PEWARIS MUHAMMADIYYAH (2)*

PEMBUKAAN

Ibn ‘Arabi mengatakan kepada kita bahwa usaha yang bisa dilakukan oleh para pencari hanya sebatas mengetuk pintu. Setelah mencapai pintu, mereka hanya bisa mengetuk sesering yang mereka suka. Adalah Tuhan yang akan memutuskan kapan dan bagaimana Dia akan membuka pintu tersebut. Hanya pada pembukaan pintu warisan seutuhnya bisa terjadi. Hal ini memerikan makna kata “pembukaan” dalam judul karya Ibn ‘Arabi al-Futuhat al-Makkiyyah (“Pembukaan Mekkah”).

Judul tersebut sesungguhnya menyuarakan bahwa pengetahuan dan pemahaman terkandung dalam buku tersebut, tidak diperoleh dengan kajian atau penalaran diskursif. Mereka semata-mata diberikan kepada pengarang ketika Tuhan membukakan pintu baginya. Seluruh kandungan Futuhat, dengan kata lain, menggambarkan serangkai massif penyingkapan dan penyaksian atau “penglihatan mistis” jika Anda lebih suka istilah ini.

Adalah penting untuk dicamkan bahwa Ibn ‘Arabi tidak memusingkan istilah penyingkapan, penyaksian, dan pembukaan dengan “revelation”, yang digunakan secara tepat untuk pengetahuan kenabian. Persisnya ia adalah watak khusus yang menjadikannya penting bagi kita, perbedaaan pokok antara seorang nabi dan seorang wali adalah sang wali adalah “pengikut” (tabi), sedangkan nabi adalah orang yang “diikuti” (matbu’).

Apabila seseorang ingin mencapai “pembukaan”, caranya dengan menyibukkan diri dengan praktik-praktik yang diturunkan seorang nabi dan mengikuti instruksi-instruksi seorang syekh atau guru spiritual (mursyid), yang, secara idealnya, adalah pewaris penuh nabi tersebut. Di antara praktik-praktik yang akan diperintahkan oleh seorang syekh adalah khalwat, yakni pengucilan diri dari masyarakat lain untuk mencurahkan diri sepenuhnya kepada meditasi dan shalat, zikir, yang merupakan permohonan konstan dari nama atau formula Ilahi Qurani.

Ketika salik pemula (the aspiring traveler) melakukan khalwat dan mengingat nama Allah, ketika ia mengosongkan hatinya dari pikiran-pikiran reflektif, dan ketika ia duduk dalam kemiskinan di pintu Tuhannya tanpa apa-apa, maka Tuhan akan melimpahkan kepadanya dan memberinya sesuatu pengetahuan tentang-Nya, rahasia-rahasia ketuhanan, dan ilmu-ilmu agung (F.I 31.4)

Perhatikan, bahwa adalah “hati” (qalb) yang perlu dihampakan dari pemikiran. Dalam penggunaan Al-Quran dan sumber-sumber Islam secara umum, hati mengisyaratkan bukan pada aspek emotif dan afektif watak manusia, melainkan pusat kesadaran, kewaspadaan, dan intelek. Hati adalah fakultas manusia yang bisa meliputi Tuhan dalam keutuhan manifestasi-Nya. Dalam terminologi Ibn ‘Arabi, hanya hati yang bisa mengenali Tuhan dan hakikat-hakikat dalam pola sintetis yang mencakup pemahaman rasional dan penyingkapan suprarasional.

PENUTUP MUHAMMADIYYAH

Ketika Allah membuka pintu untuknya, Ibn ‘Arabi mendapati bahwa dirinya telah mewarisi semua ilmu Muhammad (shallallahu ‘alahi wa âlihi). Di antara ilmu-ilmu ini adalah pengetahuan bahwa tidak seorang pun setelah dia—kecuali Isa di akhir zaman—sebagai pewaris Muhammad (shallallahu ‘alahi wa âlihi) yang paripurna. Pembukaan inilah yang memungkinkan dia untuk melihat dirinya sebagai Penutup Kewalian Muhammad (shallallahu ‘alahi wa âlihi), yaitu, orang terakhir yang mengaktualisasikan modus khusus kewalian yang bersumber dari kepenuhan paradigma yang dibangun oleh Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa âlihi).

Klaim Ibn ‘Arabi bahwa dirinya sebagai Penutup Kewalian Muhammad tidak berarti menyiratkan bahwa ia adalah wali Allah yang terakhir. Sebaliknya, ini artinya tidak ada seorang pun setelah dia, dengan pengecualian Isa Al-Masih, akan mewarisi totalitas amal, keadaan, dan pengetahuan kenabian—suatu totalitas yang telah diwujudkan hanya oleh Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa âlihi) di antara semua nabi.

