AVATAR CINTA

Judul Buku : Avatar Cinta
Penulis : Habibullah Farakhzad
Harga buku : Rp 50.000,-
Tebal : 356 hal.

Dalam Al-Quran, kata hubb dan generiknya sangatlah banyak. Semua ayat tentang cinta bermuara kepada penegasan bahwa cinta manusia pada Allah adalah salah satu peringkat al-uluhiyyah. Kaum Sufi dan para ‘ârif billah adalah sekelompok manusia yang paling berpengalaman dalam ‘bercinta’ sekaligus mengekspresikannya. Objeknya pun tak alang kepalang istimewa, Tuhan Pemilik Keberadaan. Cinta.

Dalam sistem estetika sufi, cinta (mawaddah) dan kasih (rahmah) mempunyai makna luas. Cinta bukan dimaknakan secara umum, melainkan lebih pada keadaan dan tingkatan ruhani yang membawa seseorang mencapai pengetahuan ketuhanan.

Buku yang sedang Anda genggam ini adalah ensiklopedi narasi suci tentang dua kata kudus tersebut. Avatar Cinta adalah hasil kerja keras seorang cendekiawan-sufi yang melakukan penelusuran literal Al-Quran dan Hadis tentang makna cinta hakiki dan pemanifestasiannya.

Melalui perujukan pada Muhammad saw dan keluarganya, para Avatar cinta sejati, Anda dipandu untuk dapat menjadi sang avatar, sang manifestasi.

Iklan

Antara Persoalan Rezeki dan Tuntutan Beribadah

Ibn ‘Athaillah berkata:
Ijtihaaduka bimaa dhumina laka wataqshiiruka fiimaa thuliba minka daliilun ‘alanthimaasil bashiirati minka.

“Kesungguhan Anda dalam mencari rezeki yang telah dijamin oleh Allah bagi Anda, dan mengabaikan apa yang menjadi tuntutan Allah terhadap Anda (kewajiban beribadah) adalah petunjuk atas tertutupnya mata hati Anda.”

Ulasan
Sesuatu yang telah dijamin oleh Allah bagi hamba adalah persoalan rezekinya. Dengan rezeki itu, seorang hamba bisa tetap tegak wujud dan keberadaannya di dunia. Makna bahwa Allah menjamin dan menanggung rezeki hamba-hamba-Nya dimaksud adalah agar mereka dapat membebaskan dirinya dari memikirkan persoalan rezeki.
Mereka tidak dituntut bersungguh-sungguh dalam berusaha mencarinya, dan tidak pula mencurahkan perhatiannya pada persoalan rezeki. Tetapi sesuatu yang dituntut dari seorang hamba adalah amal ibadah dan kebaktiannya yang dapat mengantarkannya untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Dalil bahwa Allah Swt menjamin rezeki hamba bisa disimak pada ayat berikut, Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (29:60)
Dalil bahwa Allah Swt menuntut kepatuhan dari hamba-Nya terdapat pada sebuah atsar: “Wahai hamba-Ku, patuhilah apa yang Aku perintahkan kepadamu, sementara engkau tidak perlu tahu kemaslahatan yang akan Aku perbuat bagimu.”

Refleksi
Kata hikmah di atas bisa mengandung dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, Ibn Athaillah agaknya mengkhususkan makna ibadah pada aktivitas-aktivitas ibadah tertentu seperti shalat. Ini seolah memberikan pengandaian bahwa mencari rezeki tidak termasuk pada aktivitas ibadah. Tentu ini amat jauh dari pandangan Shahibul Hikam.
Kemungkinan kedua, Ibn Athaillah mengisyaratkan agar selama menuntut penghidupan atau mencari rezeki, hendaknya itu diiringi dengan unsur ketakwaan, tahu halal-haramnya, dan lain-lain. Karena dengan ketakwaan, usaha mencari rezeki menjadi bernilai ibadah.
Akan tetapi, dalam perspektif kesatuan wujud, semua itu penampakan merupakan nama-nama Al-Haqq semata.

MANAJEMEN NAFSU


Judul : Manajemen Nafsu
Penulis : Imam Khomeini
Penerjemah : Salman Fadhlullah
Editor : Fira Adimulya
Harga : Rp 22.000,-
Tebal : 114 halaman

Para filosof Muslim membagi alam ini menjadi tiga: alam akal, alam mitsal, dan alam materi. Alam akal adalah alam yang tidak berbentuk dan tidak berbeban, alam mitsal (barzakh) adalah alam yang berbentuk tetapi tidak berbeban, sementara alam materi adalah alam yang berbentuk dan berbeban. Ruh manusia tentunya masuk pada alam akal, sementara tubuhnya berada pada alam materi. Lantas nafsu (al-nafs) di mana?

Sebuah teori etika menyebutkan bahwa nafsu (nafs, jiwa) terletak di antara ruh dan tubuh. Kecuali nafsu yang dirahmati Tuhannya, nafsu pada umumnya cenderung mengarah kepada keburukan moral dan syar’i. Di sinilah barangkali signifikansi dari pernyataan Nabi Saw yang menyerukan agar kaum Muslim harus selalu ber-jihad akbar setelah ber-jihad ashghar.

“Jihad akbar” adalah laga utama melawan musuh invisible, yaitu ego dan hawa nafsu dalam diri kita masing-masing. Perlu strategi dan kiat-kiat khusus untuk melawan dan menaklukkannya. Ditaklukkan bukan berarti ditiadakan atau dimusnahkan melainkan dikelola dan ditata sehingga hawa nafsu ataupun ego menjadi suci karena dikendalikan ruh. Karena alasan inilah, buku ini diberi tajuk Manajemen Nafsu.

Ditulis oleh seorang wali-sufi terbesar modern, Imam Khomeini, menjadikan risalah ini tak perlu dikomentari lagi kandungannya. Mari berjihad akbar dengan memanajeri hawa nafsu!