The One Alone (11)

DENGAN kata-kata Ilahi ini Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa âlihi wassalam] mengisyaratkan bahwa barangsiapa yang mati sebelum mati [akan] menyadari seluruh keberadaan-Nya sebagai keberadaan Allah dan tidak melihat perbedaan antara dirinya dan Allah, antara sifat-sifatnya dan sifat-sifat Allah. Ia juga tidak melihat kemestian atau kemungkinan perubahan apapun dalam kedudukannya. Karena jika keberadaannya bukan Allah, bahkan dia tidak bisa mengenal dirinya sendiri.

Jadi ketika engkau mengenal diri sendiri, diri dan keegoisanmu akan pergi, dan engkau akan tahu bahwa tidak ada sesuatu pun dalam eksistensi selain Allah.

Syarat untuk pengetahuan-diri adalah mengetahui bahwa apabila engkau memiliki suatu wujud untuk dirimu sendiri, independen dari wujud lain, niscaya engkau tidak akan perlu untuk melenyapkan dirimu sendiri di dalam Allah atau untuk mengenal dirimu sendiri. Engkau adalah, dirimu sendiri, a god – maujud, dan tanpa eksistensi lain selain engkau – sementara itu adalah Allah Yang Mahatinggi yang bebas dari eksistensi tuhan lain selain Dirinya.

Dan ketika engkau baru mengenal dan mengetahui dirimu, niscaya engkau yakin bahwa engkau tidaklah eksis atau benar-benar eksis, entah sekarang, sebelumnya, ataupun di masa depan. Maka pengertian lâ ilâha illallah—tiada tuhan selain Allah, “tiada wujud selain wujud-Nya, atau tidak ada sesuatu selain Dia, dan Dia adalah the Only One—akan menjadi jelas bagimu.

Sumber: “The One Alone”, dalam Ibn ‘Arabi, What the Seeker Needs, hal.37-38.

Iklan

The One Alone (10)

Tentang Mati Sebelum Mati
Dia yang memikirkan dirinya sebagai sesuatu selain Allah tentunya bukan selain Dia, karena Allah Ta’ala bebas dari semua eksistensi selain Esensi Ilahi-Nya. Semua, yang terlihat maupun tidak terlihat, yang eksis pada-Nya, bersama-Nya, di samping-Nya, tidak lain adalah Dia, karena yang lain itu sendiri adalah Dia. Barangsiapa melihat dirinya demikian dan diberkati dengan kualitas-kualitas ini, tidak memiliki ikatan ataupun tujuan.
Siapa pun mati ketika, dengan kehendak Allah, waktu nyawa pinjamannya berakhir. Wujud materi — yang disebut kehidupan — berakhir pada waktu yang ditentukan, kehilangan seluruh karakter dan kualitasnya, baik dengan kebaikan maupun keburukan. Barangsiapa yang mati secara spiritual sementara kehidupan materinya berlanjut juga kehilangan karakteristiknya entah baik maupun buruk. Tak ada sesuatu pun yang tersisa dari dirinya. Yang ada hanyalah Allah, yang menempati dirinya. Dirinya menjadi Diri Allah. Sifatnya menjadi sifat Allah.
Itulah yang dimaksud oleh Pemimpin kita, Rasulullah saw ketika bersabda, “Matilah engkau sebelum engkau mati.”

Yakni, “Kenalilah dirimu, sebelum engkau mati.” Melalui Nabi-Nya, Allah berfirman:
Hamba-Ku datang mendekati-Ku dengan ibadah amal-amal baik hingga Aku mencintai-Nya; dan ketika aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran pada telinganya; Aku menjadi penglihatan pada matanya; Aku menjadi kata-kata pada lidahnya; Aku menjadi tangan yang dengannya ia memegang; Aku menjadi kekuatan setiap bagian wujudnya.

