Kisah Seorang Anak Buangan

Suatu hari, saya mendapat sms dari A Ipin. Begini bunyinya:

I

Hari ini pertemuan dengan guru-guru kelas 5. Saya menanyakan ada huru-hara apa di kelas 5? “Huru-hara” saya ucapkan sambil tersenyum karena memang iseng memilihnya. Ternyata, dikabulkan ada huru-hara. Ada kasus pencurian sebanyak lima kali di ketiga kelas 5. Tiga kasus diketahui dilakukan 1 anak (: perempuan baru selesai menstruasi pertamanya) dan dua kasus mengarah juga padanya. Diketahui dia berkasus sejak kelas 3 sedemikian sehingga ‘semua’ ortu mencapnya demikian; setiap ada pencurian, semua berseru”siapa lagi?” Saya mendiskusikan bagaimana siasat mengungkap kasusnya. Teman-teman menunjukkan kegagalan siasat yang saya ajukan. Kemampuannya berdalih membuatnya menang. “Intimidasi” banget kata saya, saat meminta teman-teman tidak beranjak menginterogasi sampai pengakuan. “Saya takut…” keluh seorang guru diamini yang lain. Inilah saat saya mendengar: ortunya (yang mulai menampiknya) adalah ortu angkat dan menceritakan, ortu sebenarnya: ayahnya, preman, ibunya PSK. Ia buangan. Dan kini… (8-8-’08 ; 11:40:35)

II

Nasibnya, sejarah hidupnya, asal leluhurnya diungkap untuk mengungkap apalagi kalau bukan keputusasaan (sesuatu yang Tuhan benci dari makhluk) menghadapi takdir Tuhan. Bukankah asal nasib anak itu Tuhan jua? Saya segera meminta teman-teman mengubah semua pendekatan. Ayo buka diri untuk menerimanya; lapangkan hati mengasihinya; ceritakan semua yang kita lakukan hanya karena cinta. Akui, akui, akui, dia anak kita. Hari ini anak itu pun dibenci semua teman perempuannya: diolok-olok dan dicibir.

Sebentar ya aku menangis dulu… Aku ada di tempat yang terlalu jauh untuk dapat mendidikanak itu. Bahkan aku terlalu jauh dari dirinya sendiri: akalku tidak bisa memenuhi tuntutan hatinya; imannya kehilangan jalan pada Tuhan. Aku hanya mempermalukan diri dengan air mata. (8-8-’08 ; 12:04:53)

III

Sampai pertemuan paralel selesai, saya tidak dapat mengenali gadis yang dideskripsikan teman-teman. Sebelum sekolah bubar, saya minta diantar wali kelas melihatnya. Beberapa saat setelah mengenalinya, saya langsung mengenali juga persepsi selama ini: prasangka pada karakter bermasalah di balik perilakunya. Saya telah menghindar menjalin komunikasi: diskriminatif.

Artinya, kapasitas alamiah mendidikku di level lebih rendah masalah yang dihadapi. Teman-teman juga demikian, saat mereka sudah tahu siapa si gadis, masih menyelesaikan masalah dengan ikatan egoisme yang kuat: aku guru dia siswa, dan masih sulit menyatukan keduanya dalam kewajiban belajar; dia pencuri (: salah), aku bukan pencuri (: benar), adalah sulit mengubahnya menjadi semua bisa salah, semua punya salah; dia keturunan tak baik, aku keturunan leluhur yang kubanggakan, bukannya mengedepankan konsep bahwa orang akhirnya mempertanggungjawabkan dirinya semata. Saya memang perlu memastikan hati kecil yang berbisik: masih ada harapan, memiliki argumen yang kuat. (9-8-’08 ; 06:51:24)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s