“Santa” Itu…

spiritual-experience.jpgSalah seorang temanku dan saudaraku (T-1) punya teman (perempuan) (T-2) yang sering mendapatkan pengalaman spiritual. Jadi, secara tak langsung, temanku juga dan sebetulnya aku kenal juga. Hanya saja, tingkat kedekatanku dengannya tidak seakrab teman pertamaku tadi.

T-1 sering bercerita kepadaku tentang T-2 yang ternyata memiliki talenta-talenta spiritual yang luar biasa untuk ukuran kami yang masih rendahan alamnya. Dan bakat itu mulai sejak kecil. Setiap aku mendengar cerita T-1 aku hanya terngungu-ngungu, meski terkadang berpikir keras juga bagaimana bisa terjadi. Karena seringnya aku mendengar cerita T-1, kepada pembaca blog aku hanya bisa minta maaf tak sanggup menghapalnya.

Yang terbaru tentang T-2 adalah ini.

Kata T-1, T-2 ini pernah melakoni laku spiritual super-berat–setidaknya menurutku di zaman serba-instan ini–selama tiga tahun berupa salat sebanyak 165 (kalau tidak salah dengar) rakaat seharinya selama tiga tahun tersebut sejak T-2 keluar dari salah satu bank swasta. Saya tidak tahu persis apakah 165 rakaat itu sudah terhitung dengan shalat fardhu ataukah belum. Sementara puasanya terus menerus tiap hari (saya tidak tahu juga apakah pada hari-hari tasyrik pasca Idul Adha, dia berpuasa ataukah tidak). “Yang jelas, aku T-2, selama tiga tahun itu tiap hari ia “diajari” oleh 25 nabi. Masing-masing nabi memiliki taklif tertentu yang satu sama lain berbeda.”

Menyimak kisah yang dikisahkan kembali T-1 kepadaku, aku mendengar saja. Konon, dalam dunia spiritual, kita tidak boleh banyak mempertanyakan. Karena, pengalaman-pengalaman spiritual bisa saja terjadi, baik kepada orang saleh maupun kepada orang salah. Kata guru al-Hikam-ku, jika pengalaman spiritual itu diberikan kepada orang saleh, semata-mata merupakan bonus. Jika dialami orang yang salah, itu berupa peringatan Allah Swt kepadanya agar ia serius menapak jalan ruhani.

Btw, tentu saja aku tidak mengatakan bahwa T-2 ini orang yang salah. Tetapi, kata guru al-Hikam-ku, semua anugerah spiritual itu bukan menunjukkan keutamaan seseorang (!). Ibn Atha’illah pernah mengatakan, “Kun thaalibaa lil-istiqaamati wa laa takun thaalibaan lil karaamati (Jadilah, Anda sebagai seorang yang terus berusaha untuk istikamah, janganlah Anda sebagai orang yang mencari kekeramatan.”)[]

One thought on ““Santa” Itu…

  1. lolita mengatakan:

    Yang begitu ngak usah ditanyakan lagi.. tidak banyak gunanya..lebih baik konsentrasi pada diri sendiri agar tetap dijalan Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s