“Ayat-ayat Cinta”

novelhabiburr1.jpgSoal hebohnya novel Ayat-ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman el-Shirazy rupanya tak mengusik rasa penasaran teman saya. Saya memang pernah membeli dan sekaligus membaca novel tersebut, dan sebagaimana pendapat Ahmadun Yos Herfanda, novel “romansa Islami” ini layak mendapat mendapat penghargaan. Meski menurut saya novel tersebut agak surealis–mungkin juga utopis–spirit dari novel tersebut tetap perlu mendapat apresiasi. Karena itu pula, saya pun sering menjadikan novel tersebut dan juga buku Membangun Surga Dalam Rumah Tangga karya Husain Mazhahiri, sebagai kado pernikahan kenalan dan kerabat-kerabat saya.

Ketika mendengar berita bahwa novel tersebut akan difilmkan, tanpa bermaksud memancing teman saya, saya menyampaikan berita tersebut kepada teman saya dan ingin mengajaknya menonton sebagai refreshing, tak dinyana, dia tetap tak tertarik. Saya mencoba berpikir apa yang menjadi faktor ketakseleraan teman saya ketika mendengar berita itu.

Dugaan saya, rupanya konten buku tersebut membawa semangat patriarkhisme di sekujur tubuh novel tersebut. Si Tokoh utama diceritakan sebagai suami yang diminta untuk menikah lagi oleh istri pertama. Sungguh, gagasan ini tidak genah untuk dinikmati oleh para perempuan dan lelaki yang “anti-hegemoni” pria. Teman saya yang bacaan favoritnya Fathima Mernissi, Nawal el-Shadawi, jelas-jelas tak suka dengan bacaan “yang melestarikan hegemoni pria atas perempuan”.

Baiklah. Gagasan superealis el-Shirazi ini mungkin hanya ada di negeri awan. Aplikasi ide tersebut amat jarang bisa dilakukan. Kalaupun dilakukan, biasanya mengundang masalah. Tetapi, saya semata-mata hanya ingin melihat sesuatu yang berada di luar konten novel tersebut: proses kreatif.

Saya melihat bahwa hebohnya AAC ini lahir karena beberapa alasan: (1) konsumen Indonesia jenuh dengan ide-ide yang muncul dalam novel-novel yang tidak berkarakter ketimuran; (2) penuturan ide komunikatif; (3) menyampaikan adab Islam dengan cara yang tidak menggurui.

Nah, teman saya betul-betul gak mau tahu soal proses kreatif. Yang hanya ia ketahui, AAC ini membawa semangat pelestarian hegemoni pria atas perempuan. Ya, sudah selesai diskusi. Cape deh!

2 thoughts on ““Ayat-ayat Cinta”

  1. Boestami mengatakan:

    Ya setiap sesuatu pasti punya pangsa pasarnya. Ga ada di dunia ini dalam satu hal yang semua orang sepakat (seperti pernyataan Imam Khomeini). Jadi selama dalam batas koridor yang dibenarkan ya ok-ok aza. Seperti kasus kang Agym, heboh walaupun boleh. Ada yang pro ada yang kontra, ada positifnya ada negatifnya. Itulah seninya dunia ini, pluralis..he..he..

  2. Khalisa mengatakan:

    Bukan hanya karena saya perempuan maka saya setuju dengan komen mbak amuli ttg aac. Bagi saya sosok Fahri tak lebih merupakan produksi imajinasi dan cita-cita penulis yang memang pria itu. Punya istri cantik yang tak pernah disentuh pria lain baik fisik maupun hatinya. Fahri merupakan sosok pria penuh pesona yang digilai perempuan2. Ia dijatuh cintai oleh tiga wanita supercantik. Penggambaran fisik ini sudah jelas menunjukkan ideologi patriarki dibalik sang tokoh. Belum puas dengan itu, pengarang juga mengambil ide siti nurbaya yang sakit ditinggal samsul bahri, di sini salah satu perempuan yang jatuh cinta dengan Fahri sampai jatuh sakit gara-gara ditinggal kawin dengan perempuan lain.
    Ya ampun….
    Sungguh saya gak abis pikir. Novel romantik zaman balai pustaka kaya gini bisa2nya best seller.
    Kenapa sih gak bikin novel yang ngangkat kehidupan yang lebih riil. Lebih bagus lagi kalo membawa ide2 yang membawa manusia lebih manusiawi.
    cape deh….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s