Modern Asceticism: Live More Need Less

The more I focus on living, the less it seems I need.
What does it mean to focus on living? It’s a shift from caring about possessions and status and goals and beautiful things … to caring about actual life. Life includes: taking long walks, creating things, having conversations with friends, snuggling with my wife, playing with my kids, eating simple food, going outside and getting active.
That’s living. Not shopping, or watching TV, or eating loads of greasy and sweet food not for sustenance but pleasure, or being on the Internet, or ordering things online, or trying to get popular. Those things aren’t living – they’re consumerist pastimes that tend to get us caught up in over consumption and mindlessness.
When I focus on living, all those other fake needs become less important. Why do I need television when I can go outside and explore, or get active, or take a walk with a friend? Why do I need to shop when I already have everything I need – I can spend time with someone or create, and I need very little to do that.
These things I do now — they require almost nothing. I can live, and need little.
And needing little but getting lots of satisfaction … that’s immensely rewarding. It’s an economy of resources that I’ve never experienced before.
These days, I need nothing but my loved ones, a text editor, a way to post what I create, a good book, simple plant-based food, a few clothes for warmth, and the outdoors.

The One Alone (4)

ENGKAU TIDAK bisa mengetahui Rabb (Lord)-mu dengan menjadikan dirimu tiada. Banyak orang bijak mengklaim bahwa untuk mengetahui Rabbnya, orang harus menelanjangi dirinya sendiri dari tanda-tanda eksistensinya, menghilangkan identitasnya, dan terakhir menanggalkan dirinya dari dirinya sendiri. Ini merupakan satu kesalahan.
Bagaimana bisa sesuatu yang tidak eksis berusaha menanggalkan eksistensinya? Karena tidak ada suatu materi apa pun yang eksis. Bagaimana bisa sesuatu yang tidak ada, menjadi tidak ada?
Sesuatu hanya bisa menjadi tidak ada setelah ia menjadi sesuatu. Karena itu, jika engkau mengetahui dirimu tidak berwujud, jangan berusaha untuk menjadi tidak ada, engkau akan mengetahui Rabbmu. Jika engkau mengira bahwa untuk mengenal Allah tergantung pada usahamu menanggalkan dirimu dari dirimu sendiri, maka engkau salah menisbahkan sekutu kepada-Nya—satu-satunya dosa yang tidak bisa diampuni—karena engkau mengklaim bahwa ada eksistensi lain di samping Dia, Yang Mahawujud: yaitu engkau dan Dia.
Pemimpin kita, Nabi saw, bersabda:
Barangsiapa mengenal dirinya, mengenal Rabb-nya
Beliau tidak berkata:
Barangsiapa melenyapkan dirinya, mengenal Rabbnya
Bukti adanya sesuatu adalah bahwa ketika ia dianggap tidak ada, lawannya muncul. Karena tidak ada sesuatu selain Allah, membuktikan eksistensi-Nya tidak tergantung pada hilangnya beberapa eksistensi selain-Nya. Dan sebagaimana engkau tidak eksis, engkau tidak bisa berhenti untuk eksis, atau bertransformasi menjadi sesuatu yang lain. Wujudmu tidaklah temporal ataupun eternal, karena engkau tidak punya wujud.
Sayyidina Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya kalian tidak eksis, sebagaimana kalian tidak eksis sebelum kalian diciptakan.”

(TOA dalam What the Seeker Needs, hal.31-32)