Aripin Ali tentang Refleksi Persiapan Berpuasa

1

Aku ditanya baik-baik, “Apa yang kamu siapkan untuk puasa?” Sayang sekali tidak ada. Bahkan aku tidak mengerti apakah persiapan itu seperti wudu untuk salat?; seperti belajar untuk ujian?; seperti perbekalan yang akan kita nikmati di tempat wisata? Kadang aku cuma memandang puasa seperti makanan enak yang baru dicicipi rasa berbedanya. Selera makanku ya biasa saja, walau yang telah dicicipi membuat tanda dalam kenangan, ya aku tetap saja aku perlu makanannya dulu.

Tapi tunggu. Kenangan yang sangat indah akan diingat eksklusif. Aku masih ingat ketika kami masih di Banjar dalam perjalanan ke CImahi membicarakan mau makan di mana, aku mengusulkan makan nasi liwet dengan goreng peda merah di Nagreg. Hihi, ‘kan ini kejauhan dan memupus tempat makan sewaktu pergi, di sekitar Cimahi. Artinya, kenangan indah bukan hanya menjadi prioritas pikiran, melainkan juga melahirkan imajinasi. Haha, bukankah imajinasi itu nama lain transendensi?

Masalahnya, apakah aku punya kenangan terindah dengan puasa? (28-8-’08 ; 03:20:37)

2

Perumpamaan yang tidak kusuka tentang persiapan utk puasa adalah berdandan untuk ke kondangan. Ada penentu pragmatis dari luar yang kuasanya besar. Perbandingannya juga mengungkap identitas dengan tidak nyaman. Contoh, berkaitan dengan dandanan dalam lima waktu menghadap Tuhan dan wewangian, kecerahan dan keceriaan dalam keseharian dengan keluarga. Aku pikir tidak ada di sini persembahan yang tulus. Yang ada ‘keserakahan’ terhadap kemuliaan dan berkah. Duh, masih saja kuada untuk menilai yang lain. Lupaku sendirinya. (07:51:07)

3

Apakah bekal yang diberikan Nabi itu, bekal yang diberikan sebelum puasa dan jauh-jauh hari sebelumnya, atau bekal pada saat menjalaninya (amal-amalan sebelum berpuasa)? Mungkin bukan arogansi pikiran, tapi semacam keputusasaan bahwa momen-momen yang kuasa melampaukan keterbatasan diri ini tak pernah dengan sungguh kumaksimalkan untuk mengubahku. Bahkan kadang ingin kutangisi kenapa kutakbisa menikmati dan tertawan dalam ‘sunnah’. (Di sini persis kuingat Imam Khomeini dan khususnya Thabathabai dengan ritual ziarah kuburnya) sehingga kalaupun benar arogansi pikiran itu ada, akan menjadi identik dengan rasionalitas yang belum sampai pada pembenaran, pada keyakinan.

Buktinya, penilaianmu itu ditujukan padaku yang mengagungkan tabarruk, sungguh memimpikan syafaat, dan membela kecintaan pada Nabi Muhammad. Sungguh aku belum benar melalui jalan akal ataupun hati, apalagi menikmatinya. Yang terbawa dalam diriku adalah ketidakpastian dan kegelisahan. (16:03:51)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s