HIKAYAT IBLIS (1)

Kisah Iblis sebagaimana diceritakan oleh Rasulullah saw

Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal ra, dari Ibnu Abbas ra yang berkisah:
Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa âlihi di rumah salah seorang sahabat Anshar, dimana saat itu kami di tengah-tengah jamaah. Lalu ada suara orang memanggil dari luar, “Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, sementara kalian butuh kepadaku?”
Rasulullah saw bertanya kepada para jamaah, “Apakah kalian tahu, siapa yang memanggil dari luar itu?”
Mereka menjawab, “Tentu Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Lalu Rasulullah saw menjelaskan, “Ini adalah iblis yang terkutuk itu—semoga Allah senantiasa melaknatnya.”
Kemudian Umar ra meminta izin kepada Rasulullah saw sembari berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku untuk membunuhnya?”
Beliau menjawab, “Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk makhluk yang tertunda kematiannya, sampai batas waktu yang telah diketahui (hari kiamat)? Akan tetapi, sekarang kalian membukakan pintu untuknya. Sebab ia diperintah untuk datang ke sini, maka pahamilah apa yang ia ucapkan dan dengarkan apa yang bakal ia ceritakan kepada kalian.” Baca lebih lanjut

The One Alone (9)

SATU-SATUNYA eksistensi adalah eksistensi Allah. Allah Mahatinggi berfirman melalui Utusan-Nya berkata kepada Musa (as):

Wahai hamba-Ku, Aku sakit tetapi engkau tidak datang menjenguk-Ku; Aku lapar tetapi engkau tidak memberi-Ku makan…

Allah Yang Mahatinggi secara jelas menyatakan bahwa wujud dari orang yang sakit adalah wujud-Nya, demikian pula wujud orang yang lapar adalah wujud-Nya. Apabila yang sakit dan yang miskin adalah Dia, maka wujudmu adalah wujud-Nya juga. Dengan cara yang sama, segala sesuatu yang tersusun dari elemen-elemen dan peristiwa-peristiwa adalah Dia juga.

Ketika rahasia dari sebuah atom keluar dari semua atom yang darinya elemen-elemen tersebut diketahui, rahasia dari keseluruhan alam semesta yang nyata dan yang gaib akan ditunjukkan. Kemudian engkau tidak akan menyaksikan apa pun selain Allah baik di dunia ini ataupun di akhirat. Engkau akan menyaksikan seluruh eksistensi di dunia dan di akhirat, segala nama dan sesuatu dinamai dengan nama-nama tersebut dan wujud-wujud mereka, sebagai Wujud-Nya saja. Engkau akan melihat Allah tidak menciptakan sesuatu untuk selamanya. Baca lebih lanjut

The One Alone (8)

KARENA ITU, jangan berpikir lagi bahwa engkau mesti menjadi bukan apa-apa (nothing), bahwa engkau perlu untuk melenyapkan atau meleburkan dirimu di dalam-Nya. Apabila engkau berpikir demikian, maka engkau adalah hijab-Nya, sementara hijab atas Allah adalah selain Dia. Bagaimana bisa engkau jadi hijab yang menyembunyikan-Nya? Apa yang menyembunyikan-Nya adalah Wujud-Nya, Realitas Tunggal.

Itulah mengapa ucapan tersebut menjadi boleh bagi Mansur al-Hallaj, ketika kata-kata:
Ana al-Haqq (Akulah Sang Benar)

terlontar dari lisannya, dan bagi Abu Yazid al-Bisthami ketika ia menangis:

Segala puji bagi-Ku, esensi, bebas dari segala kekurangan!

Karena kedua orang tersebut bersatu dengan al-Haqq,

Mereka ini bukanlah orang-orang yang meleburkan diri mereka di dalam Allah; ataupun mereka muncul di dalam Allah; ataupun mereka eksis sebelumnya, menjadi kosong setelahnya. Mereka adalah orang-orang yang melihat sifat-sifat mereka sebagai sifat-sifat Allah, esensi mereka adalah esensi Allah, tanpa sifat-sifat dan esensi-esensi tak ada wujud baik di dalam Allah ataupun di luar Allah. Diri-diri mereka hanyalah wujud Allah. Orang-orang ini adalah orang-orang yang telah sampai kepada Allah. Mereka abadi. Mereka tidak pernah berhenti eksis, karena mereka tidak pernah ada, lantaran yang ada hanyalah diri Allah, esensi Allah. Tidak pernah ada eksistensi lain. Yang ada hanyalah eksistensi Allah.

