Suatu “Benturan Peradaban”? Pengaruh Tasawuf di Eropa*

Eric Geoffroy

Konferensi di Universitas Kolumbia

Abad Pertengahan

Ketika kontribusi ilmiah, filsafat, dan teologi dari peradaban Islam kepada Eropa Pertengahan merupakan suatu fakta baku dan mendapatkan pengakuan relatif di kalangan masyarakat Barat, pengaruh tasawuf dan spiritualitas Islam secara umum, pada Eropa Daratan tidak dikenal. Kami memiliki sejumlah bukti di lapangan ini, namun juga banyak titik simpang perihal cara yang di dalamnya transmisi antara Timur dan Barat terjadi. Hal ini terutama karena kenyataan bahwa tasawuf adalah ilmu yang subtil, suatu disiplin esoteris yang sering dirahasiakan (sirr, dalam bahasa Arab).

Mari kita ambil contoh Ibn Sab’in (abad ke-13), yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Ceuta—suatu komuni Spanyol di bagian utara Maroko. Sebagai seorang filosof dan logikawan, ia dikenal karena pernah menjawab Sicilian Questions-nya Frederic II dari Hohenstaufen, kaisar Jerman dan raja Sicilia, yang merupakan mangsa bagi persoalan metafisis dan pencarian solusi dalam pemikiran Islam. Akan tetapi, Ibn Sab’in juga seorang Sufi dan guru ruhani penting, bahkan lebih berani daripada Ibn ‘Arabi mengenai doktrin Sufi wahdat al-wujud, yang ia sebut “Kesatuan Mutlak” (al-wahdah al-mutlaqah).

Kiranya penting untuk menunjukkan bahwa, tidak seperti mitra Kristen mereka, yang fokus pada filsafat dan teologi Arab-Islam, para penulis Yahudi Abad Pertengahan memperlihatkan ketertarikan besar pada tasawuf. Khususnya, berdasarkan penggalian dokumen-dokumen Geniza Kairo, para peneliti menetapkan pengaruh penting yang para Sufi seperti Hallaj, Ghazali, atau Suhrawardi telah tujukan pada mistisisme Yahudi Abad Pertengahan. Para pemuka ruhani Yahudi, Spanyol juga Mesir-Suriah menerbitkan dan dan menerjemahkan risalah-risalah Sufi yang autentik yang ditulis dalam bahasa Yahudi-Arab, mengubah praktik Islam atas zikir (penyebutan Nama-nama Tuhan), atau mengadopsi doktrin-doktrin Sufi seperti Manusia Sempurna (al-insan al-kamil).[1] Karya-karya mereka sampai di selatan Prancis, tetapi isyarat Islam pada karya-karya tersebut secara berangsur berkurang. Kita akan mengkaji peran yang mistisisme Yahudi mainkan dalam transmisi tema-tema Sufi ke kalangan Kristen.

Bagaimanapun, ada kontak langsung, sekalipun samar, antara spiritualitas Islam dan spiritualitas Eropa Kristen Pertengahan. Titik temu mendasar antara tradisi Islam dan Kristen di abad pertengahan adalah Timur Tengah, yakni perang salib, Sisilia dan Italia Selatan, dan tentu saja, Spanyol Muslim. Bagaimanapun, penting kiranya untuk membedakan antara ilmu-ilmu gaib Arab dan tasawuf: sekalipun keduanya memiliki keterkaitan, mereka tidak dapat diasimilasikan. Penyebaran ilmu-ilmu kuno (occult sciences) oleh Eropa seperti alkemi (alchemy) tidak tunduk pada keraguan. Hal ini dapat dibuktikan oleh Roger Bacon dari Inggris, Paracelse dari Swiss dan yang lainnya. Mari kita ingat bahwa istilah alchemy itu sendiri berasal dari kata Arab al-kimyiâ dan bahwa beberapa ilmu lain seperti aljabar juga berutang nama mereka kepada para ilmuwan Muslim.

