-macam. Salah satunya adalah cakupannya yang membangun dan membentuk (kepribadian) individual dan masyarakat. Ringkasnya, al-Quran membangun manusia. Peralatan senjata tidak mampu membangun manusia. Bimbingan Ilahi, insani dan Quranilah yang membangun manusia. Ketahuilah bahwa sumber fasad (kerusakan di muka bumi) adalah karena manusia tidak dibangun. Jika manusia dibangun—seperti para nabi as dan para imam as—maka kaum dhuafa akan terangkat dari kemiskinan. Hewan-hewan pun akan terpelihara dan aman dari gangguan. Baca lebih lanjut

Hakikat Ubudiyah [2]

Hanya kepada-Mulah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan (QS. al-Fâtihah:5)

Ma`bud Mutlak

Allah Swt adalah kekuasaan, kebijaksanaan, kasih sayang, dan cahaya mutlak. Kita adalah hamba-Nya. Meskipun kita tidak mampu menggapai hakikat Maujud Yang Mahamutlak ini namun kita mengakui bahwa kita adalah hamba-Nya. Ketidakmampuan memahami Sumber cahaya ini adalah disebabkan pada diri manusia terdapat hijab-hijab yang menghalangi.

Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. al-Baqarah: 7) Baca lebih lanjut

Hakikat Ubudiyah [1]

Hanya kepada-Mulah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan. (QS. al-Fâtihah:5)

Penghambaan

Dunia adalah tempat penghambaan kepada Allah dan penghambaan kepada setan. Manusia yang menjadi hamba Allah, taat dan tunduk kepada Allah. Para nabi, para imam, orang-orang saleh, orang-orang yang bertakwa dan ulama, mereka adalah hamba-hamba Allah. Sedangkan para tiran, orang-orang bodoh, orang-orang rendah dan hina, para penumpah darah dan orang-orang yang tidak bertakwa, mereka adalah para pengikut dan hamba setan. Penghambaan kepada Allah dan ketaatan kepada setan, masing-masing memiliki pengaruh dan penampakan yang berbeda. Baca lebih lanjut