Pemimpin kita Rasulullah saw bersabda,
“Jangan melaknat waktu (dahr), karena Allah adalah Sang Waktu.”

Menunjuk pada bahwa wujud Allah bebas dari keserupaan atau kesamaan atau sekutu, tetapi nyata dalam waktu yang abadi. (Bersambung, insya Allah)

*) Dari TOA dalam What the Seeker Needs, hal.35

On Loving Money

by Joshua Becker

“Money never made a man happy yet, nor will it. The more a man has, the more he wants. Instead of filling a vacuum, it makes one.” – Benjamin Franklin

The possession of money is not contrary to a simplified life, but the love of money is. The love of money can never be satisfied. It is a hopeless love that always desire more. It is a wasted energy. And more than that, it keeps us, our attitude, and our actions in bondage.

When the love of money is present, freedom is not.

* The love of money consumes our time. Whether we are thinking about how to find it, make it, grow it, or save it, the desire to acquire more robs us of our most important and finite resource: time.
* The love of money wastes our energy. It requires constant, continual attention. After all, no opportunity to acquire more can ever be wasted.
* The love of money devours our values. When the love of money is present in our lives, we become different people. The passion for money is a trap that quickly swallows our heart convictions and causes us to engage in behaviors that we would otherwise avoid.
* The love of money fuels competition. By definition, the love of money requires me to desire what you already possess. For me to gain more, you must part with yours. The world quickly becomes a zero-sum game dominated by jealousy and envy.
* The love of money limits our potential. We can never become greater than that which we most desire. When the acquisition of money becomes our greatest goal in life, we can never become greater than the balance in our bank account. And that’s a shame… we have so many greater things to offer this world.
* The love of money attracts the love of money. Our lives will naturally attract like-minded people. When we love money, we attract others who love money. And the more reinforcement we receive from those around us, the more natural the emotion becomes.
* The love of money destroys other loves. The love of money causes many to sacrifice their true passions and desires just to acquire more of it. It has truly killed many a passionate dream. To determine if the love of money has killed your dreams, answer this question, “If the need for money were not a factor, what would I be doing today?”

How then do we move beyond the desire to acquire more? While entire books have been written on this subject, let me throw out a few thoughts just to get you started toward freedom from the desire to acquire:

1. See money only as a tool to move through life. At its core, money is a bartering tool. It saves us from making our own clothes, tools, and furniture. Because of currency, I can spend my days doing what I love and am good at. In exchange, I receive money to trade with someone else who uses their giftedness to create something different than me. That‘s it. That‘s its purpose. And if you have enough to meet your needs, you shouldn‘t commit the rest of your day to acquiring more.

2. Be content with poverty or great wealth. I know poor people who live in complete contentment and I know rich people who are further from contentment today than when they were lacking. Your possessions do not lead to contentment. Your heart attitude does. And if the love for money limits freedom, contentment is the pathway to it.

3. Avoid debt. A lender is a slave to his creditor. Spending more money than you earn will always result in bondage to another. And there is no simplicity in bondage. If you cannot get out from under the weight of debt, find some help.

4. Learn to share. Sharing your possessions with others benefits the borrower and the lender. So be a lender… and be a borrower.

5. Remember that money comes and money goes. Like the tides of the ocean, money rolls in and money rolls out. Sometimes, there is money left over at the end of the day and sometimes there is not enough. That is the very nature of money. Do not fear its cycles. Welcome them.

I have no hidden dreams of this post magically solving the world’s desire for more. I just hope it helps to balance mine…
Source: http://www.becomingminimalist.com/

The One Alone (7)

DAN ALLAH memperlihatkan kepada Nabi bahwa “segala sesuatu” tidak punya wujud dan Dia memperlihatkan kepada “segala sesuatu” sebagai Dia. Terlihat bahwa semua yang muncul sebagai selain Allah adalah wujud-Nya. Dia diperlihatkan segala sesuatu tanpa sebuah nama, tanpa waktu, tanpa kualitas, sebagai esensi Allah.

Nama sebuah benda diajukan oleh benda tersebut kepada orang yang menamainya, dan olehnya diberikan kepada yang lain. Dengan demikian, dalam sebuah benda, eksistensi benda tersebut dan eksistensi dirinya adalah ekivalen. Karena itu, ketika benda tersebut diketahui, diri tersebut diketahui dan ketika diri diketahui, Rabb pun diketahui.

