Hari Ibu

Ribut-ribut soal Hari Ibu, aku merasa engkau melupakan sesuatu. Benar, sesuatu itu adalah sosok Dewi Sarika, seorang pejuang hak-hak keperempuanan dari Bandung. Hari lahirnya, yang jatuh pada 22 Desember, dijadikan sebagai Hari Ibu. Namun agaknya pemaknaan tentang Hari Ibu lari ke mana-mana. Di sini aku ingin bicara tentang dua hal, yakni fenomena Hari Ibu kontemporer dan sosok Ibu itu sendiri.

Fenomena Hari Ibu Kontemporer

Fenomena peringatan Hari Ibu masa kini agaknya mengarah ke mana-mana sampai-sampai dihubungkan dengan  penegakkan syariah Islam. Bicara soal penegakkan syariah, kau tahu, aku sering merasa jengah. Menurutku, syariah semestinya urutan kesekian yang harus ditegakkan. Sekian yang pertama adalah justru pengenalan kepada sang Pencipta. Atau, sebut saja al-Haqq. Aku tahu, aku sendiri bukan orang yang tepat untuk membahas soal itu. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa sekiranya orang bisa ‘memahami’ al-Haqq  terlebih dulu, tentunya sekarang tak akan terjadi kriminalisasi yang berbaju agama. Sebab, orang akan paham esensi al-Haqq (Kebenaran) itu ada di mana-mana.

Baru setelah itu, orang akan saling menghormati hak-hak keberagamaan orang lain. Di sini, apabila semua aturan main dilewati, masalah penegakkan syariah akan berjalan alamiah (… lain kali akan kujelaskan kepadamu ihwal ini).

Sosok Ibu

Ibuku meninggal dua tahun yang lalu. Persisnya 6 Muharam 1427 atau 5 Februari 2006. Aku mengenalnya, sebagaimana perempuan pejuang lainnya, sebagai sosok yang penuh perjuangan untuk membela kemajuan anak-anaknya terutama di bidang pendidikan. Di antara sikapnya yang aku hormati, yang kadang membuatku tersenyum adalah keteguhannya dalam memegang paham NU-nya (kelak ini akan membantuku dalam pemikiran keagamaan selanjutnya).

Agaknya, dia memandang Islam itu hanya NU. Sehingga, ketika dia tahu adik-adik seayahnya ada yang menganut Muhammadiyah atau Persis, ia merasa sedih. Baginya, acara tahlilan, shalawat, adalah hal-hal yang membantu seseorang dalam perjalanannya ke akhirat. Maka itu, jika seseorang tidak tahlilan atas keluarganya yang meninggal, ia sedih. Namun, ia tak biasa berdebat soal itu. Ibuku, kau tahu, lebih suka membahasnya bersama anak-anaknya.

Pernah kami berdebat, tetapi tidak keras, ketika aku ketahuan tidak qunut lagi sewaktu shalat subuh. Ia mempertanyakanku. Aku menjawab sesuai apa yang kupahami. Lama setelah itu, ia bertanya kembali kepadaku karena aku malah akhir-akhir ini shalat dengan berqunut terus. Kubilang, bahwa memang itu ajaran yang sesungguhnya. Lantas, ia bertanya, ‘Apakah yang aliran agama yang kuanut itu suka qunut dan tahlilan?’

Aku mengiakannya. Aku merasa bahwa ia sangat bahagia karena itu artinya aku dan Ibu sama-sama Ahlusunnah.

Saat kematiannya, masih sempat kubaktikan khidmatku yang terakhir: mengafaninya dengan kafan Jausyan Kabir. Ah, semoga beliau selalu tenang di alamnya.

One thought on “Hari Ibu

  1. amuli mengatakan:

    : Ibu adalah manusia pertama yang mencintaiku, menyayangiku, menjagaku walau dengan kegalauan akan masa depan anaknya. Ia tegar menatapku. (Curhat buat anak-anakku)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s