Fashshu Hikmatin Ilahiyyatin fi Kalimatin Adamiyyah (Hikmah Ketuhanan dalam Kalimat [Ruh] Adamiyah)

BAB ini, sebagaimana disebutkan dalam judulnya, terutama berkaitan dengan hubungan antara Adam—yang di sini melambangkan arketip manusia—dan Allah. Secara lebih khusus lagi, pasal ini terkait dengan fungsi Adam dalam proses kreatif, sebagai prinsip perantara, transmisi, refleksi, dan sesungguhnya, sebagai alasan utama penciptaan alam (kosmos). Pasal ini juga mengupas hakikat malaikat dan hubungan antara berbagai pasangan konsep penting untuk memahami proses kreatif seperti universal-inividual, niscaya-mungkin, awal-akhir, lahir-batin, cahaya-kegelapan, serta keridhaan dan kemarahan.
Nama-nama Tuhan
Ibn ’Arabi membuka membuka pasal ini, bagaimanapun, dengan topik Nama-nama Ilahi dan hubungan mereka dengan Zat Ilahi. Yang dimaksudkan ”Nama-nama”, ia maksudkan Nama-nama Allah, Nama Allah sebagai Nama Tertinggi. Nama-nama ini berperan, secara esensial, untuk menjelaskan modalitas-modalitas tak terbatas dan kompleks dari polaritas Allah-alam. Nama Tertinggi itu sendiri, sebagai wujud Allah itu sendiri, secara jelas memerikan hakikat menyeluruh dan universal dari hubungan tersebut, yakni bahwa adalah Allah yang merupakan nyata (real), Maha Mencukupi (Self-Sufficient), sementara alam secara esensial tidak nyata dan sepenuhnya tergantung.
Adapun istilah ”Zat” (Essence), menurutnya, wujud Ilahi dalam Diri-Nya, di luar polaritas atau hubungan dengan kosmos. Istilah ini semestinya tidak dibingungkan dengan ”Realitas”, yang mengisyaratkan bahwa Wujud primordial dan Persepsi abadi yang menyatukan polaritas dan nonpolaritas. Maka itu, Nama-nama, termasuk juga Nama Tertinggi, hanya mempunyai relevansi atau pengertian dalam konteks polaritas Allah-alam, sementara Adam menggambarkan secara tepat prinsip itu yang sekaligus memperantarai dan mengatasi keseluruhan pengalaman dari polaritas tersebut, sebagai hubungan penting yang tanpa itu keseluruhan Kesadaran-Diri Ilahi menjadi tidak mungkin.
Adam sebagai Cermin Tuhan
Selanjutnya, Ibn ’Arabi mengilustrasikan fungsi Adami ini dengan salah satu citra favoritnya, yakni cermin. Dengannya ia berusaha mendedah misteri ”refleksi realitas dalam cermin ilusi. Dalam citra subtil ini ada dua elemen, cermin itu sendiri dan subjek pengamat yang melihat citranya sendiri terpantul dalam cermin sebagai objek. Adam, sebagai faktor penghubung dalam proses pemantulan dan pengenalan refleksi, adalah wakil dari cermin dan subjek pengamat. Cermin itu sendiri sebagai simbol daya penerimaan (receptivity) dan daya pemantulan (reflectivity) dari watak kosmis. Terakhir, subjek pengamat adalah Tuhan itu sendiri. Maka itu, oleh Ibn ‘Arabi, Adam dijabarkan sebagai “prinsip refleksi” dan “ruh dari bentuk [yang dipantulkan]”.
Akan tetapi, Ibn ‘Arabi tidak sedang berpikir tentang cermin gelas yang terbungkus secara khusus di zaman kita, melainkan cermin logam yang sangat cemerlang di zamannya. Cermin-cermin tersebut berperan untuk menggambarkan secara lebih baik problem-problem metafisis yang tengah ia bahas. Semula, cermin-cermin tersebut harus digosok untuk menjaga kualitas reflektif mereka dan, lebih jauhnya, ia menuntut keterampilan yang memadai dari pengrajin untuk membuat suatu permukaan rata yang sempurna. Karena itu, dengan cermin-cermin tersebut, senantiasa ada kemungkinan penurunan kualitas permukaan dan distorsi. Dengan demikian, sepanjang cermin tersebut berkilau dengan sempurna dan rata, subjek pengamat bisa melihat bentuk atau citranya sendiri secara sempurna pada permukaannya. Di dalam masalah tersebut, kelainan (the otherness) cermin itu sendiri direduksi hingga ke tingkat minimum dalam kesadaran pengamatan, atau bahkan terhapus sama sekali.
