Break the Form, Lose the Donkey

From the Teachings of Mawlana Shaykh Kabbani
Sufi Meditation Center, Vancouver, BC

Bismillahi Rahmaani Raheem. Alhamdulillah sharing from Mawlana Shaykh’s teachings that; Allah (SWT) is describing, “I am not in the Heavens and I am not on this Earth, but I am in the heart of My believer, qalbun mum’in baytullah.” From Mawlana Shaykhs teachings, an important reality begins to open; whether it is the practise of going for Hajj and circumbulating the Ka’aba, or the praying, or the whirling and other expressions of our love through different practises; there is a reminder for myself that the Prophet (s) is teaching us from that holy hadith that Allah opens a nearness to Himself when the servant approaches through voluntary worship; then Allah (SWT) begins to love that servant, through his voluntary prayers. And the Prophet (s) describes that if Allah (SWT) dresses that servant with His love; their hearing will be from a Divine Hearing, from Allah’s Hearing; their seeing will be from Divine Seeing and their breathing will be from the Divine Breath. And also their speech will be from the Divine and Heavenly Words; their hands and their movement and every action will be dressed from the Divine Oceans. Baca lebih lanjut

2: Fashshu Hikmatin Naftsiyyatin fi Kalimatin Syaitsiyyah (Hikmah Penghembusan dalam Kalimat [Ruh] Syitsiyah)

Bab ini berkaitan dengan dua tema utama: pertama, karunia Ilahi dan kedua, fungsi Penutup para wali dan Penutup para rasul. Sekaitan dengan yang pertama, Ibn ‘Arabi juga menyinggung tema kelatenan (latency) dan watak serta kemungkinan mengetahui watak seseorang.

Dalam bagian pertama pasal ini Syaikh al-Akbar membahas persoalan karunia Ilahi. Ia membagi karunia Ilahi ke dalam berbagai cara dan mendiskusikan seluruh hubungan antara permohonan dan pengabulan atas suatu permohonan, baik diucapkan maupun secara implisit. Baca lebih lanjut

Konsep-konsep Kunci Metafisika Ibn ‘Arabi: Tanzih dan Tasybih

syekh-akbar-ibn-arabi

DALAM perspektif Ibn ’Arabi, sebagaimana kita baca, dualitas al-Haqq dan al-khalq bukanlah suatu dualitas wujud yang hakiki melainkan suatu dualitas dari apa yang kita sebut aspek-aspek yang berbeda. Aspek-aspek yang berbeda diidentifikasi dalam filsafatnya dengan apa yang disebutnya transendensi (tanzih) dan imanensi (tasybih). Dalam doktrin tanzih dan tasybih Ibn ’Arabi, tasybih tidak dipahami dalam arti bahwa Tuhan memiliki pendengaran atau penglihatan, atau tangan dan seterusnya, namun sebaliknya Dia imanen dalam seluruh pendengaran dan penglihatan. Ini merupakan imanensi-Nya. Di sisi lain, Esensi-Nya tidak terbatas kepada satu makhluk atau sekelompok makhluk yang mendengar dan melihat, namun dimanifestasikan dalam seluruh makhluk apa pun. Dalam artian ini, Tuhan adalah transenden karena Dia di atas seluruh limitasi dan individualisasi. Sebagai suatu substansi universal, Dia adalah Esensi dari semua itu. Dengan demikian, Ibn ’Arabi mereduksi tanzih dan tasybih kepada kemutlakan (ithlaq) dan keterbatasan (taqyid).

