Break the Form, Lose the Donkey

From the Teachings of Mawlana Shaykh Kabbani
Sufi Meditation Center, Vancouver, BC

Bismillahi Rahmaani Raheem. Alhamdulillah sharing from Mawlana Shaykh’s teachings that; Allah (SWT) is describing, “I am not in the Heavens and I am not on this Earth, but I am in the heart of My believer, qalbun mum’in baytullah.” From Mawlana Shaykhs teachings, an important reality begins to open; whether it is the practise of going for Hajj and circumbulating the Ka’aba, or the praying, or the whirling and other expressions of our love through different practises; there is a reminder for myself that the Prophet (s) is teaching us from that holy hadith that Allah opens a nearness to Himself when the servant approaches through voluntary worship; then Allah (SWT) begins to love that servant, through his voluntary prayers. And the Prophet (s) describes that if Allah (SWT) dresses that servant with His love; their hearing will be from a Divine Hearing, from Allah’s Hearing; their seeing will be from Divine Seeing and their breathing will be from the Divine Breath. And also their speech will be from the Divine and Heavenly Words; their hands and their movement and every action will be dressed from the Divine Oceans. Baca lebih lanjut

Tukang Cuci

Seorang akademisi muda yang cerdas mengisi aplikasi untuk posisi manajerial di sebuah perusahaan besar. Dia lulus pada interview tahap pertama, dan tahap selanjutnya adalah interview dengan jajaran direksi. Sang direktur menemukan prestasi-prestasi cemerlang dalam CV anak muda tersebut. Sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, anak muda tersebut selalu mendapat peringkat pertama. Baca lebih lanjut

On Loving Money

by Joshua Becker

“Money never made a man happy yet, nor will it. The more a man has, the more he wants. Instead of filling a vacuum, it makes one.” – Benjamin Franklin

The possession of money is not contrary to a simplified life, but the love of money is. The love of money can never be satisfied. It is a hopeless love that always desire more. It is a wasted energy. And more than that, it keeps us, our attitude, and our actions in bondage.

When the love of money is present, freedom is not.

* The love of money consumes our time. Whether we are thinking about how to find it, make it, grow it, or save it, the desire to acquire more robs us of our most important and finite resource: time.
* The love of money wastes our energy. It requires constant, continual attention. After all, no opportunity to acquire more can ever be wasted.
* The love of money devours our values. When the love of money is present in our lives, we become different people. The passion for money is a trap that quickly swallows our heart convictions and causes us to engage in behaviors that we would otherwise avoid.
* The love of money fuels competition. By definition, the love of money requires me to desire what you already possess. For me to gain more, you must part with yours. The world quickly becomes a zero-sum game dominated by jealousy and envy.
* The love of money limits our potential. We can never become greater than that which we most desire. When the acquisition of money becomes our greatest goal in life, we can never become greater than the balance in our bank account. And that’s a shame… we have so many greater things to offer this world.
* The love of money attracts the love of money. Our lives will naturally attract like-minded people. When we love money, we attract others who love money. And the more reinforcement we receive from those around us, the more natural the emotion becomes.
* The love of money destroys other loves. The love of money causes many to sacrifice their true passions and desires just to acquire more of it. It has truly killed many a passionate dream. To determine if the love of money has killed your dreams, answer this question, “If the need for money were not a factor, what would I be doing today?”

How then do we move beyond the desire to acquire more? While entire books have been written on this subject, let me throw out a few thoughts just to get you started toward freedom from the desire to acquire:

1. See money only as a tool to move through life. At its core, money is a bartering tool. It saves us from making our own clothes, tools, and furniture. Because of currency, I can spend my days doing what I love and am good at. In exchange, I receive money to trade with someone else who uses their giftedness to create something different than me. That‘s it. That‘s its purpose. And if you have enough to meet your needs, you shouldn‘t commit the rest of your day to acquiring more.

2. Be content with poverty or great wealth. I know poor people who live in complete contentment and I know rich people who are further from contentment today than when they were lacking. Your possessions do not lead to contentment. Your heart attitude does. And if the love for money limits freedom, contentment is the pathway to it.

3. Avoid debt. A lender is a slave to his creditor. Spending more money than you earn will always result in bondage to another. And there is no simplicity in bondage. If you cannot get out from under the weight of debt, find some help.

4. Learn to share. Sharing your possessions with others benefits the borrower and the lender. So be a lender… and be a borrower.

5. Remember that money comes and money goes. Like the tides of the ocean, money rolls in and money rolls out. Sometimes, there is money left over at the end of the day and sometimes there is not enough. That is the very nature of money. Do not fear its cycles. Welcome them.