Di ranah tasawuf yang tepat, bukti tersebut kurang menyentuh dan tepat. Mari kita pertama-tama memeriksa aspek-aspek yang tidak menimbulkan suatu masalah. Kita tahu dari sumber-sumber terpercaya bahwa “Legenda Emas” Rabi’ah ‘Adawiyah, salah seorang wali perempuan paling menonjol di Dunia Islam, yang tinggal di Irak pada abad ke-8 H, sampai di meja Raja Louis IX dari Prancis—atau Santo Louis—pada abad ke-13. Demikianlah kesucian Muslimah Sufi ini menyentuh jantung dunia Kristen. Dengan cara yang sama, sekarang diketahui bahwa Divine Comedy karya Dante dari Italia (meninggal pada 1321) secara signifikan berutang budi pada Book of Muhammad’s Ladder, yang menebarkan versi popular peristiwa Mikraj Nabi di Italia Abad Pertengahan. Di sisi lain, kiranya lebih hipotetis bahwa Sufi agung Andalusia Ibn ’Arabi mengilhami Dante sebagaimana sering diakuinya.

Beberapa penulis Eropa, termasuk René Guénon menyatakan bahwa organisasi inisiatori Kristen diinspirasi oleh tasawuf. Berbagai indikator memperlihatkan bahwa ini adalah kasus para Templar, ordo ksatria ini didirikan di Yerusalem pada 1119. Inspirasi mereka oleh tasawuf dan Islam secara umum berbeda tetapi jelas. Bahkan mereka dituduh, selama pengadilan atas mereka oleh Raja Philippe Le Bel dari Prancis pada awal abad ke-14, memuja seorang tokoh panutan, Bafomet, yang niscaya mendukung Muhammad, sang Nabi Islam. Tak ayal lagi, ini hanyalah dalih politis meskipun ia menunjukkan nostalgia lama dari suatu pembukaan ritual Sufi yang tidak dapat saya paparkan di sini. Mengenai St. Francis dari Assisi, ia pada awalnya pergi ke Maroko sebelum melancong ke Mesir untuk menemui sultan kaum Muslim untuk menganjurkan perpindahannya ke agama Kristen. Namun pada akhirnya Santo Francis dan Ordo Francisan yang ia dirikan itu mengandung isyarat tasawuf alih-alih sebaliknya!

Ordo asketik ini menganut—dalam sikap dan busananya—etika “kefakiran ruhani” (faqr) yang sangat esensial dalam tasawuf. Apa yang ingin dikatakan di sini tentang legenda cawan, seperti yang muncul dalam Parzival oleh Wolfran von Eschenbach, suatu teks yang ditulis di masa perang salib keempat, dan karena itu memperpanjang kontak dengan Timur Muslim? Elemen-elemen yang tersebar, tetapi yang kemunculan kembalinya signifikan, memeragakan suatu sumber awal Timur—Sufi tapi juga bukan Mazdean.

Hal ini membenarkan, setidaknya, bahwa organisasi-organisasi esoteris Islam dan Kristen terus melakukan kontak, tetapi dalam suatu cara informal pada umumnya. Menurut sejumlah sarjana, yang pertama akan membantu yang belakangan, setelah kehancuran Ordo Templar pada 1314, untuk menjaga suatu transmisi awal yang hidup. Sedemikian itu merupakan persoalan, misalnya, persaudaraan Rosicrucian, pewaris para Templar, dan siapa pun memahami lebih baik mengapa Christian Rosenkreutz (abad ke-15), yang diberi kemuliaan karena telah mendirikan persaudaraan ini, pastinya merampungkan beberapa pelancongan di negeri-negeri Islam.[2] Ordo AMORC Rosicrucian adalah suatu renaisans modern dari aliran Eropa kuno. Hal itu distimulasi di AS pada awal abad ke-20. Pada masa kontak mereka yang panjang di era Abad Pertengahan dan secara khusus dalam periode perang salib, kaum Muslim dan Kristen tidak hanya melakukan peperangan. Mereka bahkan membentuk aliansi melawan ko-religionis mereka sendiri masing-masing. Di abad pertengahan dunia tempat bangsa Eropa membaca-dengan benar berbicara dengan bahasa Arab dan mengikuti sekolah ilmu-ilmu Arab-Islam, adalah logis bahwa spiritualitas Muslim dan Kristen hidup berdampingan.

