Insan Kamil: Kemaslahatan Manusia

Di bawah ini saya kutipkan salah satu pasase dari buku kami, Dicintai Allah dengan Shalawat, yang diterbitkan oleh Arifa Publisher. Harga buku Rp 34.900,- Bagi pembaca blog yang berminat pada buku ini silakan kontak ke: 0813 1049 6012 (Retno)

Siapakah sebenarnya Nabi Muhammad saw? Pertanyaan ini tampaknya tidak akan pernah bisa dijawab sampai tuntas. Sebab, tak seorang pun menggaransi mampu mencapai penjelasan tentang hakikat sepenuhnya diri Muhammad saw. Yang mengetahuinya hanyalah Allah Swt, Sang Pemberi dan Mahatahu. Realitas tertentu yang dapat diketahui oleh seseorang tentang Rasul-Nya ialah sebatas yang sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah semata, sebagai sumber ilmu dan pendidik sejati. Karena itu, pemahaman, cara memandang dan bersikap terhadap Rasulullah saw pun tidak selalu sama. Kalau mau jujur, untuk menjelaskan siapa sesungguhnya (jati)dirinya sendiri saja –secara sempurna dan detail– seseorang sudah cukup sulit, apalagi untuk seorang insan kamil, Muhammad saw, tentu mustahil.

Namun, hal ini bukan lantas membuat umat manusia –apalagi muslimin– pesimis. Sebuah pemahaman global, asal itu benar, tentang Muhammad saw, semestinya dapat mengantarkan seseorang pada pemahaman semakin mendalam tentang sosok terkasih Allah Swt itu. Persoalannya, pemahaman global yang bagaimana? Pertanyaan yang persis sama ketika kita sebelumnya berbicara tentang Ketuhanan atau Kepenciptaan.[1] Pada uraian ringkas ini, untuk efisiensi ruang pembahasan, kita dapat membatasinya dari satu sisi saja, yaitu untuk kemaslahatan manusia.

Kemaslahatan manusia ukurannya hanya satu, yakni segala sesuatu bagi dirinya yang sesuai dengan kehendak Allah Swt.[2] Sebab, hanya Allah Swt yang mengetahui hakikat kebutuhan manusia. Dan Allah adalah Kesempurnaan atau Mahasempurna yang merupakan tujuan hakiki dari setiap gerak keberadaan.

Ketika manusia mendambakan dapat mencapai kesempurnaan hidup, maka ada dua hal yang dapat dimengerti keinginan itu. Pertama, dia dapat memastikan adanya kesempurnaan yang diinginkan itu. Dan kedua, adanya contoh yang memudahkan dia untuk lebih cepat mencapai dambaan yang dimaksud.

Kesempurnaan adalah fitrah dalam diri manusia, sehingga sejak manusia pertama hingga kini dan akhir zaman setiap orang selalu mendambakannya, apa dan bagaimana pun bentuknya. Karena itu di setiap era atau masa, selalu saja ada orang-orang yang dapat mencapai kesempurnaan sebagai manusia. Hanya sejauh mana kesempurnaan itu dapat dicapai, maka sulit menentukan hakikat batasannya.

Namun, tentu saja mesti ada ukuran yang jelas untuk itu. Jika tidak, maka gambaran akan yang didambakan tersebut hanya berupa khayalan belaka. Atau setiap orang bisa semaunya sendiri mengklaim dirinya telah mencapai kesempurnaan,[3] untuk kepentingan tertentu, yang justru menyesatkan. Padahal, yang menentukan dan menilai setiap pencapaian kesempurnaan hanyalah Sang Pemilik Kesempurnaan, Allah Swt semata.[4]

Itulah sebabnya, Yang Mahabijaksana lantas mencurahkan rahmat, petunjuk dan kemudahan dengan memilih dan menentukan orang-orang yang telah sampai pada batas tertentu kesempurnaan manusia (baca: insan kamil) sebagai wali atau utusan atau nabi/rasul, agar menjadi kiblat dan pemandu bagi orang-orang yang mendamba kesempurnaan tersebut.

-0-

Di berbagai tempat dalam al-Quran Allah Yang Mahakuasa dan pemberi hidup mengenalkan Muhammad saw sebagai Rasulullah. Dengan keyakinan pada al-Quran sebagai kitab pedoman hidup, memahami bahwa Muhammad saw sebagai Rasulullah secara benar akan mengantarkan seseorang pada realitas-realitas tertentu dalam meraih kemaslahatannya, di mana pun ia berada.

Apakah sesederhana itu? Tampaknya memang sederhana. Cuma saja, setiap pemahaman akan sesuatu biasanya selalu menuntut konsekuensi dalam perbuatan. Pada tingkat konsekuensi atau implementasi dalam perbuatan itulah yang kerapkali menjadi perkara rumit bagi manusia. Yakni, ketika kenyataan yang diakui bahwa Muhammad adalah pesuruh Allah Swt yang menyampaikan sejumlah perintah dan larangan bagi mereka.

Yang jelas, keberadaan seorang manusia sempurna (insan kamil) yang kemudian diutus sebagai rasul/nabi/imam ternyata memang selaras dengan tuntutan akal sehat manusia dan kebutuhan fitrahnya –sebagaimana dikemukakan di depan– bahwa mesti[5] ada manusia sempurna. Tanpa adanya manusia yang sempurna maka tujuan penciptaan manusia tentu menjadi sia-sia. Sebab, manusia sempurna (insan kamil) merupakan tujuan kemaslahatan manusia. Dan, syarat untuk menjadi seorang rasul ialah harus seorang yang sempurna atau insan kamil.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa keberadaan seorang rasul adalah hujjah yang terang benderang. Hanya problemnya, kebanyakan manusia tidak mengambil manfaat dari cahaya yang terang benderang itu. Mereka justru melihat posisi atau maqam seorang nabi atau rasul sebagai bualan, padahal justru merekalah yang tidak memiliki argumentasi kuat dan hanya berangan-angan. Mereka dengan gegabah menganggap derajat dan tugas kenabian/kerasulan begitu saja diberikan kepada seseorang tanpa terlebih dahulu melihat bahwa orang tersebut telah mendapat ridha Allah Swt. Sementara ridha Allah hanya dapat diperoleh setelah seseorang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dalam ketaatan sejati. Mereka mengira bahwa seorang rasul sama seperti dirinya. Padahal, setiap orang selalu diuji oleh Allah Swt. Mampukah seseorang melewati berbagai ujian hingga dia mampu mencapai derajat insan kamil, sebuah kualitas insan paripurna yang setiap gerak-geriknya secara utuh sesuai dengan kehendak-Nya.