Secara empatik, Ibn ’Arabi menolak antropomorfisme dan korporealisme, dan doktrin inkarnasi (hulul) Kristen. Mengatakan bahwa Kristus adalah Tuhan adalah benar, katanya, dalam arti bahwa segala sesuatu yang lainnya adalah Tuhan, demikian juga mengatakan bahwa Kristus adalah putra Maria juga benar. Namun mengatakan, bahwa Tuhan adalah Kristus putra Maria adalah salah, karena ini mengimplikasikan bahwa Dia adalah Kristus dan bukan yang lain. Tuhan adalah Anda dan saya serta segala sesuatu yang lainnya di alam semesta. Dia adalah segala sesuatu yang dapat dipersepsi dan tak dapat dipersepsi; material ataupun spiritual. Adalah kufur untuk mengatakan bahwa Dia adalah hanya Anda atau saya sendiri atau hanya Kristus, atau membatasi-Nya dalam bentuk apa pun, bahkan dalam suatu bentuk konseptual.

Ketika seseorang mengatakan bahwa ia telah melihat Tuhan dalam sebuah mimpi dengan warna, ukuran, ataupun bentuk tertentu, segala yang ia ingin katakan adalah Tuhan telah menunjukkan Diri-Nya kepadanya dalam salah satu bentuk bentuk tak terbatas-Nya, karena Dia menjelmakan Diri-Nya dalam bentuk intelijibel juga dalam bentuk konkret. Jadi, apa yang sebenarnya orang itu lihat adalah bentuk Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.

Ibn ’Arabi memandang bahwa transendensi dan imanensi adalah dua aspek fundamental Realitas. Jika kita ingin menjelaskan Realitas atau Hakikat tidaklah cukup dengan hanya menjelaskan satu aspek saja. Al-Haqq yang darinya aspek transendensi dijelaskan sama dengan al-Khalq yang darinya imanensi ditegaskan, sekalipun (secara logis) Pencipta jelas berbeda dari yang diciptakan.

Meski Syaikh menegaskan bahwa segala sesuatu adalah Tuhan (dari aspek imanensinya), ia menjaga betul untuk tidak mengatakan sebaliknya. Tuhan adalah Ketunggalan di balik multiplisitas dan Realitas di balik Penampakan (dari aspek transendensinya). Ia mengatakan bahwa ia bukanlah transendensi sebagaimana ditegaskan oleh manusia yang menjabarkan bahwa watak hakiki Tuhan sebagai Yang Absolut. Bahkan transendensi yang paling abstrak (yang dikonsepsi manusia) adalah sebentuk limitasi, karena ia mengimplikasikan, setidaknya, eksistensi seorang penegas atau subjek selain eksistensi Tuhan. Lebih jauh, menegaskan sesuatu atas sesuatu berarti membatasinya. Karena itu, penegasan bahkan atas transendensi mutlak Tuhan adalah satu pembatasan atau limitasi. Penegasan, yang dilakukan oleh intelek, atas transendensi Tuhan hanya merupakan suatu jalan yang tepat dalam mengkontraskan dua aspek Realitas sebagaimana kita memahaminya, tetapi itu tidak menerangkan sifatnya.

Ali bin Abi Thalib dan Tasawuf

Caner K. Dagli

“Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya,” (Nabi saw)

Tidak ada satu tokoh dalam sejarah Islam awal, selain Nabi sendiri, yang menjadi pusat kontroversi dan perdebatan seperti Ali bin Abi Thalib. Kontroversi ini muncul pada lebih dari satu tataran, mulai dari persoalan-persoalan politik dan sejarah hingga masalah-masalah di bidang teologi dan metafisika. Keluasan intelektual dan kedalam spiritual Ali telah mengilhami seluruh penjuru dunia Islam, baik Sunni maupun Syi’i, dan sekalipun banyak konflik di antara kedua mazhab besar Islam ini yang berpusat pada pribadi Ali, satu pihak tidak pernah bisa menuduh yang lain kurang memiliki kecintaan dan penghormatan kepadanya. Dalam hal ini, secara paradoks, Ali menyatukan kaum Muslim dalam kecintaan mereka kepadanya, tetapi sentralitasnya dalam sudut pandang yang berlawanan menjadikannya sumber perselisihan yang serius. Baca lebih lanjut

