Khalwat

SALAH satu praktik tasawuf adalah khalwat. Mungkin ada pertanyaan yang mengusik, apa bisa kita berkhalwat di zaman yang serba-instan ini? Bisa. Setidaknya, menurut Syekh Ragip. Tentu tidak persis dengan praktik khalwat yang dilakukan para Sufi besar. Tapi, siapa tahu Anda berminat untuk mencobanya?

khalwat.jpgCaranya?

Anda dapat berkhalwat di dalam rumah, di sebuah rumah teman yang sedang berlibur, atau bahkan di dalam sebuah kamar motel ataupun hotel. Matikanlah telepon dan TV. Singkirkan buku-buku, majalah, ataupun gangguan lainnya. Tutuplah tirai jendela sehingga Anda tidak dapat melihat keluar. Tutuplah juga cermin sehingga Anda tidak terganggu oleh bayangan Anda.

Untuk memulai khalwat, kurunglah diri Anda di dalam kamar. Bayangkan bahwa tenaga dan kesadaran Anda tetap termuat dan terpusat di dalam tempat Anda berkhalwat. Ucapkanlah sebuah doa dan secara formal nyatakanlah niat spiritual Anda untuk berkhalwat. Pada akhir waktu, bebaskanlah diri Anda dengan berdoa bahwa niat Anda telah terwujud dan Anda telah mampu membawa berkah khalwat tersebut ke dalam kehidupan keseharian Anda.

Mandilah setiap pagi, dan berdoalah, semoga Tuhan membantu Anda membersihkan diri secara batiniah dan lahiriah. Makanlah secara sederhana atau berpuasalah dari subuh hingga magrib. Jangan biarkan santapan Anda memakan waktu dan tenaga yang berlebihan.

Anda dapat mencoba berkhalwat sedikitnya selama 24 jam, namun paling tidak selama tiga hari adalah lebih baik. Anda dapat berdoa, iktikaf, dan merenungkan kehidupan Anda, atau melakukan meditasi pada beberapa aspek keilahian. Anda dapat membaca kitab suci atau tulisan orang-orang suci, namun jangan sampai bacaan itu menyita seluruh waktu Anda. Bacalah selama 10-15 menit dan kemudian renungkanlah apa yang telah Anda baca, setidaknya selama setengah sampai satu jam.

Bagian penting dari khalwat adalah mengheningkan suasana dan berdiam diri di dalam ruangan. Bersikap tenanglah dan biarkan pikiran terpusat pada Tuhan, dan bukannya terganggu oleh pandangan-pandangan dan suara-suara dari dunia ini. (Sumber: Hati, Diri, dan Jiwa, (Jakarta: Serambi), hal.230-1)

One thought on “Khalwat

  1. setyo mengatakan:

    Salam kenal sebelumnya……

    khalwat ….hilang semua yang ada hanya huwa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s