Engkau mengira yang lainnya sebagai selain Allah. Tidak ada sesuatu pun selain Dia, tetapi engkau tidak mengetahui hal ini. Ketika engkau menatap-Nya, engkau tidak mengenali-Nya. Ketika rahasia terbuka kepadamu, engkau akan tahu bahwa engkau tidak lain adalah Dia. Kemudian engkau pun akan mengetahui bahwa engkau adalah orang yang Dia inginkan, (tetapi engkau tidak perlu menghilang) dan bahwa engkau adalah selamanya dan tidak akan musnah bersama waktu, karena tidak ada lintasan waktu. Sifat-sifatmu adalah kepunyaan-Nya. Tak syak lagi, penampilanmu adalah penampilan-Nya. Apa yang ada padamu, ada pada-Nya. Sebelummu adalah sebelum-Nya; setelahmu adalah setelah-Nya; esensimu adalah esensi-Nya—tanpa Dia merasukimu ataupun engkau merasuki-Nya, karena,

Segala sesuatu akan binasa, melainkan wajah-Nya (QS. al-Qashash: 88)

Bahwa yang eksis dan yang terlihat adalah Dia. Tidak ada sesuatu selain Dia, jadi, bagaimana bisa yang tidak ada berhenti untuk ada? Yang ada hanya Dia, Esensi-Nya, yang akan senantiasa ada. Karena itu, jika orang mengetahui bahwa sebuah benda eksis yang tidak bisa berhenti untuk eksis, maka keraguan dan ketidaktahuan tentang benda itu akan berhenti. Bahwa wujud bersifat abadi, tanpa mengalami perubahan menjadi wujud lain. Ketika orang yang yakin terhadap sebuah eksistensi bergabung dengan orang yang menolak eksistensi tersebut, mereka tidak [akan] menyatu. Sebaiknya, keraguan tentang eksistensi tersebut hilang.

(Bersambung, insya Allah)

Sumber: TOA, dalam What the Seeker Needs, hal.34)

The One Alone (6)

Jalan mengenal diri sendiri dan mengenal Rabb

Lantas, bagaimana cara seseorang untuk mengenal diri sendiri untuk mengenal Rabbnya?
Jawaban untuk pertanyaan ini adalah: Allah Yang Mahatinggi eksis dan tak ada sesuatu pun yang eksis selain Dia. Dia adalah sekarang sebagaimana Dia adalah dulu.
Apabila orang melihat dirinya sebagai sesuatu yang lain selain satu-satunya Eksistensi, yakni Dia, atau apabila orang tidak melihat dirinya sebagai bagian dari-Nya, maka jawabannya datang dari Rasulullah saw ketika beliau bersabda, “Barangsiapa mengenal dirinya, niscaya mengenal Rabb-nya.” (Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu). Beliau tidak memaksudkan diri (nafs) ego seseorang—bahwa diri yang memilih kesenangan daging dan hasrat-hasrat rendah dan yang berusaha memerintah seseorang; ataupun tidak memaksudkan sebagai diri yang pertama-tama menipu—yang menjadikan seseorang percaya bahwa kotoran dan keburukan adalah benar, kemudian mencela dirinya atas kesalahan yang telah dilakukannya, kemudian lupa, kemudian berbuat lagi; beliau juga tidak memaksudkan sebagai diri-yang-terpuaskan. Yang beliau maksud adalah kebenaran seseorang, realitas dirinya.
Ketika Nabi saw berdoa, “Ya Rabbi, tunjukkan kepadaku hakikat segala sesuatu sebagaimana adanya,” apakah yang dimaksud dengan “segala sesuatu” adalah sesuatu yang muncul selain Allah. Beliau maksud, “Ajarkan kepadaku segala sesuatu selain Engkau. Apakah segala sesuatu di sekitarku? Biarkan aku mengetahuinya. Segala sesuatu—apakah mereka adalah Engkau, atau apakah mereka selain Engkau? Apakah mereka eksis sebelumnya ataukah mereka muncul belakangan? Apakah mereka di sini selamanya ataukah mereka akan lenyap?”
(Sumber: TOA, dalam What the Seeker Needs, hal.33)

The One Alone (5)

Allah tidak punya sekutu dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya

