Surat Sahabat

surat.jpgMalam Jumat, 8 Muharram 1429 H.

Ini kutulis untukku dan teman-temanku, yang biasa Kumailan bersama…..

Satu kalimat dari ucapanmu menggelisahkanku.

Meskipun bisa saja kau hanya sekadar bermain kata-kata. Tapi kali ini, kecenderunganku menganggap sebaliknya; itu bukan tanpa makna. Meski kita sama-sama tahu-lah siapa diri kita. Tentu memang, bukan hakikat kita masing-masing. Toh kita bukan ahli batin. Kita merasa tahu sebagai teman, hanya berdasar prasangka baik, bukan!….

Duh…. sebenarnya berat rasanya mengomentari ucapan itu. Aku takut, karena sering kata-kata mendahului perbuatan. Aku takut melihat kilatan pecut akan menyambarku dengan hardikan kalimat, “mengapa engkau mengatakan sesuatu yang tidak kau lakukan?”

Tapi biarlah, biarlah aku terjerat dengan comelanku sendiri. Karena aku juga berharap comelanku ini dapat memerangkapku. Siapa tahu dia bisa menjagaku, agar aku kerasan dan tak ingin keluar dari tolehan teduh al-Murtadha, meskipun cuma sejurus… meskipun hanya sekilas. Sejujurnya ku katakan, jangankan kerasan, bahkan aku sendiri yang sering lupa, teledor, menzalimi dan membodohi diriku sendiri dengan keluar dari kilas keteduhan itu, terjerembab dalam kekeringan yang mengelupaskan kulit-kulit tubuhku.

Jadi, ini terpaksa ku lakukan semata-mata karena aku menganggap engkau temanku. Tentu kau tahu burukku. Ah.. biarlah…. aku akan coba katakan ini padamu. Karena, barangkali, esok aku lupa. Dan kita tidak ada waktu lagi….. Terus terang, ini berat dan sulit bagiku. Tapi aku terlanjur berjanji dalam hatiku, akan memberi tanggapan atas kata-katamu itu. Meskipun tanggapan itu, akhirnya hanya untukku saja.

Sebagai bentuk keseriusanku itu, kuajak kau berjalan bersama lamunanku, dan dalam kenaifanku pula……

Ku pinjam bagian syair sebuah lagu

masih mungkinkah, pintu Mu kubuka

dengan kunci yang pernahku ku patahkan

dalam hati kecil aku berteriak

……. ya ghafur …..

Bagaimana menurutmu? Kira-kira apa tanggapanmu jika dua baris syair itu kau buat pertanyaan untukmu? Jawabannya hanya dua kan! “bisa” atau “tidak bisa”. Sebagian orang akan menjawab: “tentu bisa”, asal kita bertobat, asal kita sungguh-sungguh dalam bertobat itu. Selama kita masih punya tenaga dan kesempatan, kita masih bisa bertobat. Dan Tuhan akan mengampuni dosa-dosa kita.

Betul! Betulkah demikian jawabanmu?

Kalau aku, aku menjawab dengan jawaban kedua, yaitu tidak bisa.

Ya, bagaimana mungkin bisa. Kunci yang sudah patah, tak kan lagi berfungsi untuk membuka pintu, bagaimanapun bentuk patahnya.

Benarkah dengan bertobat berarti kunci akan tersambung lagi seperti sedia kala. Siapa yang menyambungnya, kitanya, atau tobatnya? Seperti apakah tobat si pematah (perusak) kunci sehingga mampu mengelas (menyambung) lagi kunci seperti semula, dan menggunakannya lagi seperti sebelumnya, untuk membuka pintu. Pintu untuk masuk ke dalam rumah, rumah kesucian, rumah barakah, rumah kesejukan dan kehangatan, rumah sumber makanan dan minuman, rumah keselamatan dan kesejahteraan.

Sejauh yang ku pikirkan, jawab yang ku mengerti masih tetap saja, bahwa “tidak bisa”. Kunci yang sudah patah itu, tidak bisa disambung kembali. Ya, bagaimana mungkin kunci patah itu tersambung kembali…..

Kalau begitu, lalu bagaimana caranya kita bisa masuk kembali ke dalam rumah itu, rumah fitrah kita, rumah kerinduan setiap orang yang “dulu” telah berjanji setia di hadapan Pemilik Rumah. Patutkah kita berputus harapan dari-Nya, sehingga kita dibiarkan kepanasan dan kehausan, kedinginan dan kelaparan, dalam kemurungan dan kenestapaan, kegelisahan dan kegundahan, terlantar dan hina di luar rumah. Tentu tidak….

Sang Pemilik Rumah adalah Pengampun dan Penyayang. Kalau Dia tidak Pengampun, bagaimana mungkin aku merasa bersalah ketika mematahkan kunci rumah? Dan karena tarikan ampunanNya itulah aku masih bisa bertaubat. Kalau bukan karena Pengampun dan Penyayang itu, apakah iya ada taubat itu? Renungkanlah… Mengapa si pematah kunci yang menyesal itu menyesal, lalu ingin bertobat. Apakah guna sesalan dan taubatan? Bukankah sekecil zarrah perbuatan akan mendapat konsekuensinya masing-masing?

Lalu, darimanakah taubat itu? Benarkah taubat itu dari si pematah atau perusak kunci yang merasa bersalah karena tak lagi bisa masuk ke dalam rumah? Masihkah bisa diakui bahwa aku bertaubat karena aku ingin bertaubat, yakni apakah benar aku merasa mampu bertaubat? Renungkanlah…, apa dan siapa pembuat taubat, pendorong taubat, penyebab taubat? Akukah, si pematah kunci inikah, atau kamukah? Kalau bukan karena Pengampun dan Penyayang itu, apakah iya ada taubat itu? Renungkanlah!! Itu yang pertama.

