Terlalu Banyak Duduk Undang Kematian

Para pakar kesehatan di London mengeluarkan peringatan mengejutkan: duduk itu mematikan. Mereka memperingatkan bahwa duduk dalam jangka waktu lama, meski Anda juga berolah raga secara teratur, dapat berakibat buruk bagi kesehatan.

Tempat Anda duduk pun tak jadi soal, entah di kantor, sekolah, mobil, serta di depan komputer atau televisi. Masalahnya adalah, berapa lama Anda melakukannya. Baca lebih lanjut

Iklan

Tanya Jawab dengan Para Pemuka Akbarian (I)

Berikut ini tanya jawab imajiner antara seorang calon peminat tasawuf dengan para pemuka Akbarian, yakni mazhab tasawuf yang mengikuti pandangan-pandangan Syekh Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi

Soal 1:
Bismillah. Dari Abu Dawud ra, dalam Jami al-Ushul karya Ibn Atsir, diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa aalihi wassalam) dan bala tentaranya mendaki gunung-gunung, mereka bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar). Ketika mereka turun, mereka bertasbih (mengucapkan Subhaanallah). … Sebetulnya, apa makna riwayat itu menurut Anda?

Shadr al-Din al-Qunawi, anak tiri dan murid Ibn ‘Arabi menjawab:
Ketahuilah, bahwa tinggi dan naik adalah keunggulan, dan itu termasuk takabur (menganggap diri besar). Jika keunggulan itu tampak, maka itu merupakan bentuk dari takabur. Jika keunggulan itu tersembunyi, maka itulah makna dari takabur. Karena kesombongan hanya milik Allah Swt semata dan karena ketika menaiki gunung-gunung itu suatu bentuk keunggulan itu ada dan muncul, maka pada saat tersebut disunahkan bertakbir. Yakni, bahwa Allah Yang Mahabesar dan Mahatinggi dari adanya sekutu di dalam kebesaran-Nya dalam bentuk yang mengisyaratkan persekutuan. Adapun perintah untuk bertasbih ketika turun, maka itu rahasia kesertaan yang ditunjukkan dengan firman Allah Swt, Dia bersamamu dimana saja kamu berada. (QS al-Hadid [51]:4) Baca lebih lanjut

The Islamic Notion of Mercy

William C. Chittick

Acquaintances of mine who have participated in recent dialogues between Christian and Muslim theologians, such as those organized by A Common Word, report that one of the biggest misunderstandings shown by Christian theologians is the notion that Islam has little or nothing to say about love.
One of the several reasons for this mistaken view is that the early Orientalists — those who first studied Islamic thought in the modern West — imagined that a school of thought known as “Kalam” played the same role in Islam as “theology” does in Christianity. In fact, Kalam has been one of several approaches to knowledge of God, and certainly not the most influential.
Kalam was closely allied with Islamic jurisprudence and typically depicted God as the supreme law-giver. When it mentioned love, it claimed that God loves human beings by issuing commandments, and human beings love God by obeying him. Those who obey go to heaven, and those who disobey go to hell. God deals with human beings strictly in terms of carrots and sticks — forget about love in any normal meaning of the word.
Despite the fact that more recent scholarship has done a much better job of describing the diverse theological approaches of Islamic thought, this has had relatively little effect on the prejudices that Christian theologians picked up years ago in seminary. Pope John Paul II, with all his remarkable accomplishments, provides a good example. In Crossing the Threshold of Hope, he wrote, “The God of the Koran … is ultimately a God outside of the world, a God who is only Majesty, never Emmanuel, God-with-us.” (his emphasis) Baca lebih lanjut

HIKAYAT IBLIS (1)

Kisah Iblis sebagaimana diceritakan oleh Rasulullah saw

Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal ra, dari Ibnu Abbas ra yang berkisah:
Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa âlihi di rumah salah seorang sahabat Anshar, dimana saat itu kami di tengah-tengah jamaah. Lalu ada suara orang memanggil dari luar, “Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, sementara kalian butuh kepadaku?”
Rasulullah saw bertanya kepada para jamaah, “Apakah kalian tahu, siapa yang memanggil dari luar itu?”
Mereka menjawab, “Tentu Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Lalu Rasulullah saw menjelaskan, “Ini adalah iblis yang terkutuk itu—semoga Allah senantiasa melaknatnya.”
Kemudian Umar ra meminta izin kepada Rasulullah saw sembari berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku untuk membunuhnya?”
Beliau menjawab, “Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk makhluk yang tertunda kematiannya, sampai batas waktu yang telah diketahui (hari kiamat)? Akan tetapi, sekarang kalian membukakan pintu untuknya. Sebab ia diperintah untuk datang ke sini, maka pahamilah apa yang ia ucapkan dan dengarkan apa yang bakal ia ceritakan kepada kalian.” Baca lebih lanjut