Allah Yang Mahatinggi adalah makna dari sebelumnya sebelum dan setelahnya setelah, tanpa-Nya, sebelum dan setelah tidak punya arti apa-apa.
Seandainya tidak demikian, [kalimat]
Dia sendiri. Dia tidak punya sekutu

Tidak punya arti apa-apa. Pastinya demikian; jika tidak, sesuatu selain Dia niscaya eksis dengan sendirinya dan tidak tergantung kepada-Nya untuk eksistensinya. Sekutu semacam itu tidak memerlukan Allah untuk eksistensinya dan demikian, menjadi tuhan kedua—dan itu adalah suatu hal yang mustahil sama sekali. Allah Mahatinggi tidak bisa memiliki sekutu-sekutu, dan pasti tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya.

Apabila orang percaya bahwa segala sesuatu eksis di dalam Allah—dari-Nya atau bersama-Nya—bahwa segala sesuatu ini tergantung pada Allah untuk keberadaan mereka, meskipun demikian, segala sesuatu tersebut muncul kepada orang sebagai tuhan-tuhan. Sekalipun rubbubiyyah mereka tergantung kepada Allah, orang yang tetap percaya kepada tuhan-tuhan tersebut bersalah karena mengakui tuhan-tuhan lain sebagai sekutu Rabb kita. Adalah suatu kuburan kesalahan untuk menganggap setiap eksistensi lain sebagai [eksistensi yang] sah di samping Allah, Yang Mahakaya, sekalipun sesuatu itu terlihat sebagai tergantung kepada Allah untuk keberadaannya. Suatu wujud yang telah menyerahkan eksistensinya dan menjadi kosong setelah menyerahkan eksistensinya, masih jauh dari napas ilmu.

Apabila orang merenungkan dirinya sebagai wujud tersebut, maka ia jauh dari mengenal dirinya. Apabila seseorang menganggap dirinya sebagai yang ada di antara wujud-wujud lain dan segala sesuatu yang musnah sebagaimana dia, yang ketiadaannya menjadi kosong dalam ketidakadaan—apabila orang tersebut percaya bahwa ada yang lain yang eksis selain Allah, maka sesungguhnya ia tiada, dan ketiadaannya akan terus berlangsung sepanjang ia menganggap ia eksis. Dia bersalah atas dosa tak terampuni dengan menisbahkan sekutu kepada Allah, padahal ia menganggap bahwa ia mengenal Rabb-nya, karena ia mengenal dirinya. (Bersambung, insya Allah)

Sumber: TOA, dalam What the Seeker Needs, hal.32-33

Modern Asceticism: Live More Need Less

The more I focus on living, the less it seems I need.
What does it mean to focus on living? It’s a shift from caring about possessions and status and goals and beautiful things … to caring about actual life. Life includes: taking long walks, creating things, having conversations with friends, snuggling with my wife, playing with my kids, eating simple food, going outside and getting active.
That’s living. Not shopping, or watching TV, or eating loads of greasy and sweet food not for sustenance but pleasure, or being on the Internet, or ordering things online, or trying to get popular. Those things aren’t living – they’re consumerist pastimes that tend to get us caught up in over consumption and mindlessness.
When I focus on living, all those other fake needs become less important. Why do I need television when I can go outside and explore, or get active, or take a walk with a friend? Why do I need to shop when I already have everything I need – I can spend time with someone or create, and I need very little to do that.
These things I do now — they require almost nothing. I can live, and need little.
And needing little but getting lots of satisfaction … that’s immensely rewarding. It’s an economy of resources that I’ve never experienced before.
These days, I need nothing but my loved ones, a text editor, a way to post what I create, a good book, simple plant-based food, a few clothes for warmth, and the outdoors.
Sumber: http://mnmlist.com/

The One Alone (4)

