“Turba” SD Hikmah Teladan

Anak-anak kelas 2 akan menyerahkan uang tabungan amal mereka, keuntungan bazar dan hasil penjualan tiket Konser Amal ketiga lokasi. 1 lokasi adalah teman-teman mereka di MI (madrasah ibtidaiyah) yang bertetanggaan. Mereka akan melakukan perjalanan kunjungan dari MI ke rumah-rumah siswa MI yang tidak mampu. Wah, kemewahan pengalaman hidup.

“Ibu, aku ingin ke MI lagi,” pinta anak yang sedang kukorek pengalamannya pada gurunya. Mereka menangis memasuki rumah yang langsung ketemu dapur; rumah (lain) tempat tidur dengan ruang tamu dibatasi kursi; ibu yang jadi pembantu setelah bercerai; Perjalanan melalui daerah kumuh… Senang sekali rupanya tempat yang meminta air mata menjadi saksi.

“Gemuk, gemuk, dan Gemuk”

BEBERAPA hari terakhir saya mendapatkan cerita yang sama dari istri saya tentang salah seorang tetangga saya, si X, di komplek kami. Si X ini hampir setiap berjumpa dengan istri saya selalu mengatakan bahwa ia semakin gemuk. Istri saya pada awalnya menganggap angin lalu perkataan si X. Sampai pada suatu kejadian, si X ini mengatakan kepada istri saya bahwa, “Boleh jadi suamimu tidak mengatakan apa-apa tentang tubuhmu, tetapi dalam hatinya, siapa tahu?” (Halah, apalagi ini, dalam hatiku)

Mendengar cerita istri saya tersebut, saya hanya tersenyum simpul. Betapa tidak, betapa mudahnya manusia mengatakan sesuatu yang manfaatnya tidak jelas bagi dirinya. Mengomentari raga seseorang, coba kita pikir, apakah mempunyai nilai tambah pada diri si komentator? Secara duniawi, ia telah menyinggung si objek yang dikomentari, merusak silaturahim, dan sebagainya. Secara ukhrawi, ia telah mengambil dosa dan kesalahan yang dimiliki objek yang dikomentari; ia juga tengah membentuk makhluk lain di alam barzakh yang akan menjadi entitas dirinya kelak jika kebiasaan mencemooh itu menjadi hakikat dirinya, dan seterusnya. Namun, kesadaran yang kedua ini, agak kejauhan atau terlalu sering diluputkan.

Sebetulnya istri saya tidak reaktif. Apa yang diceritakannya kepadaku tak lebih karena hanya ingin curhat saja. Karena, istri saya tetap bersikap wajar ketika bertemu dan berbicara dengan si X. Dengan gaya sok filosofis, saya katakan kepadanya, sewaktu ia curhat kepada saya, bahwa setiap perkataan itiu memiliki wujud barzakhnya sendiri. Jika perkataan itu baik, maka ia akan bermanifestasi menjadi entitas barzakhi yang baik juga. Dan setiap orang diuji dengan perbuatannya. Kami menyayangkan si X yang hampir tiap minggu begitu antusias mengajak orang untuk taklim di mesjid, namun itu tidak banyak mengubah perilakunya. Kalau sikap itu terus dipelihara, maksudnya, ngaji jalan, ngomongin orang jalan, apa ka0ta Bu Nia? Orang pun mungkin akan segan untuk mengaji jika tak mengubah pribadi. Cape deh!

Ujung cerita, kami sepakat bahwa bergaul di masyarakat itu memang banyak seninya. Secara pribadi, saya jadi ingat, jangan2 saya juga suka ngomentarin raga orang juga? Wailaka!!!