Keberadaan insan kamil tersebut berkaitan dengan “tujuan penciptaan” manusia, yang di dalam Islam tercakup dalam satu kalimat suci “Dan tidak diciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk mengabdi/menyembah kepada Allah”.[6] Pengabdian atau penyembahan kepada Allah itu “memanjang”, yang meliputi seluruh perbuatan ketaatan kepada-Nya, dari tingkat dan kualitas yang paling rendah hingga yang paling tinggi (terdekat dengan Allah Swt). Karenanya, al-Quran menyuruh manusia menyembah Allah hingga/sampai yakin.[7]

Semakin tunduk seseorang melaksanakan amanat atau perintah Ilahi, semakin dekat ia dengan-Nya. Begitulah seterusnya, hingga dia sepenuhnya menjadi manusia paling tunduk, atau abdi/hamba sejati di hadapan-Nya. Ini terjadi karena dia sudah sampai pada tingkat keyakinan tertinggi, yang tak mungkin lagi tergoyahkan oleh apapun. Ia mencapai penghambaan paling murni semata-mata kepada-Nya.[8] Yakni, keyakinan dengan yang sebenarnya, yang diterima, dan yang mendapat ridho Allah Yang Mahaperkasa dan Mahakuat. Hakikat dirinya sebagai manusia sudah menyatu dengan ketaatan sejati pada-Nya.

Maqam-maqam yang ditempuhnya dalam seluruh tingkat pendekatan kepada Allah Swt sudah paripurna. Sehingga, tertutuplah semua kemungkinan baginya untuk melanggar perintah Allah. Dialah yang disebut sebagai manusia sempurna (insan kamil); manusia paling dekat dengan Allah Swt. Insan kamil, dengan demikian, juga merupakan tujuan akhir dari seluruh maksud penyembahan, penghambaan, atau pengabdian.[9]

Kesempurnaan manusia tidak ditunjukkan dengan perubahan fisik dan materi, seperti semakin rupawan atau menjadi semakin kaya, melainkan tampak dalam kehidupan kesehariannya yang semakin tenggelam dan tunduk menaati perintah dan kehendak Allah. Jika dia kemudian diumpamakan menjadi cahaya yang menerangi bukanlah tubuh atau wajahnya bersinar-sinar seperti matahari atau lampu, tetapi kekuatan jiwa dan ruhaninya yang menarik dirinya dan manusia (ummat) ke jalan kebenaran dan takwa.[10] Cahayanya hanya tampak bagi orang-orang yang juga berhati bersih yang melihatnya dengan jiwa dan hati yang tunduk. Tapi, bagi mereka yang masih banyak terikat dengan keduniawian, maka justru dirinya yang menolak setiap ucapan kebenaran yang disampaikan oleh insan kamil. Bahkan sebagiannya lagi menentang dan mengolok-olok.

Ketika maqam insan kamil dicapai oleh seseorang, maka selanjutnya tergantung kepada kebijaksanaan Allah Swt yang menentukan kelayakan dirinya untuk dipilih sebagai seorang penuntun dan pembimbing manusia yang lain atau tidak.

Ringkasnya, dari seluruh proses perjalanan hidup, Muhammad saw telah sampai lebih dahulu ke derajat terdekat dengan Allah Swt, dan Dia memilihnya menjadi Nabi/Rasul. Artinya, Nabi Muhammad saw diberi wilayah untuk membimbing dan memimpin manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup (insan kamil), atau mengabdi kepada Allah Swt sampai ke tingkat tertinggi yang mungkin (baca: yang paling dekat dengan-Nya).

Dengan kata lain, Nabi Muhammad saw adalah manusia yang dipilih dan diridhai Allah Swt sebagai hamba terdekat dan menjadi pesuruh-Nya setelah beliau berhasil sampai pada tingkat kesempurnaan seorang insan. Seluruh amanat sebagai manusia telah tuntas dan diselesaikannya secara sempurna. Karena keterdahuluan dan kesempurnaannya dalam mendekati Allah Swt itulah kemudian ia mendapat titah membimbing segenap manusia. Bahkan, dalam kajian yang lebih mendalam, kedekatan dan kesempurnaan Muhammad saw sebagai insan tersebut menjadikannya layak sebagai pengatur seluruh eksistensi ciptaan Allah.[11]

‘Ala kulli hal, dalam konteks al-Quran, umat manusia tidak diminta untuk melihat Muhammad saw sebagai sosok lain kecuali sebagai rasul dan nabi, serta ‘abdi-Nya. “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.al-Ahzab [33]: 40). Atau dalam QS.Fushilat [41]:6, “Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan-mu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan(Nya)’.” Atau, “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.’ Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS.al-Kahfi [18]:110). Dan banyak sekali ayat serupa lainnya.

Sebagian dari kita kerapkali teledor dengan menganggap bahwa ucapan seorang rasul itu sama dengan perkataan orang kebanyakan yang begitu saja mengucapkan sesuatu tanpa ada hubungannya dengan pikiran, isi hati, amal (perbuatan) dan jatidirinya. Padahal seorang nabi atau rasul, yang diucapkannya tiada lain kecuali kebenaran. Yakni kebenaran yang diyakini sepenuhnya. Kalau tidak, lalu untuk apa ia disebut uswatun hasanah atau berpribadi agung, bila ucapannya tidak selaras dengan amal dan keyakinannya? Bukankah kebencian dan kemurkaan Allah amat besar kepada orang yang mengatakan sesuatu yang tidak dilakukannya?[12]

Jadi ketika Rasulullah saw mengucapkan seperti dalam surat Fushilat [41]:6 dan al-Kahfi [18]:110 serta ayat-ayat lain yang senada, maka demikianlah jatidiri beliau. Tauhidnya demikian murni. Beliau saw sudah mengalami perjumpaan dengan Allah, beliau sudah dan selalu mengerjakan amal saleh tanpa mempersekutukan-Nya. Kalau beliau tidak terlebih dahulu dengan semua itu, maka seruannya hanyalah canda belaka. Ibarat orang yang belum mencoba dan merasakan manisnya madu murni, lalu mengatakan dan mengajak orang lain minumlah madu ini, rasanya manis dan menyehatkan, dan seterusnya. Jangan-jangan yang disebutnya madu itu, malah air kapur. Maka hal seperti itu tentu akan menjadi bahan tertawaan orang yang mendengarnya.