Lagipula, orang-orang yang meneruskan pengaruh tasawuf secara tepat diidentifikasi. The Catalan Raimon Lulle (dari abad ke-14), yang menguasai bahasa Arab dan menulis berbagai buku dalam bahasa ini, mengetahui tasawuf dengan benar, dan tak syak lagi diilhami oleh Ibn ‘Arabi.[3] Barangkali ia telah menghadiri lingkaran-lingkaran Sufi di Balearic Islands, tempat ia tinggal, atau selama pelancongannya ke daerah Maghrib (ia diketahui telah mengunjungi Tunis). Sebelum kita meninggalkan Timur, mari kita ingat quasi-simbiosis yang eksis, menjelang abad ke-15, antara darwis-darwis Anatolia dan Balkan di sisi lain, dan pendeta-pendeta Yunani di sisi lain. Menurut sejumlah sumber, kadang-kadang mustahil kiranya membedakan antara seorang Sufi dan seorang pendeta, pertukaran terjadi menjadi subur. Darwis-darwis ini terutama golongan Bektashi, dikenal karena keterbukaan mereka pada agama Kristen, dan dituduh melakukan sinkretisme oleh kaum Muslim tertentu. Mereka memiliki ucapan yang demikian elok: “Seorang wali adalah untuk setiap manusia.”

Persoalan hakiki tentang pengaruh mungkin tasawuf pada mistisisme Kristen berkaitan dengan Spanyol. Hipotesis ini masih menjadi subjek perdebatan karena ia menyoroti dua wali besar Iberia abad ke-16, atau “Abad Keemasan”: Theresa dari Avila dan John of the Crew, perlambang kemenangan Spanyol Katolik atas Islam. Pada 1930-an, seorang pendeta Spanyol melihat keserupaan yang menonjol antara spiritualitas Sufi Afrika Utara dan spiritualitas dari dua wali dan murid-murid mereka, Carmelites. Tema-tema mistis seperti Malam Samar, tujuh kastil konsentris hati, atau intoksikasi sebagai suatu simbol dari pengabaian atas Tuhan, (kini ada pada Santa Theresa dan pada Santo John) mengkhianati pengaruh tasawuf. Riset belakangan memperlihatkan bahwa warisan ini, yang, dalam pandangan Asion Palacios, muncul melalui tarekat Sufi Syadziliyah Spanyol-Afrika Utara (abad ke-13-15), pada faktanya kembali ke substratum tasawuf sebelumnya. Harus dicatat bahwa ordo kontemporer Carmelite secara global tampaknya membenarkan warisan historis ini: saya sampai pada kesimpulan ini dalam suatu konferensi mistisisme perbandingan, yang diselenggarakan oleh persaudaraan Carmelite Eropa, yang di dalamnya saya ambil bagian.

Persoalannya adalah mengetahui bagaimana Santa Theresa dari Avila dan Santo John dari Crew mempunyai akses ke tema sufi ini. Alih-alih merujuk transmisi oleh “Moriscos”, para eks-Muslim Spanyol ini terpaksa pindah ke Katolik, atau terjemahan bahasa Arab ke dalam bahasa Romawi, terjemahan yang atasnya kita tidak punya jejak, agaknya bahwa perhatian kita harus berubah terhadap Yahudi Spanyol. Banyak Yahudi juga beralih ke Islam dan Santa Theresa juga Santo John sendiri adalah keturunan Yahudi. Jalur doktrin-doktrin Sufi niscaya telah ditransmisikan kepada mereka oleh Yahudi Spanyol ini yang terbuka terhadap tasawuf selama berabad-abad. Sekarang kesimpulan ini tetap merupakan hipotesis. Layak untuk diperhatikan juga bahwa para penulis Eropa tertentu seperti Ignace de Loyola dari Spanyol, “The Spiritual Exercise” yang mendirikan sekte Jesuit pada abad ke-16, menunjukkan dirinya sendiri tanda tasawuf.

