The One Alone (13)

Kualitas-Nya adalah penampakan-Nya di setiap momen dalam bentuk dan keadaan yang berbeda. Dalam al-Quran yang Mulia, dalam Surah al-Rahman (Yang Maha Penyayang), Dia berfirman, Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan, yakni Dia memanifestasikan Diri-Nya di setiap waktu dalam keadaan yang mulia lainnya. (QS. 55:29)

Tak ada sesuatu pun yang eksis; namun dalam setiap waktu dan momen Dia memanifestasikan Diri-Nya dalam keadaan mulia lainnya. Tidak ada yang pertama; tiada ada suatu sebelum; tidak ada lagi manifestasi sekarang. Sesungguhnya, tiada wujud selain Dia: karena apa yang tampaknya eksis, eksistensi maupun nireksistensinya adalah sama. Apabila orang memandangnya sebaliknya, orang mesti memahami bahwa sesuatu bisa muncul dari ketiadaan,yang menegasikan keesaan Allah, dan itu suatu kekurangan–sementara keesaan-Nya terbebas dan melampaui segenap kekurangan.

Satu-satunya keberadaan adalah eksistensi Allah. Jika engkau tahu ini dan tidak memandang dirimu sebagai sama, atau selain, atau bersama, dengan Dia, maka sesungguhnya engkau mengenal dirimu sendiri. Itulah mengapa pemimpin kita Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.” dan bukan “Barangsiapa yang melenyapkan dirinya sendiri, maka ia mengenal Tuhannya”–karena ia melihat dan ia mengetahui bahwa tidak ada sesuatu selain Allah. Dan itu adalah bahwa ia mengenal dirinya sendiri.

(Sumber: TOA, dalam What the Seeker Needs, hal.38-39)

Iklan

The One Alone (12)

APAKAH Anda mengira adalah mungkin saja untuk mencampuri kedaulatan Tuhan? Bagaimana bisa Kedaulatan Mutlak atas semua dan segala sesuatu dibatasi? Dia telah memerintah selamanya. Dia adalah Tuhan. Dia adalah Penguasa, bukan yang dikuasai. Dia adalah Pencipta Abadi, bukan yang diciptakan, dan kini Dia pun seperti itu [sebagai Pencipta]. Dia tidak butuh ciptaan-Nya sebagai Pencipta; Dia tidak butuh sesuatu yang Dia kuasai sebagai Tuhan (LOrd). Dia memiliki seluruh sifat sebelum Dia memanifestasikan sifat-sifat tersebut di alam semesta yang Dia ciptakan. Dia adalah Dia, baik dulu maupun sekarang.

Manifestasi Zat-Nya tidak berbeda sama sekali dari Wujud-Nya sebagaimana sebelumnnya. Manifestasi keesaan-Nya membutuhkan-Nya sebagaimana yang Pertama. Dia tersembunyi dalam wujud yang terlihat; Rahasia-Nya termanifestasi dalam apa yang terlihat. Sebelum-Nya adalah setelah-Nya, dan setelah-Nya adalah sebelum-Nya. Multiplisitas-Nya berada dalam keesaan-Nya, dan keesaan-Nya ada dalam multiplisitas-Nya. Dia adalah satu, dan semuanya adalah Dia.

Sumber: TOA, dalam What the Seeker Needs, hal.38.

The One Alone (11)

DENGAN kata-kata Ilahi ini Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa âlihi wassalam] mengisyaratkan bahwa barangsiapa yang mati sebelum mati [akan] menyadari seluruh keberadaan-Nya sebagai keberadaan Allah dan tidak melihat perbedaan antara dirinya dan Allah, antara sifat-sifatnya dan sifat-sifat Allah. Ia juga tidak melihat kemestian atau kemungkinan perubahan apapun dalam kedudukannya. Karena jika keberadaannya bukan Allah, bahkan dia tidak bisa mengenal dirinya sendiri.

Jadi ketika engkau mengenal diri sendiri, diri dan keegoisanmu akan pergi, dan engkau akan tahu bahwa tidak ada sesuatu pun dalam eksistensi selain Allah.

Syarat untuk pengetahuan-diri adalah mengetahui bahwa apabila engkau memiliki suatu wujud untuk dirimu sendiri, independen dari wujud lain, niscaya engkau tidak akan perlu untuk melenyapkan dirimu sendiri di dalam Allah atau untuk mengenal dirimu sendiri. Engkau adalah, dirimu sendiri, a god – maujud, dan tanpa eksistensi lain selain engkau – sementara itu adalah Allah Yang Mahatinggi yang bebas dari eksistensi tuhan lain selain Dirinya.

Dan ketika engkau baru mengenal dan mengetahui dirimu, niscaya engkau yakin bahwa engkau tidaklah eksis atau benar-benar eksis, entah sekarang, sebelumnya, ataupun di masa depan. Maka pengertian lâ ilâha illallah—tiada tuhan selain Allah, “tiada wujud selain wujud-Nya, atau tidak ada sesuatu selain Dia, dan Dia adalah the Only One—akan menjadi jelas bagimu.

Sumber: “The One Alone”, dalam Ibn ‘Arabi, What the Seeker Needs, hal.37-38.