I have no hidden dreams of this post magically solving the world’s desire for more. I just hope it helps to balance mine…

Modern Asceticism: Live More Need Less

The more I focus on living, the less it seems I need.
What does it mean to focus on living? It’s a shift from caring about possessions and status and goals and beautiful things … to caring about actual life. Life includes: taking long walks, creating things, having conversations with friends, snuggling with my wife, playing with my kids, eating simple food, going outside and getting active.
That’s living. Not shopping, or watching TV, or eating loads of greasy and sweet food not for sustenance but pleasure, or being on the Internet, or ordering things online, or trying to get popular. Those things aren’t living – they’re consumerist pastimes that tend to get us caught up in over consumption and mindlessness.
When I focus on living, all those other fake needs become less important. Why do I need television when I can go outside and explore, or get active, or take a walk with a friend? Why do I need to shop when I already have everything I need – I can spend time with someone or create, and I need very little to do that.
These things I do now — they require almost nothing. I can live, and need little.
And needing little but getting lots of satisfaction … that’s immensely rewarding. It’s an economy of resources that I’ve never experienced before.
These days, I need nothing but my loved ones, a text editor, a way to post what I create, a good book, simple plant-based food, a few clothes for warmth, and the outdoors.

Ketika Aku Harus Memilih

(dari milis sebelah)

Aku pernah berfikir, bahwa setiap manusia pasti ingin memiliki seorang kekasih. Kekasih yang akan terus bersamanya, sehidup semati, dalam suka maupun duka tak akan terpisahkan. Sekarang, aku memilih amal sholeh sebagai kekasihku. Karena ternyata hanya amal sholeh-lah yang akan terus menemaniku, bersamaku, bahkan menemaniku dalam kuburku, kemudian amal sholehku pula lah yang menemaniku menghadap Allah.

Aku pernah berfikir, setiap manusia pastilah punya goresan masalah dengan manusia lain, sehingga wajar jika manusia memiliki musuh masing-masing. Kini aku memilih menjadikan setan sebagai musuh utamaku, sehingga aku lebih memilih melepaskan kebencian, dendam, rasa sakit hati, dan permusuhanku dengan manusia lain.

Aku pernah selalu kagum pada manusia yang cerdas, dan manusia yang berhasil dalam karir, atau kehidupan duniawinya. Sekarang aku mengganti kriteria kekagumanku ketika aku menyadari bahwa manusia hebat dimata Allah, adalah hanya manusia yang bertaqwa. Manusia yang sanggup taat kepada aturan main Allah dalam menjalankan hidup dan kehidupannya.

Dulu aku akan marah dan merasa harga diriku dijatuhkan, ketika orang lain berlaku zhalim padaku, menggunjingkan aku, menyakiti aku dengan kalimat kalimat sindiran yang disengaja untuk menyakitiku. Sekarang aku memilih untuk bersyukur dan berterima kasih, ketika meyakini bahwa akan ada transfer pahala dari mereka untukku jika aku mampu bersabar… Dan aku memilih tidak lagi harus khawatir, karena harga diri manusia hanyalah akan jatuh dimataNya, ketika dia rela menggadaikan dirinya untuk mengikuti hasutan setan…

Dulu aku yakin, dengan hanya khatam Al Qur’an berkali kali maka jiwaku akan tercerahkan. Kini aku memilih untuk mengerti dan memaknai artinya dengan menggunakan akalku, dengan mengaktifkan qolbuku dan mengamalkannya dalam keseharianku, maka pencerahan itu baru bisa aku dapatkan.

Ketika aku harus memilih…bantu aku Yaa Rabb….untuk selalu memilih yang benar dimataMu…({})

Adab Makan

Makanlah makanan orang miskin yang akan makan dan meninggalkan meja tanpa rasa kenyang. Jangan minum selama makan dan kurangilah air yang kamu minum. Jangan terima perlakuan khusus selama kamu makan. Jangan pamerkan dan sok aksi. Jangan pernah menunjukkan rasa laparmu. Ukurlah jumlah makanan yang kamu makan agar kamu hanya memuaskan kebutuhanmu seperlunya. Suapanmu sebaiknya tidak besar maupun kecil. Ingatlah Allah pada setiap suapan, dan kunyahlah dengan baik sebelum kamu telan. Setiap kali kamu menelan, beri kesempatan pada makanan itu untuk turun dalam perutmu dan pujilah Tuhanmu.

Kutipan di atas saya ambil dari buku Selamat Sampai Tujuan, sebuah risalah sufi praktis dari Ibn ‘Arabi. Sengaja saya jadikan pembuka dalam tulisan ini mengingat relevansinya yang kuat di bulan Ramadhan. Mengapa demikian? Karena di bulan Ramadhan ini, yang sedianya puasa diwajibkan agar manusia bisa mengendalikan diri, sebagian orang-orang yang berpuasa malah menunjukkan keganasannya sebagai makhluk “omnivora”.

Betapa tidak. Waktu berbuka menjadi saat-saat menegangkan bagi para pemburu kuliner. Malah, rencana untuk berbuka di tempat mana dan dengan apa sudah dirancang sejak dini hari ketika makanan sahur belum selesai disantap. Sehingga, tak jarang, dengan pola makan dan gaya hidup yang tak berubah, sebagian orang malah tetap memiliki berat badan yang stabil. Malah seseringnya bertambah.

