Cigugur dan Refleksi Sebuah Toleransi Beragama

Berikut ini oleh-oleh  kakak saya , Aripin Ali, yang tengah melakukan perjalanan ke daerah Cigugur, Kuningan. Menurut saya, ini sebuah wujud dari keragaman beriman dan beragama yang bagaimanapun harus dihormati di Tanah Air kita ini, Indonesia. yang sekarang ini tengah mengalami penguatan kekerasan dalam beragama.

Aku lagi di Cigugur, Kuningan. Di rumah mertua teman Katolikku, di mana kutemukan adat Sunda; bahasa Sunda yang terucap dalam balutan kultur Sunda. Beberapa langkah ke bawah, di dapur tantenya, ada sekitar 20 jenis makanan tradisional yang mengingatkanku pada penganan lebaran di waktu kecil.

Rumah tante temanku yang juga Katolik itu bersebelahan dengan masjid yang juga dekat rumah pusat kepercayaan Agama Djawa Sunda. Kunikmati pikiran selintas bahwa perbedaan agama tidak mempengaruhi budaya. Bahkan pada persamaan budaya (yang telah membuat masyarakat turun-temurun dalam damai) inilah, agama-agama membuktikan ketinggian pencapaian spiritualitas. (9-6-2008; 19:10:12)

“Sebaik-baiknya kamu adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain.” Saya kira, kata-kata [Nabi] ini yang harus diagungkan dunia pendidikan sehingga pendidikan tidak pernah menjauh dari basisnya: masyarakat. Baik Kristen, Katolik, juga Islam telah menjadikan pendidikan berbasis agama. Aku belum tahu persisnya, tapi ini bukti yang perlu dicermati: siapa saja bisa jadi pasien RS Borromeus yang sungguh lebih dari sekolah, kekatolikannya lebih kentara, tanpa terasa terganggu keimanannya. Tapi sekolah Katolik di sampingnya telah menjadi khusus untuk mereka yang beragama Katolik. Kenapa semua tidak berkumpul membuat sekolah terbaik milik masyarakat, dengan budaya atau kedudukan sebagai warga yang mempersaudarakan mereka? (10-6-2008; 05:57:31)

Berbeda gang, di kota, bisa tidak saling mengenal. Di sini [Cigugur], warga-warga desa bisa saling mengenal layaknya mengenal tetangga sebelah. Dan kini di sini berdiri sekolah yang orang leluasa menunjuk: itu sekolah agama ‘anu’. Lalu kita kan pun membedakan dengan mereka. Inilah bukti pendidikan mengkhianati budayanya, memungkiri karunia sejarah kemanusiaannya. Betapa aku rindu sekolah yang membuat orang mau dan leluasa menjadi pemikir. Aku mau berpikir bebas! Itulah yang kubanggakan dari agamaku. (10-6-2008; 07:08:16)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s