Setelah Rumah, Apalagi?

8 JUNI kemarin adalah hari terakhir renovasi rumah mungil kami setelah berjalan dari tanggal 24 Mei silam. Setelah halaman belakang kami perluas, dengan menambah satu kamar tidur buat dua putra kami, ruang tengah, dan dapur pada Mei tahun silam, renovasi jilid kedua bergerak ke arah depan. Persisnya, depan kamar kami hingga pembuatan pagar tembok.

Awalnya, aku tak ingin segera merenovasi rumah karena duit belum ngumpul. Namun, pada akhirnya, kuputuskan untuk merenovasinya segera karena ke depan aku tidak tahu berapa lagi harga bahan-bahan bangunan akan naik mengingat BBM akan dinaikkan pada 23 Mei. Dan, memang esoknya ketika aku belanja bahan-bahan bangunan, item-item yang kubeli sudah naik. Karena bahan bangunan yang dibeli cukup banyak, aku pun mendapat rabat Rp 500,- per item. Lumayan, pikirku.

Tukang yang kupakai adalah dia yang merenovasi rumahku tahun lalu. Tadinya mau ngambil yang dekat tetapi jadinya dia lagi karena tukang-tukang yang menjadi nominasiku lagi sibuk di tempat lain. Awalnya, ia membikin pagar dulu kemudian baru dia bikin semacam kanopi persis depan kamarku, sehingga sinar mentari yang awalnya bisa menyorot tajam kamarku di siang hari, kini bisa dikurangi intensitasnya.

Meski semua serba sederhana, karena uang yang kupinjam (!) juga sederhana, puas juga rasanya bisa memberikan tempat berteduh bagi keluargaku. Semoga saja aku cukup umur untuk dapat melunasi semua cicilan rumah selama 15 tahun ini. Dan, yang terpenting adalah aku ingin menanamkan ke keluargaku bahwa meski rumah fisik kita sempit, hendaknya rumah batin kita luas, bahkan lebih luas lagi sehingga dari sana bisa terpancar asma-asma Tuhan.

Kini setelah jadi, pikiranku terusik, setelah rumah, apalagi? Aku ngeri ketika memamdang hari esok negeri ini (terutama dengan diriku sendiri sendiri sih). Tapi, bukankah Buddha mengatakan, “Tak ada yang permanen dalam hidup ini. Jadi jangan pernah melekatkan diri pada apa pun. Kalau anda punya peran dalam suatu hal, maksimalkan yang Anda bisa.” (Thaksin Sinawatra, Tempo, Wawancara, 15 Juni 2008)

Hikmah perennial ini cukup memberiku energi. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s