The One Alone (10)

Tentang Mati Sebelum Mati
Dia yang memikirkan dirinya sebagai sesuatu selain Allah tentunya bukan selain Dia, karena Allah Ta’ala bebas dari semua eksistensi selain Esensi Ilahi-Nya. Semua, yang terlihat maupun tidak terlihat, yang eksis pada-Nya, bersama-Nya, di samping-Nya, tidak lain adalah Dia, karena yang lain itu sendiri adalah Dia. Barangsiapa melihat dirinya demikian dan diberkati dengan kualitas-kualitas ini, tidak memiliki ikatan ataupun tujuan.
Siapa pun mati ketika, dengan kehendak Allah, waktu nyawa pinjamannya berakhir. Wujud materi — yang disebut kehidupan — berakhir pada waktu yang ditentukan, kehilangan seluruh karakter dan kualitasnya, baik dengan kebaikan maupun keburukan. Barangsiapa yang mati secara spiritual sementara kehidupan materinya berlanjut juga kehilangan karakteristiknya entah baik maupun buruk. Tak ada sesuatu pun yang tersisa dari dirinya. Yang ada hanyalah Allah, yang menempati dirinya. Dirinya menjadi Diri Allah. Sifatnya menjadi sifat Allah.
Itulah yang dimaksud oleh Pemimpin kita, Rasulullah saw ketika bersabda, “Matilah engkau sebelum engkau mati.”

Yakni, “Kenalilah dirimu, sebelum engkau mati.” Melalui Nabi-Nya, Allah berfirman:
Hamba-Ku datang mendekati-Ku dengan ibadah amal-amal baik hingga Aku mencintai-Nya; dan ketika aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran pada telinganya; Aku menjadi penglihatan pada matanya; Aku menjadi kata-kata pada lidahnya; Aku menjadi tangan yang dengannya ia memegang; Aku menjadi kekuatan setiap bagian wujudnya.

Sumber : TOA, hal.37

Tanya Jawab dengan Para Pemuka Akbarian (I)

Berikut ini tanya jawab imajiner antara seorang calon peminat tasawuf dengan para pemuka Akbarian, yakni mazhab tasawuf yang mengikuti pandangan-pandangan Syekh Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi

Soal 1:
Bismillah. Dari Abu Dawud ra, dalam Jami al-Ushul karya Ibn Atsir, diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa aalihi wassalam) dan bala tentaranya mendaki gunung-gunung, mereka bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar). Ketika mereka turun, mereka bertasbih (mengucapkan Subhaanallah). … Sebetulnya, apa makna riwayat itu menurut Anda?

Shadr al-Din al-Qunawi, anak tiri dan murid Ibn ‘Arabi menjawab:
Ketahuilah, bahwa tinggi dan naik adalah keunggulan, dan itu termasuk takabur (menganggap diri besar). Jika keunggulan itu tampak, maka itu merupakan bentuk dari takabur. Jika keunggulan itu tersembunyi, maka itulah makna dari takabur. Karena kesombongan hanya milik Allah Swt semata dan karena ketika menaiki gunung-gunung itu suatu bentuk keunggulan itu ada dan muncul, maka pada saat tersebut disunahkan bertakbir. Yakni, bahwa Allah Yang Mahabesar dan Mahatinggi dari adanya sekutu di dalam kebesaran-Nya dalam bentuk yang mengisyaratkan persekutuan. Adapun perintah untuk bertasbih ketika turun, maka itu rahasia kesertaan yang ditunjukkan dengan firman Allah Swt, Dia bersamamu dimana saja kamu berada. (QS al-Hadid [51]:4) Baca lebih lanjut

HIKAYAT IBLIS (1)

Kisah Iblis sebagaimana diceritakan oleh Rasulullah saw

Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal ra, dari Ibnu Abbas ra yang berkisah:
Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa âlihi di rumah salah seorang sahabat Anshar, dimana saat itu kami di tengah-tengah jamaah. Lalu ada suara orang memanggil dari luar, “Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, sementara kalian butuh kepadaku?”
Rasulullah saw bertanya kepada para jamaah, “Apakah kalian tahu, siapa yang memanggil dari luar itu?”
Mereka menjawab, “Tentu Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Lalu Rasulullah saw menjelaskan, “Ini adalah iblis yang terkutuk itu—semoga Allah senantiasa melaknatnya.”
Kemudian Umar ra meminta izin kepada Rasulullah saw sembari berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku untuk membunuhnya?”
Beliau menjawab, “Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk makhluk yang tertunda kematiannya, sampai batas waktu yang telah diketahui (hari kiamat)? Akan tetapi, sekarang kalian membukakan pintu untuknya. Sebab ia diperintah untuk datang ke sini, maka pahamilah apa yang ia ucapkan dan dengarkan apa yang bakal ia ceritakan kepada kalian.” Baca lebih lanjut

The One Alone (9)

SATU-SATUNYA eksistensi adalah eksistensi Allah. Allah Mahatinggi berfirman melalui Utusan-Nya berkata kepada Musa (as):

Wahai hamba-Ku, Aku sakit tetapi engkau tidak datang menjenguk-Ku; Aku lapar tetapi engkau tidak memberi-Ku makan…

Allah Yang Mahatinggi secara jelas menyatakan bahwa wujud dari orang yang sakit adalah wujud-Nya, demikian pula wujud orang yang lapar adalah wujud-Nya. Apabila yang sakit dan yang miskin adalah Dia, maka wujudmu adalah wujud-Nya juga. Dengan cara yang sama, segala sesuatu yang tersusun dari elemen-elemen dan peristiwa-peristiwa adalah Dia juga.

Ketika rahasia dari sebuah atom keluar dari semua atom yang darinya elemen-elemen tersebut diketahui, rahasia dari keseluruhan alam semesta yang nyata dan yang gaib akan ditunjukkan. Kemudian engkau tidak akan menyaksikan apa pun selain Allah baik di dunia ini ataupun di akhirat. Engkau akan menyaksikan seluruh eksistensi di dunia dan di akhirat, segala nama dan sesuatu dinamai dengan nama-nama tersebut dan wujud-wujud mereka, sebagai Wujud-Nya saja. Engkau akan melihat Allah tidak menciptakan sesuatu untuk selamanya. Baca lebih lanjut