Suatu “Benturan Peradaban”? Pengaruh Tasawuf di Eropa*

Eric Geoffroy

Konferensi di Universitas Kolumbia

Abad Pertengahan

Ketika kontribusi ilmiah, filsafat, dan teologi dari peradaban Islam kepada Eropa Pertengahan merupakan suatu fakta baku dan mendapatkan pengakuan relatif di kalangan masyarakat Barat, pengaruh tasawuf dan spiritualitas Islam secara umum, pada Eropa Daratan tidak dikenal. Kami memiliki sejumlah bukti di lapangan ini, namun juga banyak titik simpang perihal cara yang di dalamnya transmisi antara Timur dan Barat terjadi. Hal ini terutama karena kenyataan bahwa tasawuf adalah ilmu yang subtil, suatu disiplin esoteris yang sering dirahasiakan (sirr, dalam bahasa Arab).

Mari kita ambil contoh Ibn Sab’in (abad ke-13), yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Ceuta—suatu komuni Spanyol di bagian utara Maroko. Sebagai seorang filosof dan logikawan, ia dikenal karena pernah menjawab Sicilian Questions-nya Frederic II dari Hohenstaufen, kaisar Jerman dan raja Sicilia, yang merupakan mangsa bagi persoalan metafisis dan pencarian solusi dalam pemikiran Islam. Akan tetapi, Ibn Sab’in juga seorang Sufi dan guru ruhani penting, bahkan lebih berani daripada Ibn ‘Arabi mengenai doktrin Sufi wahdat al-wujud, yang ia sebut “Kesatuan Mutlak” (al-wahdah al-mutlaqah). Baca lebih lanjut

Rahasia Puasa Menurut Ibn ‘Arabi*

Dalam al-Futuhat al-Makkiyyah Bab 71 “Tentang Rahasia Puasa”, Ibn ‘Arabi mendedah rahasia-rahasia yang terkandung dalam puasa. Sebelumnya, Syekh al-Akbar menuliskan beberapa bait puisi tetapi dalam tulisan ini, puisi-puisinya tidak kami sertakan mengingat ruang yang terbatas.

Puasa adalah Pencegahan dan Peninggian

Semoga Allah menolong Anda! Ketahuilah, bahwa puasa (shawm) adalah pencegahan dan pengangkatan. Orang mengatakan, “Siang telah mencapai ketinggian penuhnya (shama)” ketika ia sudah mencapai titik tertingginya. (Penyair) Imru’l-Qays berkata:

Ketika siang mencapai ketinggiannya (shama) dan panasnya demikian kuat, Baca lebih lanjut

Pendekatan Filosofis dan Mistis terhadap Dialog Peradaban

Salah satu artikel yang muncul di Jurnal AL-Huda edisi 15 adalah tulisan Vida Ahmadi, seorang profesor perempuan yang menggeluti tasawuf. Bagi yang berminat pada Jurnal Al-Huda No.15 ini, silakan memesan ke Hasan Shahab di 021-7996767, Bagian Pemasaran.

Vida Ahmadi

PERKATAAN merupakan suatu manifestasi kebijaksanaan dan cinta. Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, sebagai suatu produk pemilik cinta dan kearifan, dan karena alasan ini ia adalah manusia yang pantas untuk dihubungkan dengan Tuhan, Sumber Keberadaan. Agama merupakan sumber yang paling berkuasa yang menarik manusia kepada filsafat dan mistisisme. Filsafat —menggunakan konsep dialektika dan dialog sebagai hasilnya, dan menggambarkannya di atas konsep “kesatuan dalam keragaman” dan “keragaman dalam kesatuan”— berusaha untuk mendamaikan pertentangan-pertentangan dalam kehidupan manusia sehingga ia bisa mencapai kesempurnaan. Mistisisme, dengan kesatuan wujud sebagai prinsip sentralnya, mendamaikan pertentangan kehidupan manusia dengan memulai suatu dialog bersahabat dan mengilhami manusia dengan suatu gerakan yang diilhami oleh cinta. Baca lebih lanjut