Masa-masa Modern

Tasawuf mulai sangat dihormati dalam Orientalisme Eropa pada abad ke-19. Kajian-kajian dan terjemahan-terjemahan yang dilakukan oleh para ilmuwan dan ulama telah memberikan kontribusi pada pengetahuan tasawuf di Eropa dan dengan demikian penyebaran praktik-praktiknya. Meski sejumlah Muslim mengkritik para orientalis Eropa—acap kali tanpa perbedaan—ada bukti bahwa pertama-tama bahwa para orientalis ini mengetahui tradisi Islam secara lebih baik ketimbang kaum Muslim ini, dan keduanya, bahwa mereka adalah sangat mungkin tidak jahat. Para ulama terkenal dijumpai dalam studi-studi tasawuf dan yang mereka yang mempunyai pribadi kharismatik menyibukkan diri mereka sendiri dalam pencarian keruhanian, dalam agama Kristen ataupun dalam Islam, atau malah pada titik-kesamaan di antara dua agama besar ini. Contoh dalam persoalan ini adalah Annemarie Schimmel di Jerman dan di Prancis, Louis Massignon, Henry Corbin, Eva de Vitray-Meyerovitch dan Michel Chodkiewicz. Anda tak akan menemukan implikasi pribadi tersebut dari para sarjana di bidang-bidang kajian Islam lainnya. Banyak orang di Eropa, entah orang Eropa atau Arab, tetap dibimbing secara intens melalui studi-studi dan terjemahan-terjemahan para akademisi unggulan ini dan para penerus mereka sekarang: kita tengah memiliki akses ke sebagian karya-karya utama peninggalan sufi universal, baik di Prancis dan Inggris.

Mistisisme Islam, dengan demikian, tidak lagi dikenal oleh para intelektual ataupun elit-elit kesenian Eropa tertentu. Bagaimanapun, faktor-faktor lain menyumbangkan kemunculannya di Barat pada abad ke-20 seperti kolonialisme yang barangkali telah menyebabkan pertemuan antara Islam dan Barat, dalam suatu atmosfer yang kerap bergerak ke sana ke mari antara daya tarik dan daya tolak. Selama periode kolonial, orang-orang Barat, yang meninggalkan peradaban mekanis dan ideologi kemajuan, mulai mengakui apa yang disebut “mistisisme padang pasir”. Sembari menyesalkan sekularisasi agama Kristen, dan reduksinya atas etika keagamaan yang diadaptasi dengan baik oleh imperialisme Eropa, sebagian mencari pembaharuan metafisik dalam tasawuf. Hal ini adalah perhatian dari penulis Isabelle Eberhardt dan pelukis Orientalis Etienne Dinet, yang telah mendapatkan sumber-sumber baru di tasawuf Afrika Utara. Namun ada sebagian orang Eropa lainnya dalam pencarian keruhanian terkait dengan tarekat Sanusiyah Libya, dan barangkali dalam perlindungan pemimpin Aljazair Abdul Kadir. Sebelumnya dokumen-dokumen tak tercetak baru-baru ini memperlihatkan bahwa sang amir tersebut, pada masa penahanannya di Prancis antara 1847 dan 1852, menggunakan kharisma besar melalui humanisme spiritual sucinya, dan bahwa ia bahkan tertarik pada pendeta-pendeta Kristen yang mengekspresikan keinginan-keinginan mereka untuk mengikutinya dalam pengasingannya di Turki, kemudian Suriah.

