PEWARIS MUHAMMADIYYAH (1)1

Para pengikut Ibn ‘Arabi sering menyebutnya sebagai “Penutup Kesucian Muhammadiyyah”, atau sedikit lebih harfiah, “Penutup Kewalian Muhammadiyyah”. Kelihatannya agak jelas bahwa ia mengklaim peringkat tersebut, setidaknya dalam beberapa puisinya. Tapi apa persisnya ungkapan tersebut yang telah ditujukan kepadanya dan tradisi yang ia wakili?

Ungkapan ini berasal dari sebuah gelar yang Al-Quran berikan kepada Muhammad, “Penutup para nabi” (shallallahu ‘alaihi wa âlihi). Hal ini biasanya dipahami untuk memaknai dua hal: pertama, bahwa Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa âlihi) adalah yang terakhir dari 124.000 nabi yang diutus oleh Allah kepada umat manusia; Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa âlihi) menghimpun secara keseluruhan dan mensintesis semua pengetahuan yang Allah berikan kepada semua nabi sebelumnya.

“Persahabatan/Kewalian” berasal dari istilah Al-Quran “teman” (wali). Kata Arab ini memiliki jangkauan makna yang cukup luas seperti: teman, orang yang dekat, seseorang yang diberikan otoritas, dermawan, pelindung. Al-Quran menjadikan wali sebagai salah satu nama-nama Allah. Namun kata ini pun dipakai untuk wali-wali Allah dan wali-wali setan. Wali-wali Allah adalah orang-orang yang telah Dia dekatkan kepada Diri-Nya sendiri, mereka yang Dia lindungi, dan orang-orang yang, berdasarkan kedekatan khusus mereka, telah Dia berikan kewenangan dan kepemimpinan tertentu.

Menjelang masa Ibn ‘Arabi, “wali” adalah sebutan standar untuk orang-orang Muslim masa lalu yang telah mendekati pada penjelmaan model kesempurnaan manusia yang didirikan oleh Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa âlihi). Para sarjana Barat sering menerjemahkan wali sebagai “santo”, namun kata ini harus digunakan secara cermat, karena memiliki konotasi khusus Kristen yang tidak selalu berlaku dalam konteks Islam.

Gagasan tentang persahabatan dengan Allah adalah suatu tema yang penting dalam tulisan-tulisan Ibn ‘Arabi. Secara ringkas, ia mengikuti arus utama tradisi Islam dengan menegaskan bahwa Allah memilih orang-orang yang mewujudkan kualitas terbaik umat manusia sebagai wali-wali-Nya. Wali Allah pertama-tama dan terutama adalah para nabi. Selanjutnya, wahyu-wahyu-Nya kepada para nabi memungkinkan orang lain untuk menjadi teman-temannya juga. Setiap nabi adalah sumber petunjuk dan model kebaikan dan kesempurnaan manusia.

Mereka yang mencapai status persahabatan dengan Allah dengan mengikuti seorang nabi selanjutnya mungkin akan diberi “warisan” dari nabi itu. Warisan tersebut memiliki tiga dimensi dasar: amal perbuatan, atau kegiatan-kegiatan yang layak dan tepat; keadaan-keadaan, pengalaman-pengalaman batin yang memanifestasikan karakter mulia; dan maqam pengetahuan, atau kekokohan dalam pemahaman yang benar tentang realitas dalam berbagai modalitasnya.


1 Diterjemahkan dari “The Muhammadan Inheritance”, Bab 1 untuk buku Ibn ‘Arabi: Heir to Prophets karya William C. Chittick, (Oxford: Oneworld Publications), 2005. Dibahas pertama kali pada Selasa, 16/3/2010 (1 Rabiul Akhir 1431 H).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s