Dialog dengan Mr Bruce: Beriman tanpa Nalar

Seorang teman di Bandung mengajak saya untuk berdialog dengan Mr Bruce. Kabarnya, ia seorang konsultan pendidikan untuk sekolah bertaraf internasional. Tentu saja, bukan dalam rangka masalah pendidikan kami datang ke rumahnya. Datangnya saya ke sana karena kata teman saya ia seorang yang terbuka dalam persoalan agama. Bruce sering sowan ke tetangga-tetangganya. Barangkali karena teman saya ini cukup terbuka dalam dialog lintas iman dibandingkan dengan tetangga-tetangganya, Bruce sering berkunjung ke teman saya itu.

Akhirnya, berbarengan dengan datangnya musim liburan sekolah anak-anak, saya dan teman datang ke rumahnya. Semula saya memperkenalkan profesi (!) saya dan penjelajahan bacaan saya menyangkut agama perennial, Frithjof Schuon, Huston Smith, Annemarie Schimmel. Maksudnya, dengan mengawali pembicaraan tersebut, saya mendeklarasikan secara tidak langsung bahwa saya cukup mampu untuk berdialog lintas iman.

Demikianlah, kami berdiskusi dari pukul 20.30 hingga 00.00. Saya hanya ingin menyimpulkan keseluruhan dialog itu mengalami kebuntuan karena rupanya ia seorang yang tekstualis. Yakni, apa yang terdapat dalam “Kitab Suci” Alkitab adalah harga mati. Misalnya, ia percaya bahwa terjadinya hubungan incest antara seorang nabi dan putrinya, ataupun seorang nabi yang berselingkuh dengan istri tentaranya sebagai suatu fakta karena cerita-cerita itu disebutkan dalam Alkitab.

Karena merasa bahwa mempercayai wahyu dalam bentuk material bermasalah, saya mencoba mengajaknya berbicara dengan pendekatan rasional yakni membangun paradigma kemaksuman. Tujuannya tentu saja apabila ada suatu peristiwa atau kejadian yang menodai kemaksuman nabi-nabi, maka cerita tersebut harus diabaikan. Rupanya selama tiga setengah jam dialog itu dia keukeuh dengan pendiriannya bahwa apa yang ada dalam kitab suci adalah benar adanya, tak perlu ada tafsiran atau penjelasan.

Saya bersyukur bahwa Islam bukan saja mengajak beriman tapi juga mengajak berpikir. Maka itu, apabila ada suatu ayat yang dirasa di dalamnya ada keraguan seperti istigfarnya Nabi saw, muka masamnya Nabi, yang bertolak belakang dengan kemaksuman, maka ayat al-Quran itu dicari maknanya dalam tafsirnya. Artinya, tafsir membantu kita memahami pengertian suatu ayat yang meragukan, sesuatu yang ditolak oleh Bruce.

Bruce rupanya lebih memilih beriman tanpa nalar daripada menyandingkan iman dengan nalar. Sayang keimanannya pada Yesus tidak disertai dengan keimanan pada kemaksuman para nabi Bani Israel hanya gara-gara Alkitab tidak menceritakan hal itu.

Bruce, Bruce…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s