Dan memang, orang-orang yang mengolok-olok Rasul saw dan menertawakannya ialah orang yang menganggap kebiasaan Rasul sama seperti dirinya, yang sangat sedikit atau bahkan tidak pernah mengesakan dan berterima-kasih kepada Tuhan. Kalau mereka hanya mengikuti kata hawa nafsunya, sementara Rasul saw tidak mengatakan sesuatu yang lain kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya.[13]

Itulah mengapa sangat logis ketika dikatakan bahwa seorang nabi/rasul harus dia yang sudah sampai pada derajat insan kamil. Yakni manusia yang sudah sempurna mengetahui dan menjalani hidup dan sudah mendapat ridho-Nya, sehingga layak menyeru, membimbing, dan memimpin manusia yang lain menuju kemaslahatan mereka, yaitu menjadi hamba Allah yang sebenarnya, menjadi (juga) insan kamil seperti dirinya.

-0-

Kalau kita memperhatikan sekali lagi kepada persaksian atau ikrar seorang muslim, setelah bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, ia juga mengatakan “dan aku bersaksi (bahwa) Muhammad rasulullah” atau “dan aku bersaksi (bahwa) Muhammad (adalah) ‘abdi-Mu dan rasul-Mu”.

Ketika Muhammad saw hanya manusia sama seperti yang lain dan bukan siapa-siapa kecuali rasul Allah dan abdi-Nya, maka fokus perhatian hanya tertuju pada dua hal; dianya (sebagai Rasulullah atau pesuruh/utusan-Nya atau pelaksana amanat-Nya) dan isi pesan atau amanahnya. Maka, dengan cara melihat seperti ini, kita dapat menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw tiada lain kecuali sebagai sumber pelaksanaan perintah-Nya atau syariat-Nya, dan perintah atau amanat-Nya tersebut berada dalam Kitab Suci yang dibawanya, al-Quran.

Dengan demikian, yang menjadi persoalan utama bagi manusia sepanjang zaman ialah bagaimana “melihat” (kedudukan) seorang rujukan dan pelaksana syariat-Nya yang menjadi pengajar, penerang, pembimbing, dan pemimpin jalan hidup manusia dan Kitab Suci yang dibawanya. Ketika seseorang benar dalam melihat seorang utusan Allah dan mengetahui posisi dirinya terhadap sang utusan, dan bagaimana ia harus berhubungan demi menggapai keinginannya meraih kesempurnaan maka ia akan menjadikan Rasulullah saw sebagai kiblat (jalan) hidupnya. Maka apabila tetap dalam jalan tersebut, ia akan selamat dan memperoleh kemaslahatan.

Sebaliknya, Kerancuan atau kekeliruan dalam melihat sosok Muhammad saw sebagai nabi dan rasul inilah yang menimbulkan bencana kemanusiaan. Sebagaimana sudah terjadi pada era nabi-nabi sebelumnya, karena masyarakat keliru menempatkan hak seorang nabi/rasul yang bertugas menerangkan aturan hidup di tengah-tengah mereka. Akibatnya, berbagai nasib tragis menimpa sebagian besar umat dari satu generasi ke generasi berikutnya. “Atau (apakah patut) mereka berkata: ‘Padanya (Muhammad) ada penyakit gila.’ Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran.” (QS.23:70).

Sebagian orang berdalih dengan ungkapan bahwa “bukankah Muhammad saw itu adalah manusia biasa seperti kita…..”, yang berjalan di pasar, yang makan-minum, yang berkeluarga, marah, suka, benci, menangis, terluka, dan seterusnya. Karena kita sama saja maka tidak ada keistimewaan yang perlu dilebihkan dari seorang Muhammad. Kalau pun toh dia disebut atau dianggap sebagai utusan Tuhan, maka dia hanyalah penyampai saja, tidak lebih. Lalu untuk apa melebihkannya, apalagi mengkultuskan beliau? Dia ya dia saja, sebagai utusan ya ketika menyampaikan wahyu saja, dan wahyu atau seruannya ya sebagai seruan. Muhammad ya Muhammad dan al-Quran ya al-Quran, yang kita sama-sama berusaha melaksanakannya sebaik mungkin.[14] Begitulah kurang lebih, berbagai ungkapan yang dilontarkan oleh berbagai kelompok masyarakat. Atau mungkin ungkapan-ungkapan lain dalam arti yang senada.

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa Muhammad bukan bapak dari seorang laki-laki. Meskipun dalam sejarah terbukti, Muhammad saw pernah mempunyai anak laki-laki, meskipun meninggal.[15] Dan satu-satunya yang hidup adalah putrinya, Fatimah az-Zahra. Yang terang adalah, keberadaan dan kenyataan biologis Muhammad saw, yang berputra dan berputri itu, tampaknya kurang diminta untuk menjadi perhatian.[16] Meskipun harus diingat pula bahwa jasad atau fisik manusia dapat menjadi tanda-tanda dan termasuk ayat Ilahi jika, sekali lagi, kita melihatnya dengan akal sehat.

Ketika Nabi Muhammad saw meminta umat memperhatikan putrinya, Az-Zahra (salam atasnya, sebagaimana Nabi saw menyebutnya sebagai penghulu wanita di seluruh alam), dan anggota keluarganya, tentu saja bukan sekadar belitan maksud hubungan kekeluargaan fisik atau biologis. Kenyataan hubungan fisik hanyalah sebagai pendekat semata, agar membantu umat manusia lebih mudah melihat dan berpikir secara benar tentang realitas senyatanya. Apabila kita menemukan hadis bahwa Nabi saw mengatakan: “yang menyakiti Fathimah berarti menyakitiku dan yang menyakitiku berarti menyakiti Allah”, pastilah bukan karena soal sentimen fisik dan biologis atau sekadar karena Fathimah adalah putri kesayangannya.

