Pada Sebuah Momen

Ah, aku terkenang caramu tersenyum, caramu menatap, intonasimu dalam berbicara, caramu menjepit rambut, caramu mengucapkan, “Terima kasih” dan “selamat jalan”.

Ah, ah, aku terkenang gayamu membelalakkan mata, mengedipkannya, gayamu ketika cemberut. Ah, ah, aku suka sepatu hitammu yang tak semuanya kaumasukkan karena tergesa-gesa ingin pergi bersamaku. Ah, ‘ku masih teringat ucapanmu, ‘Saya hanya pelayan’ ketika kau berusaha melayani habis-habisan

Hingga pada satu ketika kau ucapkan:

– “Waktu senang-senang sudah selesai”

-“Saya sudah senja”

_”Semua sesuai keadaan, semua dalam rancangan Tuhan”

aku melampus sembari bertanya-tanya, ‘begitu mudahkah?’

Hanya kau yang tahu siapa sebenarnya dirimu. Dunia sering terasa aneh bagiku.

(terinspirasi oleh “Pada Sebuah Kafe (4)”  karya Acep Zamzam Noor)