Sebagai hasil dari perluasan kolonialisme Eropa, ada suatu gelombang imigrasi Asia dan Afrika di Eropa, dan dari tahun 1920-an tasawuf muncul di Eropa. Salah satu tarekat sufi yang muncul di Eropa dalam periode itu adalah tarekat Alawiyah Aljazair-Maroko yang diinisiasi oleh Syekh Ahmad Alawi (w. 1934). Didorong oleh semangat universalis dari sang pendiri tarekat, murid-muridnya menjadi pionir-pionir yang secara cepat mengadaptasi diri mereka sendiri ke dalam konteks Eropa seraya meyakinkan, pada saat yang sama, dukungan spiritual pada para pekerja imigran. Syekh Alawi sendiri mengunjungi Prancis dua kali, dan selama dalam perjalanannya, pada tahun 1926, ia ambil bagian dalam inaugurasi Masjid Agung Paris, yang dibangun dalam gaya Spanyol-Maroko.

Sejumlah tokoh Eropa tertentu yang mencari spiritualitas sufi dikirim ke Syekh Alawi oleh René Guénon, seorang metafisikawan Prancis yang mengikuti tasawuf di Paris, dan bermukim kemudian di Kairo pada 1930. Ketika di Kairo, René Guénon menulis serangkaian buku mengenai berbagai tradisi spiritual dunia, dan banyak memberikan nasihat kepada para koresponden dan pengunjung Eropa. Menyusul Guénon, sejumlah penganut paham Tradisionalis pindah ke Islam, karena mereka melihat di dalamnya ekspresi terakhir Wahyu untuk zaman ini. Contoh dari hal ini adalah Frithjof Schuon, yang pertama-tama bergabung dalam tarekat Alawiyah. Penulis dan seniman Swiss ini, yang menyoroti karakter universal risalah Islam, pindah ke Amerika pada 1981 dan meninggal di sana pada tahun 1998. Ia meninggalkan banyak pengganti di bidang tasawuf dan islamologi akademis sejenisnya, seperti Seyyed Hossein Nasr, yang sekarang ini mengajar di Washington.

Tasawuf universal ini menganggap bahwa ada “kesatuan transenden dalam agama-agama”, menurut ungkapan Schuon, yang mendasari berbagai keyakinan eksoteris. Pengakuan akan agama-agama lain bukanlah yang baru dalam tasawuf karena ia didasarkan pada prinsip al-Quran din qayyim, Agama yang tidak berubah, Agama Adam yang di dalamnya semua agama mendapatkan akar-akarnya. Para tokoh sufi klasik seperti Hallaj, Ibn ‘Arabi, atau Rumi mengikuti agama Cinta ini, Cinta bukan di sisi pengertian sentimental, tetapi sebagai pengetahuan gnostik (ma’rifah selanjutnya ditulis makrifat), dan kedekatan Tuhan dan manusia.

Mari kita palingkan perhatian kepada Ibn ‘Arabi, sufi Andalusia ini, yang pada sekitar tahun 1200, pindah dari apa yang umumnya disebut bagian Barat dunia Muslim (Andalusia [Spanyol] dan Magribi) ke Timur Tengah karena berbagai alasan yang saya tidak bisa masukkan di sini. Dewasa ini, doktrin-doktrin universal Ibn Arabi telah mendapatkan profil tinggi di Barat, karena mereka memberikan suatu jawaban total-holistik, seperti kami sebutkan, atas pertanyaan kedudukan manusia di alam semesta dan hubungannya dengan Yang Ilahi. Anda mungkin tahu frase yang dinisbatkan kepada penulis Prancis André Malraux: “Abad 21 bisa merupakan [abad] spiritual ataupun sebaliknya”. Banyak orang menganggap bahwa kita telah berada dalam konfigurasi ini. Inilah sebabnya metafisika Ibn ‘Arabi sangat menarik perhatian bagi banyak non-Muslim.