Rasulullah saw memang sangat mencintai Fathimah, tapi cinta-Nya jauh dari konteks fisik (materi). Bukankah Rasulullah saw pernah menegaskan akan “memotong” tangan pencuri, meskipun itu dilakukan oleh Fathimah? Cinta Rasulullah pasti cinta yang Ilahi, dan cinta yang Ilahi adalah tunggal, jauh dari kesyirikan, dan tidak pernah ternoda oleh keburukan, intrik, kesalahan, materi, dan keduniawian.

Cinta Rasulullah saw muncul hanya kepada orang yang memancarkan kesalehan dan kebenaran. Karena cinta Ilahi yang suci hanya patut “bermesraan” dengan kesucian yang keluar (terpancar) dari kesalehan seseorang. Artinya, Rasulullah saw mencintai Fathimah karena sang puteri memang seorang wanita/hamba utama yang darinya memancar cahaya kesalehan dan ketundukan kepada-Nya.

Derajat Fathimah begitu tinggi, sehingga dia menjadi takaran sakit tidaknya hati seorang insan kamil, hamba terdekat-Nya. Ingatlah, tidak dikatakan oleh Rasulullah saw kecuali wahyu yang diwahyukan. Rasul saw tidak membutuhkan apapun kecuali hanya yang dari-Nya,[17] hanya untuk menjadi ‘abdi-Nya, yang cinta kepada Allah hanya dapat diukur dengan cara mengikuti beliau saw.[18] Artinya, pantulan cinta Rasul kepada putrinya tidak lain kecuali cerminannya sebagai seorang insan kamil, seorang ‘abdullah. Dan seorang kekasih Allah Swt tidak akan berkumpul kecuali dengan kekasih-Nya juga. Karena itu, memperhatikan dan mencintai Fathimah sama dengan mencintai dan menyeriuskan diri untuk menjadi kekasih Rasulullah saw. Dan menjadi kekasih Rasulullah berarti menjadi kekasih Allah Swt.

-0-

Kita juga melihat pada ayat yang lain. Yakni seperti pada surat al-Hujurat [49]:2, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.”

Apa bedanya Muhammad saw dengan kita, dengan para sahabat, dengan mukminin lain; mengapa hanya soal meninggikan suara saja dilarang, sampai dihubungkan dengan terhapusnya pahala amalan? Memang, meninggikan suara yang dimaksud di sini sangat bisa diperdebatkan. Tapi kalau melihat konteks kalimat ayat secara keseluruhan, tentu soalnya bukan masalah hubungan sosial semata. Meskipun menjaga sopan-santun juga merupakan keutamaan dalam pergaulan dan sangat dianjurkan dalam Islam. Kalau memang rudy Muhammad saw itu sama seperti manusia yang lain, mengapa kita harus membedakan perlakuan terhadapnya. Karena sesama mukmin tak jarang sering berdebat satu sama lain. Dan dalam perdebatan seringkali satu suara memiliki intonasi lebih tinggi dari yang lain, untuk memberi penekanan yang penting dan bukan, dan lain-lain.

Salah satu yang mungkin dapat dijangkau ialah soal meletakkan hak dan kedudukan, atau maqam. Dalam hal ini tentu saja bukan soal kedudukan duniawi. Bukankah berkali-kali dikatakan dalam al-Quran bahwa Muhammad adalah sama seperti manusia lain….. baik dalam bentuk kalimat langsung maupun tak langsung sebagai bentuk suruhan dari Allah Swt. Namun, kalimat itu segera diikuti oleh kalimat lain yang bermakna wilayah. Yakni menunjukkan wilayah Muhammad saw sebagai Rasulullah, sang penyampai amanah atau pesan-Nya.[19]

Yang utama dari pesan itu –yang sering mengiringi kalimat bahwa dia (Muhammad) adalah Rasulullah– adalah dua hal. Pertama, menyampaikan bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Esa, dan agar manusia menyembah-Nya dan bentuk-bentuk kalimat lain yang sama artinya. Kedua, beramal saleh; seperti bershalat, berzakat, berlaku adil, menjaga timbangan, dan menyuruh yang makruf dan mencegah yang munkar.[20] Yang pertama adalah perkara keyakinan (Tauhid), dan yang kedua adalah soal mengamalkan keyakinan (Tauhid) itu.

Atau bisa pula diartikan: kalau hanya perkara meninggikan suara, apa hebohnya, sampai di-ayat-kan pelarangannya. Ini tentu punya makna lain. Karena suara yang keluar dari Nabi saw berarti ucapan. Dan Nabi Muhammad saw tidak mengucapkan yang lain kecuali wahyu yang diwahyukan.[21] Wahyu adalah firman Allah, “suara” Allah. Jadi, kalian yang meninggikan suara lebih dari suara Nabi saw sama dengan meninggikan suara di hadapan/di atas firman-Nya. Itu pertanda kalian hendak mengungguli titah Allah, dan itu berarti kalian menentang-Nya. Itu berarti sama dengan kalian meninggikan diri kalian di atas Allah. Jika sudah begini, apa bedanya dengan peristiwa pembangkangan Iblis terhadap perintah menyembah Adam as. Maka yang “meninggikan suara” atas “suara Muhammad” telah mengikuti langkah iblis/setan. Naudzubillah.

Atau bisa pula diartikan: kalau soal suara saja tidak boleh lebih tinggi, apalagi soal yang lain….