Namun, sampai tingkat tertentu, cermin tersebut merefleksikan suatu citra yang gelap atau terdistorsi, ia memanifestasikan kelainannya sendiri dan turun dari identitas citra dan subjek. Pada dasarnya, citra yang terdistorsi dan tanpurna (imperfect) melukiskan sesuatu yang asing bagi si subjek, yang kemudian bisa menjadi terlibat dalam upaya-upaya untuk memperbaiki dan menyempurnakan cermin sehingga ia bisa menerima suatu kesadaran-diri yang lebih sempurna. Oleh sebab itu, dalam cermin kita mempunyai simbol yang sangat tepat atas polaritas ketuhanan-kosmis. Pada satu titik hubungan Alam kosmis mengancam untuk mencerap dan mengasimilasi subjek dalam infinitas dan kompleksitas dorongan kreatifnya, sementara di sisi lain, Subjek Ilahi tampaknya melenyapkan Alam dalam penegasan ulang identitas, setiap wujud lain sekaligus bukan-lain.
Oleh karena itu, Adam, sebagai arketip manusia, berada dalam watak esensialnya sekaligus medium penglihatan yang dengannya Subjek pengamat memandang citra atau refleksi kosmis-Nya sendiri dan medium refleksi yang dengannya kosmis ”lain” dikembalikan kepada Dirinya. Maka itu, sebagai medium, Adamlah yang merupakan prinsip relasi polar dan yang, dengan sendirinya, mengenal Nama-nama Tuhan, yang ia diperintahkan di dalam al-Quran untuk mengajarinya kepada para malaikat.
Malaikat
Topik mengenai malaikat (angelic) selalu menjadi prolematis bagi teologi. Bagi Ibn ’Arabi, para malaikat agaknya merupakan partikularisasi dari kekuatan Ilahi, baik (kekuatan) kreatif maupun rekreatif, wujud-wujud yang, ketika dekat dengan kehadiran Ilahi, bagaimanapun tidak punya andil dalam aktualitas fisis dan formal dari penciptaan kosmis. Dengan begitu, mereka adalah makhluk spiritual murni, sangat tidak serupa dengan wujud Adamik yang bipolar dan sistemis yang sendiri, di antara semua ciptaan, berbagi dalam Kesadaran-Diri akan Realitas. Demikian pula, penciptaan hewan, sebagai partikularisasi dari kehidupan kosmis murni, berada di luar pengalaman sintetis unik dari keadaan manusia.
Cincin-stempel
Citra lain yang Ibn ’Arabi gunakan dalam pasal ini, dan yang secara khusus selaras dengan karya ini, adalah cincin-stempel. Dalam citra ini, manusia dilihat sebagai stempel yang menutupi dan melindungi rumah harta karun Tuhan dan yang tentang itu dicap tanda Pemiliknya. Maka itu, Adam, sebagai manusia, adalah lilin reseptif yang memikul citra dari Nama Tuhan yang serba-mencakup dan tertinggi, pemecahan atas stempel itu berarti akhir dari seluruh kosmis yang mewujud.
Namun, sebagaimana telah ditunjukkan di atas, sementara dalam penekanan utama atas supremasi abadi atas kutub kognitif dan volitif, Syaikh al-Akbar selalu kembali, seperti dalam pasal ini, kepada mutualitas yang mendasari pengalaman polar, sejalan dengan konsep fundamental dari Kesatuan Wujud (wahdat al-wujud). Dengan demikian, sebagaimana ia tunjukkan di sini, istilah ”asal” (origin) adalah tidak bermakna tanpa mengasumsikan eksistensi dari apa yang ”diasalkan” (originated), dan seterusnya dengan semua konsep polar, termasuk istilah ”Allah” (God) dan ”Rabb” (Lord), yang hanya signifikan jika istilah-istilah yang sesuai ”ahli ibadah” (worshipper) dan ”hamba” (slave) diterapkan.
Senapas dengan premis dasar pemikiran Ibn ’Arabi ini, adalah tidak mengejutkan untuk menemukan bahwa konsepnya atas Iblis atau Setan merupakan sesuatu yang berbeda dari konsep teologi pada umumnya. Intinya, ia melihat prinsip diabolik dalam dua cara. Pertama, baginya, prinsip yang menahan Realisasi-Diri mendorong untuk menciptakan objeknya sendiri-lain dan menekankan hak seutuhnya dari ruh murni dan transendensi, ini merupakan alasan penolakan setan menaati perintah Allah untuk bersujud kepada Adam, dari kedengkian karena integritas ruh murni. Kedua, adalah prinsip itu juga yang menekankan realitas terpisah dari kehidupan kosmis dan substansi serta yang menolak seluruh dominasi (primacy) Ruh. Dengan kata lain, itu adalah prinsip yang akan berusaha menekankan pada realitas terpisih dari kutub, dengan mengorbankan (prinsip) yang lain, dan karena itu merusak keseluruhan orisinal pengalaman Ilahiah sebagai Realitas dengan mencoba memotong hubungan serba-penting antara ”diri” dan ”sang lain” serta menyampaikan masing-masing dari keduanya kepada isolasi yang sama-sama eksklusif dalam absurditas.[]
——-
Diterjemahkan dari “The Wisdom of Divinity in the Word of Adam” karya R.W.J Austin dalam Ibn al-‘Arabi: The Bezels of Wisdom, Paulist Press, 1980, hal.47-50. Diterjemahkan Jumat, 25 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s