Islam dan “the Others”

Suatu hari aku mendapat SMS dari AA. Bunyinya demikian:

“Di depan guru-guru agama Katolik aku menganalisis filosofi dan metodologi kurikulum agamanya. Seraya membandingkan dengan kurikulum agama Islam, kupaparkan kekuatan, bahkan kekaguman pada profesionalisme dan kentalnya ekspresi spiritualitas mereka. Dan kurenungkan semua ini sambil kucoba meredam kecewa pada saudara dan diri sendiri. Ternyata, saat aku dalam akidah Islam, aku dapat membenarkan pribadi (iman) Katolik dan sebal pada yang muslim. Kupikir juga arti universalitas Islam membenarkan dirinya, dalam ekspresi pikiran dan tindakan, terperagakan dalam lintas keimanan. Lebih dari itu, ini seperti kehadiran Swiss sebagai negara dengan tingkat kejahatan terendah di dunia, terperagakan dengan lebih baik pada agama lain. Di sini akhirnya beragama (mempertaruhkan akidah) yang baik bisa sekadar urusan punya rasa malu. (14-6-2008; 04:45:34) Baca lebih lanjut

Wr

Hampir 12 tahun aku mengenalnya di kota B, tempat aku berkuliah. Kedekatanku dengannya, di samping karena aspek teologi, kemungkinan didorong oleh tempat kelahiran kami yang sama, kota T. Sejak tahu bahwa dia berasal dari kota T, secara emosional hubungan kami sudah tidak formalistis lagi pada dia jelas lebih tua beberapa tahun dariku.

Perkenalanku dengannya memang tak sengaja ketika aku tengah lagi “panas-panasnya” mencari suatu  formulasi teologis yang lebih rasional yang selama ini tak kudapatkan di kota T. Memang di kota T sendiri , aku pernah terlibat aktif di sebuah forum studi antarpelajar yang kegiatannya mencakup penyelenggaraan kelompok belajar hingga pesantren kilat. Salah satu mentorku saat itu adalah Aripin Ali. Dalam kajian keagamaan kami (waktu itu masih SMA lho!) sudah menggunakan referensi kitab putih (!) dari berbagai aliran, namun tampaknya pendekatan filsafat yang mendominasi forum studi kami. Di bawah Aripin Ali, atau sebut saja AA, kami dihantarkan ke pemikiran Muthahhari, terutama, dan Ali Syari’ati. Baca lebih lanjut

Pendekatan Filosofis dan Mistis terhadap Dialog Peradaban

Salah satu artikel yang muncul di Jurnal AL-Huda edisi 15 adalah tulisan Vida Ahmadi, seorang profesor perempuan yang menggeluti tasawuf. Bagi yang berminat pada Jurnal Al-Huda No.15 ini, silakan memesan ke Hasan Shahab di 021-7996767, Bagian Pemasaran.

Vida Ahmadi

PERKATAAN merupakan suatu manifestasi kebijaksanaan dan cinta. Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, sebagai suatu produk pemilik cinta dan kearifan, dan karena alasan ini ia adalah manusia yang pantas untuk dihubungkan dengan Tuhan, Sumber Keberadaan. Agama merupakan sumber yang paling berkuasa yang menarik manusia kepada filsafat dan mistisisme. Filsafat —menggunakan konsep dialektika dan dialog sebagai hasilnya, dan menggambarkannya di atas konsep “kesatuan dalam keragaman” dan “keragaman dalam kesatuan”— berusaha untuk mendamaikan pertentangan-pertentangan dalam kehidupan manusia sehingga ia bisa mencapai kesempurnaan. Mistisisme, dengan kesatuan wujud sebagai prinsip sentralnya, mendamaikan pertentangan kehidupan manusia dengan memulai suatu dialog bersahabat dan mengilhami manusia dengan suatu gerakan yang diilhami oleh cinta. Baca lebih lanjut

Cigugur dan Refleksi Sebuah Toleransi Beragama

Berikut ini oleh-oleh  kakak saya , Aripin Ali, yang tengah melakukan perjalanan ke daerah Cigugur, Kuningan. Menurut saya, ini sebuah wujud dari keragaman beriman dan beragama yang bagaimanapun harus dihormati di Tanah Air kita ini, Indonesia. yang sekarang ini tengah mengalami penguatan kekerasan dalam beragama.

Aku lagi di Cigugur, Kuningan. Di rumah mertua teman Katolikku, di mana kutemukan adat Sunda; bahasa Sunda yang terucap dalam balutan kultur Sunda. Beberapa langkah ke bawah, di dapur tantenya, ada sekitar 20 jenis makanan tradisional yang mengingatkanku pada penganan lebaran di waktu kecil.

Rumah tante temanku yang juga Katolik itu bersebelahan dengan masjid yang juga dekat rumah pusat kepercayaan Agama Djawa Sunda. Kunikmati pikiran selintas bahwa perbedaan agama tidak mempengaruhi budaya. Bahkan pada persamaan budaya (yang telah membuat masyarakat turun-temurun dalam damai) inilah, agama-agama membuktikan ketinggian pencapaian spiritualitas. (9-6-2008; 19:10:12) Baca lebih lanjut