Wasiat-wasiat Yesus

#Mengasihi Musuh# (Matius 5: 43-48)
43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

(Sumber: The True Gospel of Christ, karya Elijah Syekh, terbitan Citra, 2007, hal.55)

Mempersembahkan Makanan

Oleh : I Nyoman Putrawan, Tabanan

Manusia sepenuhnya tergantung pada makanan untuk mempertahankan hidupnya. Makanan merupakan sumber energi yang menunjang tenaga fisik dan mental. Dari makanan pula seseorang ditentukan sifat-sifatnya, tingkat agresifitas serta kecenderungan-kecenderungan lainnya. Ini disebabkan karena semua bahan makanan memiliki sifat khas masing-masing. Dengan memindahkan bahan makanan itu ke dalam tubuh secara sistematis pula zat-zat hidupnya menjadi susunan daging, otot, lemak, enzim dan hormon-hormon. Adanya gairah, tabiat dan keinginan munculnya dari energi penggerak dan energi ini sebagian bersumber dari makanan selain udara yang kita hirup serta zat-zat prana yang lebih halus. Vitalnya fungsi makanan membuat orang selalu mencari tahu tentang seluk beluk makanan dan cara memakannya yang efektif agar berguna optimal bagi tubuh dan pikiran. Dengan memahami arti hidup berkualitas baik jasmani maupun rohani, maka kebiasaan-kebiasaan leluhur terkait dengan makanan akan bisa dimengerti. Salah satu kebiasaan yang sering dianggap suatu “kebiasaan belaka atau hanya “kegiatan dogmatis” tanpa manfaat yaitu “ ngejot atau yajnasesa atau persembahan makanan setiap pagi seusai memasak. Aktivitas ritual makanan sering menjadi kegiatan mekanis saja, suatu rutinitas tanpa dibarengi kesadaran terhadap fungsi ritual
tersebut. Akibatnya ada banyak kekeliruan dalam pelaksanaannya dan berkurang pula manfaat yang dapat dinikmati. Baca lebih lanjut

Fashshu Hikmatin Muhayyimiyyatin fi Kalimatin Ibrahimiyyatin

Menurut riwayat Imam Ali Ridha as, tanggal 25 Dzulqa’dah adalah hari kelahiran Nabi Ibrahim as dan Nabi Isa as juga merupakan hari dibentangkannya bumi. Pada hari itu, kita disunnahkan juga untuk berpuasa. Sebagai tanda mata untuk Nabi kita, Ibrahim as, saya kutipkan pengantar RWJ Austin untuk Fashshu Hikmatin Muhayyimiyyatin fi Kalimatin Ibrahimiyyatin yang diambil dari the Bezels of Wisdom. Selamat menikmati bagi penikmat Ibn ‘Arabi.

arabi

Catatan Pengantar

Gelar tradisional dari patriarki Ibrahim adalah al-Khalil, yang biasanya diterjemahkan “sahabat”. Namun, Ibn ‘Arabi memahami kata ini dari makna derivasi lainnya dari akar kata khalla, yang berarti penembusan atau penetrasi. Jadi, dalam konteks ini, gelar Ibrahim agaknya berarti “seseorang yang ditembusi”, yaitu oleh Allah. Karena itu, persahabatan adalah jenis yang paling dekat; sesungguhnya Ibrahim, sebagaimana ditegaskan oleh judul, lebih seperti cinta yang mempesona yang pecinta seutuhnya ditembusi oleh yang dicintai.

Ibrahim: Yang Ditembus Allah

Pengarang kita ini selanjutnya menggunakan contoh Ibrahim untuk mengilustrasikan prinsip penembusan Ilahi secara umum. Jadi, kosmos dan masing-masing konstituennya, sebagai wujud yang secara total menerima Prinsip Ilahi, sepenuhnya ditembusi oleh agen Ilahi sebagai sesuatu yang implisit dan tidak eksplisit, sehingga kompleksitas penampakan dan keragaman kosmos menyembunyikan realitas Allah yang ada di mana-mana. Akan tetapi, seperti biasa, dia menegaskan kesalingterkaitan penembusan ini, karena hanya Allah yang secara implisit, hadir dalam penciptaan kosmis, sehingga penciptaan secara implisit dan esensial hadir di dalam Allah. Baca lebih lanjut