CUKUP ITU BERAPA?


Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat petani menjadi kaya raya seberapa pun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”.
Si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubuk mungilnya untuk disimpan di sana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Baca lebih lanjut

Hidup Satu Jam Tanpa Dosa

Seorang teman mengirimi sms yang berbunyi begini:

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya, “Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”
Ayahnya memandang anak kecil itu dan berkata, “Tidak, nak”.

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan bertanya lagi, “Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”
Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.
“Oh, ayah, bagaimana kalau satu bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?”
Ayahnya tertawa, “Mungkin tidak bisa juga,nak.”

“Ok, ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita hidup tidak bisa berdosa dalam satu jam saja?”
Akhirnya ayahnya mengangguk, “Kemungkinan besar, bisa nak, dan kasih Tuhanlah yang akan memampukan kita untuk hidup benar.”

Anak ini tersenyum lega. “Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah. Lebih mudah menjalaninya, aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar…”

***
Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati. Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memerhatikan cari kita menjalani hidup ini. Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun, akan menjadikan kita terbiasa, dan apa yang sudah biasa kita lakukan, akan menjadi sifat, dan sifat akan berubah menjadi karakter, dan karakter akan menjadi destiny…

Hiduplah 1 jam… tanpa kemarahan, tanpa hati yang jahat, tanpa pikiran negatif, tanpa menjelekkan orang, tanpa keserakahan, tanpa pemborosan, tanpa kesombongan, tanpa kebohongan, tanpa kepalsuan, … Lalu ulangi lagi untuk 1 jam berikutnya …
Hiduplah 1 jam… dengan kasih, dengan suka cita, dengan damai sejahtera, dengan kesabaran, dengan kelemahlembutan, dengan kemurahhatian, dengan kerendahhatian, dengan penguasaan diri, … dan ulangilah untuk 1 jam berikutnya.

—-
Pesan ini — yang bukan short message ini — mengingatkanku pada konsep ibn al-waqt dalam konteks tasawuf. Para nabi, wali, imam, adalah putra sang waktu. Kehidupan mereka yang didominasi oleh Nama Al-Hasib (Yang Maha Penghitung) menjadikan mereka selalu bermuhasabah dari saat ke saat, dari jam ke jam, dari waktu ke waktu. Barangkali tak heran mereka menjadi orang yang maksum, terjaga dari kesalahan.
Semoga pahala diberikan kepada temanku ini karena mengingatkanku kembali pada apa yang sering terlupakan.

Lewat Jendela Mana Kita Memandang?

Sepasang orang muda yang baru menikah menempati sebuah rumah di sebuah kompleks perumahan.

Suatu pagi sewaktu sarapan, sang istri melalui jendela kaca mereka melihat tetangganya sedang menjemur kain.

“Cuciannya kelihatan kurang bersih ya”, kata sang istri. “Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus.”

Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberi komentar apa pun.

Sejak hari itu, setiap wanita tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci pakaian-pakaiannya

Seminggu berlalu, sang istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih. Dia berseru kepada suaminya, “Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar? Siapa ya kira-kira yang sudah mengajarinya?”

Sang suami berkata, “Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca kita.”

Dan begitulah kehidupan.

Apa yang kita lihat pada saat menilai orang lain tergantung pada kejernihan pikiran (jendela) lewat mana kita memandangnya.

Good morning. Happy blessing thursday!

Pesan Surga

Kemarin saya mendapat sms yang berbunyi demikian.

“Hanya ada 3 hari dalam hidup ini.

Pertama: HARI KEMARIN. Kamu tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi. Kamu tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. Kamu tak bisa mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang kamu rasakan kemarin. Biarkan hari kemarin lewat. Lepaskan saja.

Kedua: HARI ESOK. Hingga mentari esok hari terbit, kamu tak tahu apa yang akan terjadi. Kamu tak bisa melakukan apa-apa esok hari. Kamu tak mungkin tahu, sedih atau ceria di esok hari. Karena esok hari belum tiba, biarkan saja. Baca lebih lanjut

Telur, Wortel dan Kopi

Sms Teman yang Inspiratif

Seorang wanita yang baru saja menikah, datang pada ibunya dan mengeluh soal tingkah laku suaminya. Setelah pesta pernikahan, baru ia tahu karakter asli sang suami: keras kepala, suka bermalas-malasan, boros dsb.

