Wr

Hampir 12 tahun aku mengenalnya di kota B, tempat aku berkuliah. Kedekatanku dengannya, di samping karena aspek teologi, kemungkinan didorong oleh tempat kelahiran kami yang sama, kota T. Sejak tahu bahwa dia berasal dari kota T, secara emosional hubungan kami sudah tidak formalistis lagi pada dia jelas lebih tua beberapa tahun dariku.

Perkenalanku dengannya memang tak sengaja ketika aku tengah lagi “panas-panasnya” mencari suatu  formulasi teologis yang lebih rasional yang selama ini tak kudapatkan di kota T. Memang di kota T sendiri , aku pernah terlibat aktif di sebuah forum studi antarpelajar yang kegiatannya mencakup penyelenggaraan kelompok belajar hingga pesantren kilat. Salah satu mentorku saat itu adalah Aripin Ali. Dalam kajian keagamaan kami (waktu itu masih SMA lho!) sudah menggunakan referensi kitab putih (!) dari berbagai aliran, namun tampaknya pendekatan filsafat yang mendominasi forum studi kami. Di bawah Aripin Ali, atau sebut saja AA, kami dihantarkan ke pemikiran Muthahhari, terutama, dan Ali Syari’ati.

Rupanya pelajaran yang kutelaah dari AA ini membawaku untuk mengenal lebih dekat kepada para pengagum Muthahhari di kota B. Tentu saja, di antaranya W. Bersama teman-teman sekomplek, waktu itu aku sudah berumah di PMI (Pondok Mertua Indah, heheh), aku dan W mengaktifkan majlis taklim. Mulai diskusi persoalan yang pelik hingga persoalan dapur. Namun, karena masing-masing orang pada akhirnya menemukan jalan masing-masing dalam urusan nafkah, urusan majlis taklim ini akhirnya pun terbengkalai.

Nah, di antara yang paling lambat dalam hal urusan kemajuan materil, tampaknya W yang paling rapuh. Hingga kini aku berkawan dengannya, parasnya semakin menua sementara kesusahan tetap begitu-begitu saja. Sering aku memberikan saran kepadanya agar terfokus pada satu mata pencarian dulu saja supaya bisa stabil. Kusarankan demikian, karena ia memang punya bakat yang banyak. Mulai dari seni, hingga masak. Intinya, pekerjaan yang membutuhkan tenaga praktis, rasanya ia memang pas di sana.

Kini menjelang anak pertamanya yang mau kuliah, kembali ia dihadapkan ke sebuah persoalan yang klasik (seklasik yang aku miliki…halah): kekurangan uang. Di tengah-tengah kerumitan persoalan mencari uang, “agak mewah” juga bagi kami untuk membicarakan masalah-masalah ketuhanan, tasawuf, spiritualitas dan lain-lain. Terakhir, di suatu pagi dia ber-sms kepadaku (nulisnya sih pake bahasa daerah): “Coba tunjukkan kepadaku bagaimana cara beribadah dengan menggunakan seluruh asma Tuhan?”

Mau bantu, wahai pembaca?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s