Seminar Pendidikan: Sebuah Dialog

AA: Aku lagi ikut seminar “Membangun Bangsa Melalui Pendidikan Hati” dengan pembicara dari Thailand, Dr Junsai. Mungkin dapat kusimpulkan dalam pendidikan hati, puncak perjalanan adalah kukuhnya fungsi intuisi (sesuatu yang sangat terasa dimensi mistiknya). Nah, hebatnya mereka sudah menerapkan prinsip-prinsipnya sejak pendidikan dasar. Mungkin seperti pertanyaan anak-anak kuajukan: “Bagaimanakah membuat sekolah yang menyiapkan lahirnya Ibnu Arabi (atau Imam Khomeini)?” atau “Mungkinkah (sesungguhnya aku ingin mengatakan harus) kita merancang kurikulum ‘sejarah masa depan’ para pemuncak ilmu dan kemuliaan sampai ke tataran pendidikan dasar dan model parenting (peran ortu dalam pendidikan)?” (Sms A Ipin, 15-4-2008; 14:20:03)

Responku: Dua pertanyaan terakhir ini yang justru sedang kucari jawabnya. Aku melihat dua hal di sini: pembiasaan (ini kebanyakan orang) dan talenta (given by God). Dalam kasus Ibn Arabi dan Imam Khomeini agaknya talenta mereka yang banyak berperan.

AA: Psikolog Harvard, Jerome Kagan, menuturkan bahwa seorang anak bagaikan sepotong kain abu-abu pucat: benang hitam genetika dijalin dengan benang putih lingkungan untuk menghasilkan kain yang tidak memperlihatkan salah satu warna benang. Menurutku, antara nature dan nurture, dalam perspektif keadilan Ilahi, adalah “kain abu-abu pucat” itu, sehingga manusia berdiri dengan kemungkinan, berhadapan dengan pilihan. Demikianlah, maka free will pun bersifat aksiomatis bagi moralitas. Bagiku, kesalahan jika membandingkan prestasi spiritual (atau prestasi apa pun) kemudian mengatakan bahwa yang satu lebih besar talentanya dibandingkan yang lain. Kepastian dari nature dan nurture adalah keberagaman, bahkan keunikan per individu. Bahkan ketika keduanya berinteraksi sejak pembuahan, keunikan individu berubah terus sepanjang hayat, berubah dengan ketetapan dalam keunikannya, sehingga sebuah hadis mengatakan jalan menuju Tuhan sebanyak tarikah nafas umat manusia.

One thought on “Seminar Pendidikan: Sebuah Dialog

  1. ateng sumantri mengatakan:

    Tareqat. Hakmaliyah yaitu haq diri pribadi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s