Secara umum, kita telah menyaksikan suatu penyebaran tasawuf yang pesat di Barat sejak 1970-an. Dalam pandangan para syekh “Timur”, ekspansi ini bukan karena kesempatan ataupun bahkan konsekuensi sederhana dari imigrasi karena mereka telah lama menganggap Barat sebagai negeri keberuntungan. Penting untuk diperhatikan bahwa karena tekanan sosio-politik dari negeri asal mereka sendiri yang mencegah pertumbuhan personal—ini tentu saja tidak berlaku untuk semua negeri Muslim—mereka melihat suatu ruang kebebasan untuk spiritualitas di Barat. Sebenarnya, “kekecewaan atas dunia” lahir dari materialisme Barat yang memberi andil kemunculan suatu gelombang baru peziarah. Sejumlah guru Timur segera bermukim di Barat, sementara segelintir kecil Barat terdidik berperan sebagai para juru bicara guru-guru Timur, atau mencapai status syekh.

Islam Eropa

Hari ini, sekitar lima belas juta Muslim tinggal di Eropa Barat. Sedikitnya lima juta di antaranya bermukim di Prancis, yang menjadikan negeri tersebut negeri yang memiliki jumlah penduduk Muslim tertinggi di Eropa. Meskipun Islam masih dipandang sebagai agama imigran, kehadiran kaum Muslim secara bertahap membentuk lanskap Eropa. Otoritas Prancis, misalnya, mengafirmasi bahwa mereka lebih memilih untuk menyebutnya “Islam Prancis” ketimbang sebuah “Islam di Prancis”. Akan tetapi, hal ini tidak mencegah negeri ini dari menangani persoalan Islam dalam suatu pola pascakolonial! Islam Eropa masih berkonfrontasi dengan beberapa rintangan. Pertama, ia membawa beban kejahilan agama dari generasi imigran pertama, yang tidak mengetahui bagaimana cara mengalihkan nilai-nilai sejati Islam. Kedua, ia menanggung campuran yang diciptakan antara nilai-nilai esensial ini dan kebiasaan-kebiasaan Arab, Berber, Afrika, Turki, dan yang lainnya.

Sekarang ini, sejumlah generasi muda Muslim Eropa menolak Islam yang diturunkan dari orang tua-orang tua mereka yang direduksi hanya menjadi aturan-aturan halal dan haram. Sebagai anggota masyarakat lain, mereka harus mencapai suatu spiritualitas otentik, yang merupakan sumber kesadaran dan pembebasan batin.

Peranan Kaum Elit Maroko

Kawasan Magrib, dan khususnya Maroko, secara jelas memainkan peranan avant-garde dalam keberadaan tasawuf yang menguntungkan di Eropa. Karena kedekatannya dan kesamaan sejarahnya dengan Prancis secara khusus, bagian dunia Arab ini berperan, sampai tingkat tertentu, sebagai jembatan dalam pertukaran spiritual di Eropa. Mensyukuri tradisi toleransi dan keterbukaannya kepada agama-agama lain, Maroko menikmati posisi istimewa. Tradisi ini tidak pernah diperlemah dalam sejarah karena, secara persis, Islam Maroko diserap dengan spiritualitas dan kesucian. Mari kita ingat bahwa banyak Yahudi Spanyol dianiaya oleh Reconquista Katolik pada abad ke-16 berlindung di Maroko, dan bahwa selama rezim Prancis Vichy yang berkolaborasi dengan NAZI Jerman, Maroko, ketika di bawah protektorat Prancis, menolak untuk menstigmasi penduduk Yahudinya.