Kalau sudah demikian, ada baiknya kita kembali merenungkan pesan Ibn ‘Arabi tentang adab makan yang saya kutipkan di muka. Seluruh paragraf yang dikutip, pada intinya, memerikan satu hal saja: pengendalian diri. Dengan pengendalian diri, Ibn ‘Arabi mengajak kita untuk mengurangi segala kenikmatan, seperti makanan. Beliau menyeru kita (atau tepatnya calon pesuluk) untuk menyantap makanan yang sederhana sebagaimana yang dikonsumsi oleh orang miskin dan menyesuaikannya dengan kebutuhan yang diperlukan kita. Ini dimaksudkan, menurut saya, dengan makanan seperti itu akan membawa kita kepada kerendahan hati. Dengan kerendahan hati, sangat dimungkinkan bagi kita untuk bisa secara mudah mengingat Allah dalam setiap suapan. Karena kita akan mengingat rezeki yang dikaruniakan oleh-Nya kepada manusia.

Selaras dengan itu, jauh-jauh hari Imam Jafar Shadiq mengingatkan dalam Lentera Ilahi bahwa makan karena dorongan kebutuhan adalah untuk orang yang suci. Menikmati makan terlalu banyak, tambahnya, akan menimbulkan dua akibat: kekerasan hati dan bangkitnya nafsu. Kekerasan hati akan mempersulit diri untuk menyesali dosa-dosa yang pernah dilakukan. Apalagi menangisinya sebagai buah dari penyesalan.

Semoga pesan spiritual mereka berdua ini lebih mudah dicerna bagi para shaimin. Amin

Renungan 13 Agustus

Saya tidak meninggalkan apa yang langsung bisa dilihat, supaya bisa memburu apa yang memakan oleh waktu. Saya meninggalkan apa yang dimakan oleh waktu supaya bisa mengejar apa yang bisa langsung dilihat. Karena Dia Yang Diberkati pernah menyatakan bahwa kenikmatan sensual membuang waktu dan penuh dengan penderitaan, penuh dengan keputusasaan, dan bahaya di dalamnya lebih besar lagi. Sementara Dharma ini langsung bisa dilihat, di dekat kita, mengundang kita untuk datang dan melihat, bisa diterapkan untuk secara pribadi dialami mereka yang bijak. (Untaian Mutiara Kebajikan, hal.226)


Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat petani menjadi kaya raya seberapa pun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”.
Si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubuk mungilnya untuk disimpan di sana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Baca lebih lanjut

Wasiat-wasiat Yesus

#Mengasihi Musuh# (Matius 5: 43-48)
43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

(Sumber: The True Gospel of Christ, karya Elijah Syekh, terbitan Citra, 2007, hal.55)

Hidup Satu Jam Tanpa Dosa

Seorang teman mengirimi sms yang berbunyi begini:

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya, “Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”
Ayahnya memandang anak kecil itu dan berkata, “Tidak, nak”.

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan bertanya lagi, “Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”
Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.
“Oh, ayah, bagaimana kalau satu bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?”
Ayahnya tertawa, “Mungkin tidak bisa juga,nak.”

“Ok, ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita hidup tidak bisa berdosa dalam satu jam saja?”
Akhirnya ayahnya mengangguk, “Kemungkinan besar, bisa nak, dan kasih Tuhanlah yang akan memampukan kita untuk hidup benar.”

Anak ini tersenyum lega. “Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah. Lebih mudah menjalaninya, aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar…”

Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati. Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memerhatikan cari kita menjalani hidup ini. Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun, akan menjadikan kita terbiasa, dan apa yang sudah biasa kita lakukan, akan menjadi sifat, dan sifat akan berubah menjadi karakter, dan karakter akan menjadi destiny…

Hiduplah 1 jam… tanpa kemarahan, tanpa hati yang jahat, tanpa pikiran negatif, tanpa menjelekkan orang, tanpa keserakahan, tanpa pemborosan, tanpa kesombongan, tanpa kebohongan, tanpa kepalsuan, … Lalu ulangi lagi untuk 1 jam berikutnya …
Hiduplah 1 jam… dengan kasih, dengan suka cita, dengan damai sejahtera, dengan kesabaran, dengan kelemahlembutan, dengan kemurahhatian, dengan kerendahhatian, dengan penguasaan diri, … dan ulangilah untuk 1 jam berikutnya.

Pesan ini — yang bukan short message ini — mengingatkanku pada konsep ibn al-waqt dalam konteks tasawuf. Para nabi, wali, imam, adalah putra sang waktu. Kehidupan mereka yang didominasi oleh Nama Al-Hasib (Yang Maha Penghitung) menjadikan mereka selalu bermuhasabah dari saat ke saat, dari jam ke jam, dari waktu ke waktu. Barangkali tak heran mereka menjadi orang yang maksum, terjaga dari kesalahan.
Semoga pahala diberikan kepada temanku ini karena mengingatkanku kembali pada apa yang sering terlupakan.