The One Alone (5)

Allah tidak punya sekutu dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya

Allah Yang Mahatinggi adalah makna dari sebelumnya sebelum dan setelahnya setelah, tanpa-Nya, sebelum dan setelah tidak punya arti apa-apa.
Seandainya tidak demikian, [kalimat]
Dia sendiri. Dia tidak punya sekutu

Tidak punya arti apa-apa. Pastinya demikian; jika tidak, sesuatu selain Dia niscaya eksis dengan sendirinya dan tidak tergantung kepada-Nya untuk eksistensinya. Sekutu semacam itu tidak memerlukan Allah untuk eksistensinya dan demikian, menjadi tuhan kedua—dan itu adalah suatu hal yang mustahil sama sekali. Allah Mahatinggi tidak bisa memiliki sekutu-sekutu, dan pasti tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya.

Apabila orang percaya bahwa segala sesuatu eksis di dalam Allah—dari-Nya atau bersama-Nya—bahwa segala sesuatu ini tergantung pada Allah untuk keberadaan mereka, meskipun demikian, segala sesuatu tersebut muncul kepada orang sebagai tuhan-tuhan. Sekalipun rubbubiyyah mereka tergantung kepada Allah, orang yang tetap percaya kepada tuhan-tuhan tersebut bersalah karena mengakui tuhan-tuhan lain sebagai sekutu Rabb kita. Adalah suatu kuburan kesalahan untuk menganggap setiap eksistensi lain sebagai [eksistensi yang] sah di samping Allah, Yang Mahakaya, sekalipun sesuatu itu terlihat sebagai tergantung kepada Allah untuk keberadaannya. Suatu wujud yang telah menyerahkan eksistensinya dan menjadi kosong setelah menyerahkan eksistensinya, masih jauh dari napas ilmu.

Apabila orang merenungkan dirinya sebagai wujud tersebut, maka ia jauh dari mengenal dirinya. Apabila seseorang menganggap dirinya sebagai yang ada di antara wujud-wujud lain dan segala sesuatu yang musnah sebagaimana dia, yang ketiadaannya menjadi kosong dalam ketidakadaan—apabila orang tersebut percaya bahwa ada yang lain yang eksis selain Allah, maka sesungguhnya ia tiada, dan ketiadaannya akan terus berlangsung sepanjang ia menganggap ia eksis. Dia bersalah atas dosa tak terampuni dengan menisbahkan sekutu kepada Allah, padahal ia menganggap bahwa ia mengenal Rabb-nya, karena ia mengenal dirinya. (Bersambung, insya Allah)

Sumber: TOA, dalam What the Seeker Needs, hal.32-33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s