Spiritualitas kasih sayang ini, dengan demikian, merupakan kekuatan yang bersinar di Eropa. Tarekat Alawiyah, tarekat Butsisyiyah Qadiriyah Maroko adalah salah satu persaudaraan spiritual utama yang hadir di Eropa. Dua tarekat Sufi ini sangat aktif pada tingkatan inisiator dan mereka berada di belakang perpindahan agama banyak warga Eropa ke Islam. Namun yang menarik untuk dicatat adalah jangkauan internasional mereka ke tengah-tengah bangsa-bangsa non-Muslim: mereka bertindak sebagai sebuah jembatan sebenarnya antara agama-agama dan antara kebudayaan-kebudayaan. Kedua-duanya terlibat dalam dialog intra-agama dan telah menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kebudayaan dan kesenian di Eropa dan Maroko berdasarkan, tentu saja, spiritualitas. Festival Fez tentang “Musik Sakral” diarahkan oleh Fawzi Skali, tak syak lagi merupakan contoh terbaik. “Spirit Fez” bertujuan untuk menyebarkan pemahaman yang lebih damai dan mutual di dunia kita juga di luar Maroko. Kelompok Sufi Maroko lainnya, yang merupakan turunan dari Darqawiyah ataupun Tijaniyah, memiliki sedikit pengikut namun mereka tetap figur di lanskap Sufi Eropa.

Otoritas Maroko mengetahui dengan baik bahwa tasawuf, sebagai bentuk ruhani dari kesadaran dan wujud batin, adalah penyembuh sejati untuk Islamisme dan berbagai bentuk ekstremisme. Sebagian rezim, di dunia Muslim, menemukannya sedikit terlambat. Globalisasi tidak hanya menyangkut dimensi ekonomi dan geopolitik. Ia mempunyai sisi yang lebih subtil yang secara perlahan menjadi jelas, bahwa kesadaran spiritual, etis, dan geologis mempertimbangkan kesalingbergantungan antara manusia dan alam semesta. Dalam suatu dunia di mana jarak-jarak geopolitis juga perbedaan-perbedaan kebudayaan menyempit setiap harinya, apakah perbedaan antara tasawuf Timur dan tasawuf Barat masih memiliki maknanya? Dalam segala kemungkinannya, tasawuf bukan lagi Timur ataupun Barat, lâ syarqiyyah wa lâ gharbiyyah, sebagaimana al-Quran nyatakan dalam “ayat Cahaya”.[4]

Catatan Kaki

[1] M. Chodkiewicz, “La reception du soufisme par l’Occident : conjectures et certitudes”, communication présentée à l’univ. Euro-arabe, Bologne, 1988, halaman 11 (tidak diterbitkan) ; P. Fenton, Introduction to The Treatise of the Pool oleh Maimonides, London, 1995.

[2] P. Ponsoye, L’Islam et le Graal, Milano, 1976, hal. 132, 137.

[3] M. Chodkiewicz, op. cit., hal. 6-7.

[4] Rujuk Surah an-Nur [24]: 35.

Sumber: http://www.eric-geoffroy.net/rubrique.php3?id_rubrique=5

(Dimuat dalam Jurnal Al-Huda No.15, Vol.15, 2008, dengan sedikit perubahan redaksi)

3 thoughts on “Suatu “Benturan Peradaban”? Pengaruh Tasawuf di Eropa*

  1. isfiya mengatakan:

    Kamu itu memang belajar soal kebudayaan islam yah…
    Good..good..good….
    Tapi aku masih belum nyantol bener, butuh extra space dalam otak..hi..hi..hi…

  2. intishor mengatakan:

    keren banget yah islam di Eropa, maksudnya Islam bisa menjadi titik cahaya di eropa.Aku suka sekali dengan Eropa, mudah2an Eropa bisa dikuasai oleh Islam seutuhnya

    AM : Semoga begitu. Mudah-mudahan Islam, ataupun agama lainnya, di Eropa bisa menawarkan spiritualitas yang dahsyat kepada para pemeluknya.

  3. nats mengatakan:

    makasiiiiiiiih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s