ENGKAU TIDAK bisa mengetahui Rabb (Lord)-mu dengan menjadikan dirimu tiada. Banyak orang bijak mengklaim bahwa untuk mengetahui Rabbnya, orang harus menelanjangi dirinya sendiri dari tanda-tanda eksistensinya, menghilangkan identitasnya, dan terakhir menanggalkan dirinya dari dirinya sendiri. Ini merupakan satu kesalahan.
Bagaimana bisa sesuatu yang tidak eksis berusaha menanggalkan eksistensinya? Karena tidak ada suatu materi apa pun yang eksis. Bagaimana bisa sesuatu yang tidak ada, menjadi tidak ada?
Sesuatu hanya bisa menjadi tidak ada setelah ia menjadi sesuatu. Karena itu, jika engkau mengetahui dirimu tidak berwujud, jangan berusaha untuk menjadi tidak ada, engkau akan mengetahui Rabbmu. Jika engkau mengira bahwa untuk mengenal Allah tergantung pada usahamu menanggalkan dirimu dari dirimu sendiri, maka engkau salah menisbahkan sekutu kepada-Nya—satu-satunya dosa yang tidak bisa diampuni—karena engkau mengklaim bahwa ada eksistensi lain di samping Dia, Yang Mahawujud: yaitu engkau dan Dia.
Pemimpin kita, Nabi saw, bersabda:
Barangsiapa mengenal dirinya, mengenal Rabb-nya
Beliau tidak berkata:
Barangsiapa melenyapkan dirinya, mengenal Rabbnya
Bukti adanya sesuatu adalah bahwa ketika ia dianggap tidak ada, lawannya muncul. Karena tidak ada sesuatu selain Allah, membuktikan eksistensi-Nya tidak tergantung pada hilangnya beberapa eksistensi selain-Nya. Dan sebagaimana engkau tidak eksis, engkau tidak bisa berhenti untuk eksis, atau bertransformasi menjadi sesuatu yang lain. Wujudmu tidaklah temporal ataupun eternal, karena engkau tidak punya wujud.
Sayyidina Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya kalian tidak eksis, sebagaimana kalian tidak eksis sebelum kalian diciptakan.”

(TOA dalam What the Seeker Needs, hal.31-32)

The One Alone (3)

TAK SEORANG PUN nabi yang telah Dia utus kepada umat manusia, ataupun seorang wali, seorang manusia sempurna, atau seorang malaikat yang dekat kepada-Nya (muqarrabûn) mampu melihat-Nya karena mereka semua tidak terpisah dari-Nya. Para nabi, rasul, manusia sempurna-Nya tidak lain adalah Dia, karena Dia telah mengutus Diri-Nya sendiri, dari Diri-Nya sendiri, untuk Diri-Nya sendiri, tanpa sebab ataupun sarana lain selain Diri-Nya sendiri. Dia mengutus Zat-Nya, dari Zat-Nya, melalui Zat-Nya, kepada Zat-Nya. Tidak ada perbedaan antara Zat yang mengutus dan para rasul-Nya yang diutus. Huruf-huruf Wujud-Nya adalah wujud para rasul-Nya. Tidak ada sesuatu selain Dia. Dia tidak menjadi yang lain, ataupun Nama-Nya menjadi nama lain; ataupun yang lain yang dinamai dengan Nama-Nya.
Itulah mengapa Pemimpin kita, Cahaya Alam Semesta, Nabi Muhammad saw, berkata:
Aku mengetahui Rabb-ku melalui Rabb-ku
Beliau juga berkata:
Barangsiapa mengenal dirinya, berarti mengenal Rabb-nya. [Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu. Sebuah pernyataan Nabi yang sering dikutip oleh kaum Sufi.]

Maksudnya, bahwa sesungguhnya engkau bukanlah engkau, dan engkau—tanpa keberadaanmu—adalah Dia. Dia tidak bersamamu; ataupun engkau di dalam Dia. Dia tidak mengeluarkanmu; atau engkau dikeluarkan dari-Nya. Ketika engkau disapa sebagai engkau, jangan engkau mengira engkau eksis, dengan suatu esensi, kualitas, dan sifat-sifat—karena engkau tidak pernah eksis, atau benar-benar eksis, atau tidak akan pernah eksis. Engkau tidak memasuki-Nya ataupun Dia tidak memasukimu. Tanpa wujud, esensimu adalah bersama-Nya dan di dalam-Nya. Engkau tidak ada. Tanpa memiliki identitas apa pun, engkau adalah Dia dan Dia adalah engkau. Jika engkau tahu dirimu sebagai bukan sesuatu (nothing), maka sesungguhnya engkau tahu Rabbmu. Jika tidak, engkau tidak mengetahui-Nya. (Bersambung, insya Allah)

(Diterjemahkan dari “The One Alone” [TOA] dalam What the Seeker Needs, hal.30-31. TOA adalah Risalah al-Ahadiyyah-nya Syaikh Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi)