The Story of Cieceng

(I)
Kami bersembilan sudah di bus Budiman jurusan Cimahi-Tasikmalaya. Siap berangkat. Ada Ibah, mahasiswi UIN yang mendapat program beasiswa Walagri Aksara; Gilang dan Tedi, pemain baru dari Pertanian UNPAD; Diar dan Rian para kader dari SD-SMA Semesta Hati; Munajat teman saya yang bertanggung jawab mengurus kebun kina Kimia Farma; Sandi sesama litbang Darul Hikmah; Ali, anak bungsuku, yang tak bisa lepas dari bapaknya selama ibunya di Palembang. Anak-anak Lensa Remaja yang dampingi kegiatan Walagri Aksara menggeser kegiatan ke minggu depan. hmm si kecil sudah tidur. Semoga cukup istirahat sampai nanti pindah ke coltbak menuju lokasi menembus malam dan hutan. Mohon doanya. (16/12/2011 19:52:11)
(II)
Perjalanan konflik antara sekolah dengan pesantren; tokoh masyarakat (yang notabene tokoh masyarakat) dengan tokoh muda (yang identik dengan guru-guru); kepentingan agama (tepatnya agama yang melulu mengurus fiqh dan bid’ah) dengan hal duniawi (‘uang’). Dinamikanya sampai ke tingkat praksis mendapat contoh di sini. Haha, di sinilah ditegaskan kepada masyarakat bahwa materi keagamaan 99%, materi ‘sekolah’ sisanya. Kini konfliknya semakin meruncing (dan kami harus menemukan dampak positifnya). Masih membutuhkan waktu lama namun eskalasi perubahannya menguat. Hehe, ngomong2 ternyata satu2 jembatan yang menghubungkan kami dengan kota kecamatan terputus.
(18/12/2011 10:32:12)
(III)
Ada dua orang yang tidak tidur sekejap pun selama perjalanan pulang dengan bus Budiman. Ali karena tak henti menggoda saya selama Gilang tertidur, dan ketika Gilang terbangun, ternyata dia cerewet juga dalam melayani Ali. Yang kedua adalah Usep. Kejadiannya, karena lelah saya memutuskan mengambil 2 kursi dengan Ali sekalipun bus penuh. Di Ciawi naik seorang gadis yang berniat rela duduk di tangga masuk bus. Tentu saya tidak tega (semoga bukan tega tidak melewatkan kesempatan) melihatnya. Saya minta izin sama Ali yang serta merta menolaknya. Akhirnya Gilang yang duduk bersebelahan dengan Usep yang jadi tidak tega. Usep cengengesan kemudian asyik mengobrol. Kata temen-temen saya diselamatkan Ali dan Gilang. Tapi Gilang aneh karena itu bukan nenek atau ibu menyusui. Saya curiga ada maksud cari perhatian.
(19/12/2011 09:31:00)

The One Alone (13)

Kualitas-Nya adalah penampakan-Nya di setiap momen dalam bentuk dan keadaan yang berbeda. Dalam al-Quran yang Mulia, dalam Surah al-Rahman (Yang Maha Penyayang), Dia berfirman, Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan, yakni Dia memanifestasikan Diri-Nya di setiap waktu dalam keadaan yang mulia lainnya. (QS. 55:29)

Tak ada sesuatu pun yang eksis; namun dalam setiap waktu dan momen Dia memanifestasikan Diri-Nya dalam keadaan mulia lainnya. Tidak ada yang pertama; tiada ada suatu sebelum; tidak ada lagi manifestasi sekarang. Sesungguhnya, tiada wujud selain Dia: karena apa yang tampaknya eksis, eksistensi maupun nireksistensinya adalah sama. Apabila orang memandangnya sebaliknya, orang mesti memahami bahwa sesuatu bisa muncul dari ketiadaan,yang menegasikan keesaan Allah, dan itu suatu kekurangan–sementara keesaan-Nya terbebas dan melampaui segenap kekurangan.

Satu-satunya keberadaan adalah eksistensi Allah. Jika engkau tahu ini dan tidak memandang dirimu sebagai sama, atau selain, atau bersama, dengan Dia, maka sesungguhnya engkau mengenal dirimu sendiri. Itulah mengapa pemimpin kita Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.” dan bukan “Barangsiapa yang melenyapkan dirinya sendiri, maka ia mengenal Tuhannya”–karena ia melihat dan ia mengetahui bahwa tidak ada sesuatu selain Allah. Dan itu adalah bahwa ia mengenal dirinya sendiri.

(Sumber: TOA, dalam What the Seeker Needs, hal.38-39)