Nasihat-Nasihat Ibn ‘Arabi (3): Tentang Diam

ADA dua macam diam: pertama, diam lisan dari berbicara tentang selain-Allah Swt dengan oknum selain-Allah secara sekaligus; kedua, diam hati dari hal-hal yang muncul di hati mengenai yang maujud, diam sama sekali.  Barangsiapa lisannya diam tetapi hatinya tidak, maka dosanya akan ringan. Barangsiapa lisannya diam dan juga hatinya diam, maka yang rahasia akan menjadi jelas baginya, dan Allah akan menjadi jelas pula baginya. Barangsiapa hatinya diam tetapi lisannya tidak, maka dia akan berkata dengan hikmah. Barangsiapa yang lisan dan hatinya tidak diam, maka itu adalah kekuasaan setan dan ia tunduk kepadanya.

Diam lisan adalah kelas awam yang melakukan suluk. Diam hati adalah sifat para muqarrabin,  diam milik ahli musyahadah. … Barangsiapa menjalankan diam dalam semua keadaan, maka ia tidak akan sempat lagi berbicara kecuali dengan Tuhannya. Sebab diam sama sekali bagi manusia dalam dirinya sendiri adalah mustahil. Bila beralih dari berbicara dengan selain Allah ke berbicara dengan Allah, maka ia akan menjadi orang yang selamat, dekat kepada Allah, dan kuat ucapannya. Bila berbicara ia akan berbicara dengan benar. Sumber pembicaraannya dari Allah. Firman-Nya kepada Nabi saw, Dia tidak bicara dari hawa nafsu (QS an-Najm: 3).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s