‘ala kulli hal…, fokus persoalannya bukanlah pada siapa dia dalam arti fisikal semata, karena itu merupakan kenyataan antropologis yang tidak bisa disangkal. Yakni memang begitulah manusia, yang jasmani dan jiwa kemanusiaannya punya kebutuhan dan kecenderungan tertentu. Keberadaan jasadiah pasti bukanlah suatu kesalahan, tetapi semata-mata tempat uji menempa diri seseorang. Karena itu, yang mesti diperhatikan adalah kualitas kemanusiaan atau ruhnya. Yakni mengapa dan untuk apa dia berjalan di pasar, makan-minum, berdagang, bercocok-tanam, berkeluarga, marah, sabar, suka, benci, tersenyum, menangis, berperang, terluka, bertetanggga, bermasyarakat, dan seterusnya itu. Keberadaan fisik justru menjadi sarana bagi seseorang untuk menunjukkan kualitas diri sejauh dia mampu menundukkan fisik itu pada tuntutan dan aturan yang sesuai dengan kemaslahatan dirinya sebagai ciptaan Tuhan.

-0-

Dalam diri manusia terjadi persenyawaan ruh dan jasad. Masing-masing membawa sifat dan wataknya sendiri karena unsur-unsur (potensi dan kekuatan) yang dibawa ruh dan jasad tersebut. Ketika ruh ditiupkan ke dalam jasad, seolah ia terlempar dari surga ke dunia. Jadilah ia seorang manusia yang mesti menghadapi ujian atas perjalanan hidupnya di dunia. Lalu, ia diminta untuk memilih, lebih menyukai yang materi atau yang ruhani.[22] Tentu persoalannya tidak sesederhana ini. Tapi ini dapat disebut sebagai hal konkret yang dapat kita tangkap pertama kali.[23]

Di sisi yang lain, pelaksanaan tugas di dunia itu mengandung fitrah bawaan berupa fitrah bermasyarakat. Manusia cenderung untuk hidup berkelompok lalu membangun peradaban dan budayanya sendiri. Fitrah sosial ini pun menjadi ladang ujian bagi mereka untuk memilih dan menentukan orientasi hidup; ke yang materi atau yang ruh. Ketika kita membaca hadis yang menyatakan bahwa cinta dunia adalah pangkal dari kejahatan, barangkali yang dimaksudkan adalah ini. Artinya, interaksi sosial yang dibangun oleh individu atau kelompok semestinya diorientasikan untuk bekal kembali menghadap-Nya. Bukan malah hendak mengekalkan diri (tinggal) di dunia, sebab masa tinggal di dunia kenyataannya hanya sementara (pendek).

Berbagai bentuk kezaliman dan keburukan timbul karena godaan atau seretan kecintaan kepada materi (dunia). Sebagian besar orang mengira bahwa hidup di dunia seolah-olah masih lama. Atau anggapan tidak ada pertanggungjawaban atas tempuhan jalan hidupnya, alias menganggap hidup di dunia hanya bermain-main sebentar kemudian berakhir begitu saja tanpa tujuan (baca: tanggung jawab).

Padahal mengerti kondisi diri –yang terdiri dari ruh dan jasad berikut sifat-sifat bawaannya– dan kenyataan hidup sosial tersebut, sudah lebih dari cukup untuk memaklumi sebuah keharusan tanggung jawab atas seluruh hidup yang dilakoni manusia. Yakni kenyataan bahwa banyak sekali urusan yang belum terselesaikan di dunia. Sementara dari dalam dirinya ada “suara” yang menuntut mesti terselesaikannya berbagai persoalan hidup tersebut.

Kehidupan di dunia, dengan demikian, hanyalah satu fase dalam perjalanan panjang hidup manusia. Sebuah fase yang menentukan keberhasilan atau kegagalan. Dia dikatakan berhasil atau beruntung apabila kelak memperoleh balasan kenikmatan atas jerih payahnya. Dan dia disebut gagal ketika mendapat azab akibat perilaku buruk dan merusak semasa hidupnya. Keduanya merupakan balasan setimpal dalam timbangan kebijaksanaan Sang Pencipta dan Pemelihara, yang dengan rahmat-Nya menyediakan segala sumber daya sebagai sarana bagi manusia.

Karenanya, boleh dikata, bertujuan hidup bagi manusia juga merupakan fitrah yang tak bisa ditolak, yang menunjuk pada sebuah realitas kehidupan masa depan sebagai tempat lebih lanjut setelah menjalani proses kehidupan dunia.

Apabila seseorang menyadari bahwa perjalanan hidupnya bertujuan, maka dia akan memaklumkan tentang aturan atau tatanan yang mesti ada. Karena tujuan yang ingin dicapai pastilah yang lebih menguntungkan buat dirinya. Sekalipun, misalnya, dia harus menempuh dengan berbagai kesukaran fisik dan psikis. Keinginan atau tujuan yang dibangun seseorang, apapun itu, ibarat membangun rumah. Keuntungan atau bangunan rumah tersebut hanya bisa dicapai ketika ia taat asas, atau taat aturan pembangunannya sesuai rancangan, bahan, sampai polesan akhirnya. Karena jika tidak, maka dia bukan hanya akan dikatakan menyalahi atau melanggar kemaslahatannya sendiri, bahkan sebenarnya dia sudah meruntuhkan bangunan yang diinginkan sebelumnya. Dan itu bermakna, akhir yang buruk akan (atau telah) menimpanya.

Aturan yang sesuai dengan kemaslahatan secara keseluruhan (individu dan sosial) itu disebut sarana atau amanat Tuhan bagi manusia. Amanat ini juga disebut sebagai agama, yang disampaikan atau dibawa oleh seorang Rasul. Agama itu berisi keyakinan dan tuntunan hidup.[24] Dan sang pembawa agama sempurna bagi manusia adalah Muhammad saw.

Dengan demikian, melihat seorang manusia berarti melihat sejauh mana ia membangun kualitas dirinya di atas tuntunan agama. Al-Quran meringkasnya dalam kalimat sederhana, mudah dimengerti, tapi barangkali sulit diyakini dan diamalkan. Yakni, yakin kepada yang gaib (Keesaan Allah, Kenabian, Akhirat, dan seterusnya)[25], mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rizki, dan menggunakan al-Quran sebagai panduan aturan main dalam kehidupan.Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa; (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka; dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat; Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS.al-Baqarah [2]:2-5)

Oleh karena itu, orang yang tidak beranjak dari penglihatan fisik atau jasmani semata dalam melihat sosok Muhammad saw tidak akan memperoleh efek yang diinginkan dalam kemaslahatan hidupnya, yakni menjadi seseorang yang dicintai Allah Swt.[26] Maka tidak heran kalau Rasulullah saw sampai diolok-olok atau disebut sesat dan gila ketika menyampaikan seruan (peringatan, anjuran, larangan dan seterusnya) kepada masyarakat. Padahal Nabi saw tidak menyampaikan yang lain kecuali kemaslahatan bagi umat manusia.Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS.al-Bayyinah[98]:4-5).

