Sebuah Catatan Lebaran 2008

I

Waktu di sini tersendat-sendat. Mungkin karena aku tidak menyukai kenangannya. Ketika remaja pernah bereksperimen memutuskan diri dengan masa lalu. Hasilnya malah ikatan yang lebih tegas: kebencian pada hal-hal buruknya, kesenangan pada hal-hal yang menjadi spirit bagi kebaikan yang kulakukan, dan dikenalinya benang  merah kepribadianku. Menurutku ini agak salah. Menjalani kehidupan seharusnya membiarkan diri merangsek ke depan, sedang aku ‘pernah’ terlalu serius menjelajahi masa lalu. Maksudku, dan ini secara psikologis sangat mengganggu, masa lalu itu semata masa laluku saja. “Aku saja” , ini membuatku mempertanyakan, mempermasalahkan dan melawan takdir sebagai Ari***. Aku ingin menjadi yang lain dengan menolak. Dan kusebal karena masa lalu selalu menguntit sehingga kita menyebutnya kenangan. Hai, di sini tempat aku dibesarkan! (1/10/08; 17:44:23)

II

Di sini di Tasik, ada rumah kakak tempat H*** menghabiskan masa kecil sampai lepas SMA yang cukup besar, juga rumah kakak yang pegawai BRI, kakak yang membiayai S1 istriku dan yang menerima lamaran untuk memperistri adiknya; namun setiap lebaran kami yang dari Bandung, Jakarta, atau Bali, maunya cuma berdesak-desakan di rumah Ibu (mertuaku). Tepatnya, Perumnas Cisalak Blok **, N0 **, Type 36. Type 36? Sihir Ibu! Aku sekeluarga yang biasa memilih tidur di ruang tamu dgn kasur setebal 5 cm, membayangkan kelak istriku juga punya Sihir Ibu. Apakah disertai Sihir Ayah? Aku rasa tidak. Ibuku tidak punya sihir itu. Setidaknya aku biasa menampik, menolak sihir ibuku. Bukan masalah cinta kukira, juga bukan masalah sihir ibu mana yang lebih kuat, tapi karena faktor istri dan sedikit masa lalu. Rumah ibuku itu rumah yang sama sebagai tempat yang kudibesarkan. Aku memang dibesarkan dengan banyak catatan menolak rumah, mungkin juga menolak keluarga. Ketika dewasalah aku menyadarinya, dan ini sungguh menyakitkan. Susah taubatnya. (2/10/08; 06:09:58)

III
Lebaran ini, sepertinya untuk menghapus rasa bersalah, aku sempat mengusulkan Adry dan Azmi mudik duluan untuk agak lama tinggal di rumah ibuku. Aku ingin mereka mengenali rumah yang membentuk bapaknya. Seakan kekalahan mengingatkan, kau harus tahu dibesarkan di rumah berbeda. Kau tidak bisa seperti ayahmu. Hi-hi, aku takut karena sesungguhnya itu bisa, karena masa lalu itu darah daging bukan sekadar prasasti monumen, apalagi artefak. So, kupikir aku saja yang menghadapi masa lalunya. Menyongsong pencarian diri. Gusti! Esok hari 40 pun aku masih mencari diri. Salam buat kawan-kawan yang tetap rela menemaniku. (2/10/08; 06:35:29)

IV

Ah, cerita tentang Adry. Anakku ini kelihatan lebih manja saat masuk masa remaja. Aku menikmatinya. “Dimanja” inilah kata yang tak dikenalnya di masa kecil. Sampai usia  1 tahun, Adry dibawa hidup menumpang di beberapa tempat di mana kata saudara bisa diartikan sesuai kepentingan: di Gegerkalong di yayasan tempat teman-teman yang pernah seideologi kumpul, di Yogya tempat adik-adik yang ikhwan, di Malang tempat (yang kadang aku ingin mengatakan pernah jadi) sahabatku, terakhir di Bandung lagi tempat Akang yang tulus mencintai, mendidikku mengenal diri sendiri, dan arti berkeluarga. Tentu saja semua ketegangan eksistensialku, mungkin tepatnya penderitaan batin, dimiliki pula Adry. Di tempat Akang kunikmati masa teramat manis dengan Adry: main air sampai menggigil sambil mencuci pakaian Akang dan kami; main tanah di halaman yang luas; di akhir pekan pakai motor Akang ke supermarket, memuaskan Adry dengan mainan modern tanpa membelinya, makan coklat dan menghabiskannya sebelum ke kassa. (2/10/08; 13:21:09)

V

Main di Gedung Sate, Taman Lansia, adalah akhir pekan yang indah. Kecelakaan yang menimpa Adry sehingga telunjuknya cacat sampai saat ini, juga terjadi di rumah Akang. Oh ya aku juga mencuri “Ontologi” Anton Bekker dengan menyelipkan bukunya di antara perutku dan tubuh Adry yang kupangku dengan pelukan erat. Inilah takdir yang dipersiapkan. Mahakasih Tuhan, menjelang suatu hari, anak dan istriku diculik dari rumah Akang oleh keluarganya. Aku yang menemukan kedua bagian jiwaku tak ada lagi, tak kuasa menolak hidup di ambang kehancuran. Aku tak ingat kenapa tak bunuh diri. Tak mau kuselami lagi apa mengalahkan kemarahan, rasa malu sehingga masih hendak kutemui keduanya. Episode pertama berakhir dengan sebuah rahasia yang disimpan erat istriku selama 2 tahun. Rahasia yang membuatku punya jalan menuju cinta abadi. (2/10/08; 19:39:03)

One thought on “Sebuah Catatan Lebaran 2008

  1. bustami mengatakan:

    mengalir. mengikuti akur2 yang setiap diri/orang punya liku2. Pelajaran yg bisa dipetik banyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s