Ketika Aku Harus Memilih

(dari milis sebelah)

Aku pernah berfikir, bahwa setiap manusia pasti ingin memiliki seorang kekasih. Kekasih yang akan terus bersamanya, sehidup semati, dalam suka maupun duka tak akan terpisahkan. Sekarang, aku memilih amal sholeh sebagai kekasihku. Karena ternyata hanya amal sholeh-lah yang akan terus menemaniku, bersamaku, bahkan menemaniku dalam kuburku, kemudian amal sholehku pula lah yang menemaniku menghadap Allah.

Aku pernah berfikir, setiap manusia pastilah punya goresan masalah dengan manusia lain, sehingga wajar jika manusia memiliki musuh masing-masing. Kini aku memilih menjadikan setan sebagai musuh utamaku, sehingga aku lebih memilih melepaskan kebencian, dendam, rasa sakit hati, dan permusuhanku dengan manusia lain.

Aku pernah selalu kagum pada manusia yang cerdas, dan manusia yang berhasil dalam karir, atau kehidupan duniawinya. Sekarang aku mengganti kriteria kekagumanku ketika aku menyadari bahwa manusia hebat dimata Allah, adalah hanya manusia yang bertaqwa. Manusia yang sanggup taat kepada aturan main Allah dalam menjalankan hidup dan kehidupannya.

Dulu aku akan marah dan merasa harga diriku dijatuhkan, ketika orang lain berlaku zhalim padaku, menggunjingkan aku, menyakiti aku dengan kalimat kalimat sindiran yang disengaja untuk menyakitiku. Sekarang aku memilih untuk bersyukur dan berterima kasih, ketika meyakini bahwa akan ada transfer pahala dari mereka untukku jika aku mampu bersabar… Dan aku memilih tidak lagi harus khawatir, karena harga diri manusia hanyalah akan jatuh dimataNya, ketika dia rela menggadaikan dirinya untuk mengikuti hasutan setan…

Dulu aku yakin, dengan hanya khatam Al Qur’an berkali kali maka jiwaku akan tercerahkan. Kini aku memilih untuk mengerti dan memaknai artinya dengan menggunakan akalku, dengan mengaktifkan qolbuku dan mengamalkannya dalam keseharianku, maka pencerahan itu baru bisa aku dapatkan.

Ketika aku harus memilih…bantu aku Yaa Rabb….untuk selalu memilih yang benar dimataMu…({})

“Balak Dua”

Ini “ejekan” istriku kepadaku karena pada dahiku terlukis dua tanda hitam (seakan bekas sujud). Jujur aku jengkel dan kesal dengan dua tanda tersebut karena, pertama, ia sering diasosiasikan dengan ciri-ciri dari salah satu kelompok Islam yang aku sendiri tak menyukainya. Namun, alasan kedua, karena aku dipandang sebagai orang yang taat beragama, tentu bagi orang tertentu. Pfffuih, apalagi ini.

Sampai suatu kejadian, aku sempat marah dan tidak bertegur sapa dengan orang yang menyinggung-nyinggung hal itu. Mungkin karena ia merasa aku dekat dengannya, ia mencandaiku itu. Kusemprot ia dengan sejuta alasan. Hingga kini aku malas untuk bertegur sapa.

Dengar, kawan, “balak dua” yang kupunya ini bukan karena aku taat beragama, tetapi kulitku yang sensitif jadi penyebabnya. Ini menghalangiku untuk masuk ke wilayah-wilayah sosial tertentu karena asosiasi dahi hitam yang dimiliki satu kelompok Islam. Pernah kucoba untuk menghilangkannya dengan sebuah obat kulit tapi tidak berhasil.
Yang ada malah kulitku semakin menghitam. Ah, sudahlah, barangkali Tuhan menegurku dengan cara ini. Mungkin Dia menginginkanku aku masuk pada ciri kelompok secara maknawi, atau Dia mengingatkanku bahwa aku sebetulnya seorang hipokrit. Hmmmh…..

Sejarah Para Pemimpin Islam


Dalam buku Manusia dan Alam Semesta: Konsepsi Islam tentang Jagat Raya, Muthahhari menyebutkan beberapa definisi sejarah. Salah satunya adalah cabang pengetahuan tentang masa lalu dan kondisi yang berkaitan dengan masa lalu. Dengan makna pertama ini, sejarah berarti: (a) pengetahuan tentang masalah individu dan peristiwa yang berkenaan dengan individu, bukan pengetahuan tentang hukum umum dan aturan pergaulan; (b) pengetahuan transmitif; (c) pengetahuan tentang “wujud”, bukan tentang “menjadi”; dan (d) pengetahuan mengenai masa lalu.


Urgensi mempelajari sejarah juga ditekankan oleh sumber-sumber orisinal Islam seperti Al-Quran dan Hadis. Karena itu, sejarah menjadi salah satu sumber pengetahuan dan doktrinal bagi umat Islam termasuk juga sejarah politik dan kekuasaan Islam. Agar tidak terjebak pada romantisme sejarah, para peminat sejarah seyogianya melepaskan asumsi-asumsi historis yang selama ini dipegangnya sehingga ketika menemukan fakta-fakta anyar—seperti dalam buku ini—ia tidak menegasikannya. Secara tajam, sang penulis otoritatif dalam kesejarahan Islam, Rasul Ja’fariyan, berhasil menganalisis fakta-fakta sejarah yang ada dan mengajak pembaca untuk berpikir kritis.
Dialihbahasakan dari The History of Caliphs, buku tebal ini kami pecah menjadi tiga seri. Seri pertama, Sejarah Para Pemimpin Islam: Dari Abu Bakar Sampai Usman; seri kedua, Sejarah Para Pemimpin Islam: Dari Imam Ali Sampai Monarki Muawiyah; dan seri ketiga, Sejarah Para Pemimpin Islam: Dari Gerakan Karbala Sampai Runtuhnya Bani Marwan.
Dengan membaca sejarah, kita dapat menemukan “hukum besi”-nya sehingga masa depan Islam menjadi lebih baik lagi. Jangan tabu belajar sejarah!

Harga: Rp 150.000,-(3 buku)