Sehingga, bencana peradaban masyarakat menjadi logis terjadi sebagai akibat ulah manusia sendiri yang mengabaikan nubuwah dan wilayahnya. Sebuah keadaan yang terjadi sepanjang sejarah manusia, dari masa sebelum hingga setelah datangnya Rasulullah, Muhammad saw, sebagai penutup para nabi. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu!’, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl: 36)

Allah Yang Mahakuat dan Mahaperkasa selalu membela para pesuruh-Nya, dan Dia membela Nabi-Nya saw dengan menyatakan bahwa: “kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru; dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya; Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).[27] Dan penegasan bahwa wahyu yang disampaikan kepada umat manusia itu adalah sebagai peringatan dan penjelasan. “Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.” (QS.al-A’raf [7]:184).[28]

Sedangkan orang-orang yang beranjak dari penglihatan fisik akan mengatakan dan membenarkan bahwa kehidupan manusia tidak sia-sia dan memiliki tujuan. Manusia bukanlah hanya seonggok daging dan tulang tanpa tujuan hidup. Karena memiliki tujuan, maka manusia harus merencanakan hidupnya dengan sebuah aturan dan metode tertentu agar tujuan hidup itu benar tercapai.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa tujuan utama dan tertinggi dari kemaslahatan manusia adalah mengabdi kepada-Nya. Untuk mengabdi secara benar perlu perencanaan, aturan dan metode yang benar, sebagaimana penjelasan di atas. Oleh karena itu, setiap orang yang mengetahui tujuannya, dia akan menyadari kedaruratan kebutuhan tentang aturan dan metode pencapaian tujuan tersebut. Karena semua itu –rencana, aturan, metode dan tujuan– sebenarnya merupakan suatu rangkaian yang tak terpisahkan.

Oleh karena aturan itu adalah untuk manusia, maka yang layak menyampaikannya juga harus manusia. Karena sebuah aturan juga menyangkut pelaksanaannya. Yang bijaksana ialah ketika aturan untuk manusia itu juga dilaksanakan oleh manusia. Jika dilakukan oleh yang lain, oleh malaikat misalnya, seperti pernah dimintakan oleh orang-orang kafir maka tidak akan memberikan kesan atau contoh yang bijaksana. Justru malah menjadi bahan tertawaan karena ketidak-mungkinan pelaksanaannya sesuai konteks dan kondisi manusia itu sendiri. Bahkan ketika kenyataaannya aturan atau risalah itu dibawa oleh “seorang dari kalian”, itu pun masih menjadi bahan olok-olokan. Padahal perantaraan manusia merupakan hal yang paling mungkin, masuk akal, dan bijaksana untuk/secara pelaksanaan aturan tersebut.

Di sinilah tampak hikmah bagi orang yang tidak menutup akal dan hatinya dalam melihat sosok kemanusiaan Muhammad saw. Artinya, jika Muhammad yang manusia itu,[29] yang juga berjalan di pasar, makan-minum, berkeluarga, bermasyarakat, dan seterusnya itu, bisa melaksanakan aturan yang ditentukan Tuhan, sebagai pengatur dan penuntun hakiki jalan kehidupan manusia, maka manusia yang lain pun tentu bisa melaksanakannya. Inilah salah satu hujjah mengapa tidak ada dalil yang lebih kuat dari diembannya amanah risalah oleh seorang insan manusia.

Di samping itu sang pembawa risalah haruslah orang yang sudah terlebih dahulu melaksanakan aturan dan tuntunan Ilahi tersebut. Tanpa keterdahuluan dalam pelaksanaan, maka tuntunan atau risalah yang dibawanya menjadi tak berarti. Adalah omong kosong ketika ada seseorang yang menyuruh pada kebenaran atau menuntun pada kebaikan sementara dia sendiri belum melaksanakannya.

Pelaksanaan yang dimaksud di sini adalah pelaksanaan sesungguhnya. Yakni pelaksanaan yang sudah menyatu atau menjadi karakter si pelaksana atas suatu ajaran kebenaran (haq). Karena jika tidak, misalnya kadang-kadang dia melaksanakan ajaran atau dakwahnya tersebut kadang tidak, atau ajaran yang dibawanya belum mewatak atau mengarakter, atau belum menyatu dengan diri, atau belum menjadi jatidirinya, maka ajaran tersebut hanya menjadi tanda tanya, bahkan bisa jadi bahan olok-olokan. Sebab, dakwah atau ajakan dari suatu tuntunan atau ajaran yang sejati harus meliputi seluruh aspek (lahir dan batin) ajaran tersebut. Ajakan tersebut harus keluar dari dalam diri si pembawa ajakan. Atau dengan kata lain, ajakannya merupakan pancaran dari pembawanya. Karena itulah setiap ajaran kebenaran selalu diserupakan dengan cahaya. Sang pembawa kebenaran diserupakan dengan pembawa cahaya, yang akan membawa umat manusia dari kegelapan (dzulumat) kepada cahaya (nur).

Sang pembawa ajaran sudah harus terlebih dahulu menikmati buah atau “merasakan manisnya” efek dari ajaran tersebut sedemikian rupa sehingga menjadi mustahil baginya untuk menyimpang dari seruan atau ajaran yang dibawanya itu. Tidak ada akal sehat manapun yang berpikir akan ada sesuatu atau seseorang yang akan meninggalkan “rasa manis” dari suatu pencapaian atas pelaksanaan ajaran kebenaran. Tidak ada pikiran bijaksana manapun yang berpikir ada seseorang yang akan meninggalkan cahaya menuju kegelapan. Apalagi, dia telah menjadi cahaya itu sendiri yang memancarkan sinar untuk menerangi yang lain.

