Wr

Hampir 12 tahun aku mengenalnya di kota B, tempat aku berkuliah. Kedekatanku dengannya, di samping karena aspek teologi, kemungkinan didorong oleh tempat kelahiran kami yang sama, kota T. Sejak tahu bahwa dia berasal dari kota T, secara emosional hubungan kami sudah tidak formalistis lagi pada dia jelas lebih tua beberapa tahun dariku.

Perkenalanku dengannya memang tak sengaja ketika aku tengah lagi “panas-panasnya” mencari suatu  formulasi teologis yang lebih rasional yang selama ini tak kudapatkan di kota T. Memang di kota T sendiri , aku pernah terlibat aktif di sebuah forum studi antarpelajar yang kegiatannya mencakup penyelenggaraan kelompok belajar hingga pesantren kilat. Salah satu mentorku saat itu adalah Aripin Ali. Dalam kajian keagamaan kami (waktu itu masih SMA lho!) sudah menggunakan referensi kitab putih (!) dari berbagai aliran, namun tampaknya pendekatan filsafat yang mendominasi forum studi kami. Di bawah Aripin Ali, atau sebut saja AA, kami dihantarkan ke pemikiran Muthahhari, terutama, dan Ali Syari’ati. Baca lebih lanjut