Sumber : TOA, hal.37

Terlalu Banyak Duduk Undang Kematian

Para pakar kesehatan di London mengeluarkan peringatan mengejutkan: duduk itu mematikan. Mereka memperingatkan bahwa duduk dalam jangka waktu lama, meski Anda juga berolah raga secara teratur, dapat berakibat buruk bagi kesehatan.

Tempat Anda duduk pun tak jadi soal, entah di kantor, sekolah, mobil, serta di depan komputer atau televisi. Masalahnya adalah, berapa lama Anda melakukannya. Baca lebih lanjut

Tukang Cuci

Seorang akademisi muda yang cerdas mengisi aplikasi untuk posisi manajerial di sebuah perusahaan besar. Dia lulus pada interview tahap pertama, dan tahap selanjutnya adalah interview dengan jajaran direksi. Sang direktur menemukan prestasi-prestasi cemerlang dalam CV anak muda tersebut. Sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, anak muda tersebut selalu mendapat peringkat pertama. Baca lebih lanjut

Tanya Jawab dengan Para Pemuka Akbarian (I)

Berikut ini tanya jawab imajiner antara seorang calon peminat tasawuf dengan para pemuka Akbarian, yakni mazhab tasawuf yang mengikuti pandangan-pandangan Syekh Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi

Soal 1:
Bismillah. Dari Abu Dawud ra, dalam Jami al-Ushul karya Ibn Atsir, diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa aalihi wassalam) dan bala tentaranya mendaki gunung-gunung, mereka bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar). Ketika mereka turun, mereka bertasbih (mengucapkan Subhaanallah). … Sebetulnya, apa makna riwayat itu menurut Anda?

Shadr al-Din al-Qunawi, anak tiri dan murid Ibn ‘Arabi menjawab:
Ketahuilah, bahwa tinggi dan naik adalah keunggulan, dan itu termasuk takabur (menganggap diri besar). Jika keunggulan itu tampak, maka itu merupakan bentuk dari takabur. Jika keunggulan itu tersembunyi, maka itulah makna dari takabur. Karena kesombongan hanya milik Allah Swt semata dan karena ketika menaiki gunung-gunung itu suatu bentuk keunggulan itu ada dan muncul, maka pada saat tersebut disunahkan bertakbir. Yakni, bahwa Allah Yang Mahabesar dan Mahatinggi dari adanya sekutu di dalam kebesaran-Nya dalam bentuk yang mengisyaratkan persekutuan. Adapun perintah untuk bertasbih ketika turun, maka itu rahasia kesertaan yang ditunjukkan dengan firman Allah Swt, Dia bersamamu dimana saja kamu berada. (QS al-Hadid [51]:4) Baca lebih lanjut

The Islamic Notion of Mercy

William C. Chittick

Acquaintances of mine who have participated in recent dialogues between Christian and Muslim theologians, such as those organized by A Common Word, report that one of the biggest misunderstandings shown by Christian theologians is the notion that Islam has little or nothing to say about love.
One of the several reasons for this mistaken view is that the early Orientalists — those who first studied Islamic thought in the modern West — imagined that a school of thought known as “Kalam” played the same role in Islam as “theology” does in Christianity. In fact, Kalam has been one of several approaches to knowledge of God, and certainly not the most influential.
Kalam was closely allied with Islamic jurisprudence and typically depicted God as the supreme law-giver. When it mentioned love, it claimed that God loves human beings by issuing commandments, and human beings love God by obeying him. Those who obey go to heaven, and those who disobey go to hell. God deals with human beings strictly in terms of carrots and sticks — forget about love in any normal meaning of the word.
Despite the fact that more recent scholarship has done a much better job of describing the diverse theological approaches of Islamic thought, this has had relatively little effect on the prejudices that Christian theologians picked up years ago in seminary. Pope John Paul II, with all his remarkable accomplishments, provides a good example. In Crossing the Threshold of Hope, he wrote, “The God of the Koran … is ultimately a God outside of the world, a God who is only Majesty, never Emmanuel, God-with-us.” (his emphasis) Baca lebih lanjut