Ketika seseorang menyadari adanya Sumber kehidupan dan pengetahuan, dan dia memperoleh kehidupan dan pengetahuan dari Sumber tersebut, maka pengetahuannya adalah realitas. Ketika seseorang memperoleh pengetahuan atau ilmu yang haq (sesuai realitas), kemudian melaksanakan ilmu tersebut, yakni menjalani hidup dengan ilmu atau realitas tersebut maka itulah kebenaran. Dan dia pasti mendapati kebenaran tersebut sebagai kenyataan sesungguhnya. Kenyataan-kenyataan yang seterusnya diperoleh tersebut menjadi sebuah kesatuan, yakni pelaksanaan atas ilmu yang diperoleh (baca: yang diberikan padanya oleh Sumber Kebenaran). Kesatuan tersebut menjadi sebuah kenikmatan dan anugerah tersendiri yang mustahil ditinggalkannya. Barangkali orang lain bisa saja memikirkan tentang kemungkinannya dalam pikiran tentang keterpisahan ilmu dan amal tersebut, tetapi dia tidak akan dapat pernah menemukannya dalam kenyataan perbuatan atau aktivitas orang tersebut, karena kenikmatan hakiki dari buah perpaduan ilmu dan amal tak pernah diperoleh tanpa adanya peleburan ilmu dan amal dalam dirinya. Artinya, dalam diri orang tersebut sudah terjadi perpaduan tak terpisahkan, sehingga menjadi mustahil dalam kenyataan bahwa ia akan melakukan pelanggaran terhadap apa saja yang diajarkan (ilmu) tersebut.

Itulah kelebih-dahuluan yang telah dicapai oleh seorang manusia, sehingga dia dipilih menjadi seorang nabi dan rasul. Dan Muhammad saw yang terdepan dari semua manusia.Katakanlah (ya Muhammad): ‘Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam’.” (QS. 40:66).

Karena itulah Muhammad saw memiliki kelayakan untuk dijadikan sebagai sumber pelaksana risalah-Nya. Kepribadian agungnya menyatu dengan risalah-Nya. Atau bahkan boleh dikatakan, dari kepribadian Muhammad saw itu memancar syariat Ilahi. “(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur’an),” (QS. 98:2). Sampai-sampai firman Allah Swt menyaratkan cinta-Nya kepada seseorang (harus) melalui Muhammad saw. Yakni, mengikuti (baca: tunduk kepada) Muhammad saw adalah tolak ukur kecintaan Allah Swt kepada seseorang: “Jika kalian mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka ikutilah aku maka Allah akan mencintai kalian. (QS. Ali Imran: 31).

-0-

Maka, bagaimanakah dalam jangka waktu yang tak terlalu lama seseorang bisa memperoleh kedudukan begitu tinggi (maqaman mahmuda) di antara manusia dari awal hingga akhir, merupakan hakikat yang terus menjadi bahan dasar dari pertimbangan yang akan menentukan perjalanan manusia setelah masa kehidupan beliau saw. Sebuah bahan pelajaran yang tak akan pernah habis diteliti hingga akhir masa. Telah berlalu beberapa nabi utama yang rahmat hidup dan lama dakwahnya melebihi masa nabi Muhammad saw, tapi Allah Swt –Yang Mahatahu dan Mahabijaksana, yang tak pernah keliru dalam menentukan sesuatu– memberikan “maqam” terdekat-Nya kepada Rasulullah saw. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang beriman bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya dengan tunduk (penuh penghormatan).

Benarlah bahwa Rasulullah saw diutus kepada seluruh umat manusia dan menjadi kabar gembira bagi seluruh umat manusia karena dia sebagai rasul yang memegang warisan risalah (baca: “tempat” penyempurna risalah), dan penutup nabi-nabi, karena amanah dan risalah yang dibawanya menyempurnakan seluruh risalah yang pernah diturunkan sebelumnya. Era Muhammad saw merupakan zaman akhir dari rangkaian tonggak-tonggak penyampaian Kitabullah dan risalah-Nya.[30]

Nabi Muhammad saw adalah panutan bagi seluruh mukminin. Di dalam diri Rasulullah saw terdapat uswatun hasanah,[31] dan berakhlak agung.[32] Beliau adalah orang yang begitu menginginkan agar manusia bertakwa dan bersama-sama dengan dirinya (kamil).Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. At-Taubah: 128)


[1] Tak ada argumen yang lebih terang dan kuat daripada kenyataan bahwa keberadaan manusia dan alam semesta itu dicipta. Keyakinan paling kuat ialah tentang adanya Tuhan yang mencipta segala keberadaan. Persoalannya kemudian, bagaimanakah wujud atau keberadaan Sang Pencipta itu sendiri? Satu atau lebih. Kalau Dia satu, bagaimana satu-nya? Dan seterusnya.

Kedalaman dan keluasan memahami Allah semakin mengantar manusia pada kedekatan dan ketaatan kepada Allah Swt, yang merupakan kemaslahatan sejati baginya. Demikian pula pemahaman terhadap Rasul-Nya.

[2] Dalam hal ini kita tidak akan mempersoalkan lagi detail keinginan dan kehendak Allah Swt itu dalam konteks Dia. Cukuplah disebutkan bahwa Dia adalah yang mandiri dan tidak membutuhkan sesuatu, Mahakaya dan tempat bergantung segala sesuatu, dan tempat atau sumber permintaan bagi setiap keberadaan.

[3] Perhatikan beberapa kasus nabi-nabi palsu

[4] QS.an-Najm [53]: 32.

[5] Kemestian yang dimaksud di sini tentu saja kemestian akal, bukan –misalnya– satu orang (penulis) yang mengharus-haruskannya.

[6] Lihat, QS. adz-Dzariat [51]:56.

[7]Dan sembahlah Allah hingga kau yakin. (QS.al-Hijr[15]:99.

[8] QS.al-Qashash [28]:88, “Dan janganlah kamu seru (sembah) tuhan lain bersama Allah, tidak ada Tuhan kecuali Dia…… Untuknya segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kalian akan kembali”.