Siapa pun tidak perlu heran bahwa Ibn ‘Arabi mengistimewakan Muhammmad di sini. Bagaimanapun, ini adalah tradisi Islam, dan setiap tradisi mengistimewakan pendirinya sendiri. Bagi mereka yang lebih memilih bahasa yang lebih universal, kita dapat mengatakan bahwa bagi kaum Muslim, Muhammad adalah perwujudan penuh dari Logos, yang merupakan Sabda Tuhan yang melahirkan semua ciptaan dan semua wahyu. Ibn ‘Arabi menyebut Logos dengan oleh beberapa nama, termasuk “hakikat Muhammadiyah”.

Ibn ‘Arabi menyatakan bahwa ada wali-wali Allah di setiap zaman dan bahwa mereka akan terus mewarisi Muhammad, tetapi mereka tidak akan lagi memiliki akses ke seluruh amal, keadaan, dan ilmu-ilmu Muhammad. Modalitas warisan tersebut akan ditentukan oleh hubungan mereka dengan nabi tertentu yang tercakup oleh kenabian Muhammad yang serba-mencakup. Setelah Penutup Muhammadiyah, “Tidak ada wali yang akan ditemukan ‘terhadap hati Muhammad’” (F. II 49.26)

Klaim Ibn ‘Arabi sebagai Penutup Kewalian Muhammadiyyah telah menunjukkan “ambisius” dan bahkan keterlaluan bagi banyak orang selama berabad-abad.  Para ulama yang antagonistik dan kritis telah menolaknya seketika. Bagaimanapun, faktanya tetap bahwa tidak ada penulis, setelah dia, yang menulis sebuah karya yang mendekati dan cocok dengan kedalaman, kesegaran, dan detail dari interpretasi terhadap sumber-sumber dalam tradisi Islam. Baik seseorang pun ingin menyebutnya Penutup Kewalian ataukah tidak, rasanya sulit untuk menolak gelarnya sebagai “Guru Terbesar (Syaikh al-Akbar).

Jika para wali Allah Muhammadiyyah mewarisi semua ilmu Muhammad, ini berarti bahwa mereka telah dibukakan terhadap semua pengetahuan dan pemahaman yang diberikan kepada semua nabi. Ini adalah pengetahuan yang diberikan dalam bentuk kitab suci Al-Quran. Jadi Penutup Kewalian Muhammadiyyah akan mewujudkan seluruh pesan Al-Quran. Inilah sebabnya mengapa Ibn ‘Arabi dapat menulis mengenai Penutup, “Tidak ada seorang pun yang mempunyai pengetahuan lebih tentang Allah … Dia [Penutup Kewalian] dan Al-Quran adalah saudara” (F. III 329.27)

MEMBACA AL-QURAN

Ibn ‘Arabi menyajikan semua tulisannya sebagai pemerian Al-Quran, yang riwayat memandangnya sebagai Ucapan atau Firman Allah, ekspresi-diri linguistiknya. Dalam pandangannya, Al-Quran menyajikan seluruh pengetahuan kenabian dengan cara sintetis, sementara menawarkan dua modus utama pemahaman manusia, “akal” (‘aql) dan “imajinasi” (khayal). Apabila orang ingin memahami Al-Quran dalam totalitasnya, mereka perlu untuk menggunakan kedua fakultas tersebut.

Masing-masing ayat Al-Quran menghasilkan suatu makna yang tepat sesuai dengan modus yang di dalamnya penafsir memahaminya. Ibn ‘Arabi sering membawa pusat ini dengan mendiskusikan ayat-ayat tertentu sebagai ungkapan kebenaran rasional, dan kemudian menawarkan interpretasi lain dari ayat yang sama atas dasar suatu pemahaman imaginal (atau apa yang bisa kita sebut “kebenaran simbolis”).

Interpretasi ganda seperti itu tidak berarti bahwa Ibn ‘Arabi memandang setiap ayat ayat Al-Quran hanya memiliki dua makna – satu rasional dan lainnya imaginal. Dalam pandangannya, setiap kata dari Al-Quran – belum lagi dengan ayat-ayat dan surah-surahnya – memiliki sejumlah makna yang tak terbatas, yang semuanya dimaksudkan oleh Allah. Pembacaan yang tepat atas Al-Quran membukakan kepada pembaca kepada makna-makna baru pada setiap pembacaan. “Ketika suatu makna terjadi berulang-ulang bagi seseorang yang tengah membaca Al-Quran, artinya dia belum membacakan seperti yang seharusnya dibacakan. Ini adalah bukti dari kejahilannya” (F. IV 367.3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s