Kalau engkau sudah melihat omelanku yang pertama, maka ikutilah lamunanku berikutnya.

Ke manakah taubat ditujukan, ke manakah sesal diarahkan? Pikiranku hanya satu. Sudah tak ada jalan lain kecuali pintu yang kuncinya kupatahkan itu. Lantas bagaimana bisa masuk rumah itu? Menjebol dinding berarti merusak rumah, membeli kunci tidak punya uang, membuat kunci baru tidak punya bahan dan alatnya, meminta kunci baru tidak mungkin, karena kunci itu hanya dibuat satu dan sekali untukku.

Jalannya hanya satu, berteriak dengan keras, sekeras-kerasnya, sampai pita suara pecah. Biar saja pita suara putus berantakan. Ketuk saja pintu rumah itu, sekeras-kerasnya, sampai kulit koyak dan tulang ngilu, atau bahkan sampai lumpuh.

Tapi jangan berteriak semaunya, tak semua teriakan dipedulikan pemilik rumah. Bisa-bisa kita malah diusir pemilik rumah. Hey, itu ada aturannya, itu ada caranya. Mengetukpun tak semaunya, ada tata kramanya, ada seninya. Sekeras-kerasnya bukan berarti ngawur, tapi berarti nasuha. Karena, orang yang berteriak dan mengetuk ialah orang yang butuh, yang benar-benar perlu, bukan sebaliknya.

Ia berteriak dan mengetuk, karena keyakinan bahwa tak punya daya dan tak bisa menyambung kunci yang dipatahkannya. Ia menyerah karena kini tiada punya apa-apa lagi (kunci) untuk membuka pintu. Ia berteriak dan mengetuk karena yakin bahwa penyesalannya adalah manifestasi dari kePengampunanNya. Kalau bukan karena Pengampun dan Penyayang, masih adakah taubat itu?, apalagi teriakan dan ketukan di pintu?

Dengan keyakinan ini, apakah Sang Pengampun dan Penyayang itu tak akan mendengar teriakan pita suara yang pecah, tak akan mempedulikan ketukan tangan yang lumpuh, padahal PengampunanNyalah penyebab taubat, KekuatanNyalah pembuat teriakan, kePenyayanganNyalah penarik tangan untuk mengetuk pintu.

Maka, apakah – duh… haruskah kulontarkan kata-kata ini – maka apakah Dia akan menolak AmpunanNya sendiri. Mustahil…. mustahil….. Karena perbuatanNya adalah kebijaksanaanNya, dan kebijaksanaanNya muncul dari kesukaan dan cintaNya pada diriNya sendiri.

Ya! itulah usulku, pada diriku dan engkau temanku. Sesungguhnya junjunganku, sang penjaga pintu, yang juga tinggal dan penghuni tetap rumah kesucian itu, telah kuyakini menuturkan sebuah kata kepadaku, atas suruhan Sang Pemilik Rumah, “sesungguhnya, aku mendekati Mu dengan Dzikirmu”, sesungguhnya aku berteriak dan mengetuk dengan teriakan dan ketukan-Mu, akankah Kau menolak suara dan ketukan-Mu sendiri. Engkau yang melempar, bukan yang lain. Dan Engkaulah Ghafur dan Rahim….. mustahil, mustahil Kau menolak apa yang Kau punyai, sebab Engkau sendirilah yang menghendaki apa yang Kau punyai.

Cukup temanku, cukup dulu. Mungkin aku tak sebaik engkau.

Aku teringat pada seorang yang begitu terkagum pada doa hadhrat Ali as. Kemudian dia berkata, ‘luar biasa, bagaimana doa ini tidak manjur, untaian kata-katanya begitu menjerat, tak ada jeratan yang lebih jitu dari ini. Tuhan disanjungnya hingga tersipu, dan tak bisa berbuat apa-apa, kecuali ‘ridho’ mengabulkannya. (aku minta ampun atas kata-kata ini).

Aku juga teringat seseorang yang memberiku rumus untuk dibuat wiridan, yaitu: “yang tak punya tak mungkin memberi”.

Aku juga teringat pada seseorang yang suka banget meniru satu kalimat, “kalau bukan karena rahmat Mu yang lebih dulu menarikku, apakah aku bisa menuju ke arah Mu.”

Ahh. Sudahlah temanku, ………… sudahlah,….

Wassalam

Al-faqir

2 thoughts on “Surat Sahabat

  1. Bustami (Boes) mengatakan:

    Sori nih kalo komentarnya apa adanya, moga ada manfaatnya. Dari segi kata2 menurut saya mungkin untuk orang yang belum mendalam agak sulit mencerna, yang mana intinya adalah bagaimana cara kita kembali padanya, setelah kemudahan fasilitas kita hilangkan. Tapi dengan jalan lain masih banyak….banyak cara taubat….yang intinya dari kesungguhannya……..Jadi bahasanya panjang..tidak ringkas. Oh ya itu kan syairnya Ebiet G Ade, tapi mungkin kalo kita baca semua syairnya akan kita ketahui makna lebih detail dari syair tersebut…
    Sepertinya segitu dulu komen dariku……
    Ladang tanah bis aditebak..ladang ilmu luas sekali…ladang hikmah tak terukur….

    by boestami……negri…terasing ..

  2. trixi mengatakan:

    Ahsantum…15x
    Tayiballah anfasakum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s