[9] Pembahasan ini memang perlu perincian lebih lanjut, mengingat begitu menarik dan panjangnya uraiannya. Para pembaca dapat merujuk ke buku-buku lain yang sesuai. Di sini cukuplah kita mengandaikannya pada seorang mukmin ketika tahu dan yakin bahwa ajalnya sudah dekat, dan harus mempertanggungjawabkan semua urusan hidupnya kepada Tuhan, Sang Hakim yang Mahaadil, yang telah memberi hidup, potensi dan seluruh sumber daya sebagai bekal hidupnya. Tentu dia akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak berbuat menyimpang dari aturan-aturan-Nya (baca: jalan kebenaran/shiratal mustaqim). Dalam kesadarannya, dia terlebih dahulu harus yakin bahwa hal itu mungkin dan bisa dilakukan, bahkan pasti bisa dilakukan. Karena tanpa keyakinan itu, maka yang dikatakan berusaha sekuat tenaga tersebut sudah gugur sejak awal. Yakni, kalau dia tidak yakin bisa, untuk apa berusaha sekuat tenaga. Kepastian yang diyakini itu akan membawanya pada kondisi yang menutup pikiran dan pengetahuannya pada yang lain kecuali berbuat taat kepada-Nya. Dan ketika dia bisa melaluinya (berhasil) sehari, berarti bisa pula untuk dua hari. Ketika berhasil dua hari berturut-turut berarti juga bisa memenuhi ketaatannya selama seminggu, lalu sebulan. Kalau bisa sebulan berturut-turut, berarti bisa juga setahun tanpa henti. Begitulah seterusnya, hingga seluruh hidupnya diliputi ketaatan tiada henti, tanpa penyelewengan sedikit pun, hingga ajal benar-benar menjemputnya.

Selain itu, ada pula pembahasan tentang kualitas sebuah amal dan tentang ruh manusia. Dalam pembahasan yang lebih detail dikatakan bahwa, boleh jadi satu perbuatan seseorang dengan tingkat keikhlasan dan keyakinan puncak kepada Allah Swt akan mengantarkannya pada maqam yang sangat dekat kepada Allah Swt. Juga tentang keberadaan ruh manusia yang unik, yang “ruang” pengabdiannya memanjang dari sejak lahir hingga mati. Karena itu, tak soal jika sejak bayi seorang sudah bisa menjadi hujjah dan rasul-Nya. Ini menarik, tetapi ruang kita kali ini kurang sesuai untuk menguraikannya lebih lanjut.

[10] Untuk beberapa kasus, hujjah fisik atau materi memang diberikan, karena hal itu sebagai salah satu hujjah pamungkas terhadap seluruh lapisan tingkat kesadaran manusia. Misalnya, untuk syarat-syarat fisik seorang nabi yang harus lengkap dan sempurna fisik, agar tidak menjadi bahan ejekan dalam berdakwah. Namun, kali ini, kita tidak membahasnya karena kurang relevan dengan maksud dan tujuan penulisan.

[11] Pembahasan lebih lanjut tentang masalah yang terakhir ini tampaknya kurang tepat dijabarkan di sini.

[12] Lihat, QS.ash-Shaff [61]:2-3.

[13] QS.an-Najm [53]:3-4.

[14] Dalam sebuah riwayat, pernah ada seorang sahabat yang mempersoalkan apa yang disampaikan Rasulullah saw kepadanya dan para sahabat lain dengan kalimat, “ya Muhammad, ini dari anda, atau dari Allah?”

[15] Muhammad saw juga dipanggil dengan abul Qasim. Putra pertama beliau saw bernama Qasim. Dalam riwayat lain, beliau juga punya putra bernama Ibrahim.

[16] Dalam beberapa keterangan tafsir ayat tersebut sering dikaitkan dengan kasus Zaid bin Haritsah sebagai anak angkat Nabi saw. tapi, dalam pembahasan ini kita hanya mengambil poin lain yang dapat diambil sesuai dengan konteks pembahasan.

[17] QS.asy-Syu’araa [26] ayat 109, 127, 145, 164, 180

[18] Jika kalian mencintai Allah dan rasul-Nya, maka ikutilah aku maka Allah akan mencintai kalian. (QS. Ali Imran: 31)

[19] Pesan atau amanah ini bisa berupa perintah, larangan, anjuran, peringatan, ancaman, kabar gembira, berita, dan lain-lain. Ketika dia menyampaikan perintah dan larangan, maka dia juga sebagai pembimbing dan pemimpin manusia.

[20] Lihat juga, QS.[41]:6-8.

[21] Lihat, QS.an-Najm[53]:4.

[22] “…..Kalian menyukai dunia sedang Allah menyukai akhirat…..” (QS.al-Anfaal [8]:67).

[23] Fisik atau jasad, yang cenderung menyeret diri untuk terikat pada materi, karena memang fitrah jasad yang terbangun dari unsur materi tentu tidak akan pernah keluar dari sifat dan watak kematerian. Sementara ruh, yang merupakan unsur non-materi selalu saja rindu untuk kembali ke “tanah air”nya, yang non-materi/ruh.

[24] QS.al-Kahfi[18]:110.

[25] Dalam al-Quran disebutkan pula demikian: “Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal yang saleh serta beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang hak dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (QS. 47:2).

[26] Jika kalian mencintai Allah dan rasul-Nya, maka ikutilah aku maka Allah akan mencintai kalian. (QS. Ali Imran: 31)

[27] QS.an-Najm[53]:2-4.

[28] Ada beberapa ayat lain yang menegaskan bahwa Muhammad saw bukanlah seorang yang gila.

[29]Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri…”

[30] Salah satu maksud kabar gembira itu sebagaimana disampaikan oleh Nabi Isa as, lihat al-Quran [61]:6

[31] QS. Al-Ahzab: 21

[32] QS. Al-Qalam [68]: 4

One thought on “Insan Kamil: Kemaslahatan Manusia

  1. anarif mengatakan:

    ” MAKA HADAPKANLAH WAJAHMU DENGAN LURUS KEPADA AGAMA. , FITRAH ALLAH YANG TELAH MENCIPTAKAN MANUSIA MENURUT FITRAH ITU., TIDAK ADA PERUBAHAN PADA FITRAH ALLAH., AGAMA YANG LURUS., TAPI KEBANYAKAN MANUSIA TIDAK MENGETAHUINYA ” (Qs Ar Ruum 30 :30)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s