Ibu muda itu berharap orang tuanya ikut menyalahkan suaminya. Namun betapa kagetnya ternyata ibunya diam saja. Bahkan sang ibu kemudian malah masuk ke dapur, sementara putrinya terus bercerita dan mengikutinya. Sang ibu lalu memasak air. Baca lebih lanjut

Sebuah Catatan Lebaran 2008

I

Waktu di sini tersendat-sendat. Mungkin karena aku tidak menyukai kenangannya. Ketika remaja pernah bereksperimen memutuskan diri dengan masa lalu. Hasilnya malah ikatan yang lebih tegas: kebencian pada hal-hal buruknya, kesenangan pada hal-hal yang menjadi spirit bagi kebaikan yang kulakukan, dan dikenalinya benang  merah kepribadianku. Menurutku ini agak salah. Menjalani kehidupan seharusnya membiarkan diri merangsek ke depan, sedang aku ‘pernah’ terlalu serius menjelajahi masa lalu. Maksudku, dan ini secara psikologis sangat mengganggu, masa lalu itu semata masa laluku saja. “Aku saja” , ini membuatku mempertanyakan, mempermasalahkan dan melawan takdir sebagai Ari***. Aku ingin menjadi yang lain dengan menolak. Dan kusebal karena masa lalu selalu menguntit sehingga kita menyebutnya kenangan. Hai, di sini tempat aku dibesarkan! (1/10/08; 17:44:23) Baca lebih lanjut

Anak-anak dan Kenakalan Mereka

Suatu pagi, saya mendapat long message bukan short message lagi dari A Ipin mengenai kenakalan anak-anak. Begini pesannya:

Senin sore, 1September 2008

Saya ditelpon seorang guru untuk sebuah kabar yang terlalu membebaninya: dua tahun yang lalu, di kelas 6, seorang muridnya dibawa masuk ke kamar mandi oleh empat temannya. Di dalam ia dipaksa telanjang untuk difoto dengan menggunakan kamera di HP. Ortunya teramat marah: mengancam sengit kami, berjanji mempidanakan, … beruntung kami masih dipersilakan menyelesaikan. Dengan catatan, kami membawa kabar gembira dalam penyelesaian kasusnya. Apa yang dimaksud kabar gembira, kami hanya menduga: pengakuan dari keempat anak dan permohonan maaf. Baca lebih lanjut

Aripin Ali tentang Refleksi Persiapan Berpuasa

1

Aku ditanya baik-baik, “Apa yang kamu siapkan untuk puasa?” Sayang sekali tidak ada. Bahkan aku tidak mengerti apakah persiapan itu seperti wudu untuk salat?; seperti belajar untuk ujian?; seperti perbekalan yang akan kita nikmati di tempat wisata? Kadang aku cuma memandang puasa seperti makanan enak yang baru dicicipi rasa berbedanya. Selera makanku ya biasa saja, walau yang telah dicicipi membuat tanda dalam kenangan, ya aku tetap saja aku perlu makanannya dulu. Baca lebih lanjut

Suatu Jumat di SD Hikmah Teladan

Laporan khusus A Ipin tentang peristiwa shalat Jumat di SD HIkmah Teladan:

Khatib sudah setengah jalan, Yudhis anak kami yang autis, berdiri persis di depan mimbar. Khotib mengutip al-Ghazali menyebut 5 ciri orang yang berpuasa pada tingkat khusus “… kedua adalah tidak mengghibah…” Apa itu ghibah? tanya Yudhis terdengar sampai shaf paling belakang. Tidak ada keributan. “…ketiga…” Yudhis bergerak ke samping mimbar, berdiri di tempat imam salat. Terpana melihat bayangan dirinya di dinding berlapis keramik, lalu berjoget dengan seksama mengamati bayangannya. Baca lebih lanjut

Kisah Seorang Anak Buangan

Suatu hari, saya mendapat sms dari A Ipin. Begini bunyinya:

I

Hari ini pertemuan dengan guru-guru kelas 5. Saya menanyakan ada huru-hara apa di kelas 5? “Huru-hara” saya ucapkan sambil tersenyum karena memang iseng memilihnya. Ternyata, dikabulkan ada huru-hara. Ada kasus pencurian sebanyak lima kali di ketiga kelas 5. Tiga kasus diketahui dilakukan 1 anak (: perempuan baru selesai menstruasi pertamanya) dan dua kasus mengarah juga padanya. Diketahui dia berkasus sejak kelas 3 sedemikian sehingga ‘semua’ ortu mencapnya demikian; setiap ada pencurian, semua berseru”siapa lagi?” Saya mendiskusikan bagaimana siasat mengungkap kasusnya. Teman-teman menunjukkan kegagalan siasat yang saya ajukan. Kemampuannya berdalih membuatnya menang. “Intimidasi” banget kata saya, saat meminta teman-teman tidak beranjak menginterogasi sampai pengakuan. “Saya takut…” keluh seorang guru diamini yang lain. Inilah saat saya mendengar: ortunya (yang mulai menampiknya) adalah ortu angkat dan menceritakan, ortu sebenarnya: ayahnya, preman, ibunya PSK. Ia buangan. Dan kini… (8-8-’08 ; 11:40:35) Baca lebih lanjut