Jihad dan Kematian

jihad.jpgJIHAD. Kata ‘suci’ ini beberapa waktu yang lalu sempat menjadi top news media massa Indonesia. Pasalnya, dengan kata inilah salah satu kelompok yang berbasis Islam melancarkan serangan-serangan dan aksi-aksi kekerasan di tanah air. Aksi-aksi itu sendiri dilakukan demi menghancurkan pusat-pusat kuasa imperialisme –meski sekedar simbol yang salah alamat- dunia, yakni Amerika dan sekutunya. Implikasi dari itu semua adalah betapa banyak orang mendapatkan mimpi buruk dan secara psikologis ada sesuatu yang salah apabila mendengar kata jihad.

Melakukan suatu amal perbuatan dalam kerangka hukum Islam ada syarat dan rukunnya. Demikian pula halnya dengan amal jihad. Menurut Haidar Amuli (1989: 289), ada tujuh syarat yang semestinya dipenuhi seseorang untuk melakukan jihad (perang kecil). Salah satu syarat di antaranya adalah, sesuai dengan paham yang dianut Amuli, adanya (izin) seorang imam maksum atau wakilnya (dalam perspektif Syiah). Apabila syarat tersebut tidak terpenuhi salah satunya, maka kewajiban jihad tidak berlaku. Namun, untuk mempertahankan tanah air, nyawa, atau kehormatan keluarga, misalnya, tak diperlukan izin. Sesungguhnya jihad dalam perjuangan militer harus dilakukan hanya untuk keadilan dan mempertahankan kebebasan, kemerdekaan, dan prinsip-prinsip sosial (Qazwaini: 2003).

Bisa jadi itulah yang tidak terdapat pada kelompok-kelompok ‘radikal’ Islam. Paham mereka memang mendukung untuk melakukan teologi kekerasan dan horor. Akibat fikih jihad yang hanya dipahami secara fragmentaris oleh mereka, maka gerakan mereka yang menyeruak ke tengah masyarakat dengan membawa panji jihad (militer) menjadikan makna jihad identik dengan teror dan bunuh diri. Mereka tak berhitung apakah suatu daerah itu termasuk wilayah konflik ataukah wilayah damai sehingga pantas menjadi ranah ‘perjuangan’ mereka.

Dari perspektif di atas, maka aksi-aksi gerakan ‘Islam’ tertentu tidak bisa dipandang sebagai sebuah ekstensi dari kosa kata jihad. Menurut Qazwaini (2003: 100-101), bentuk jihad yang terpenting saat ini adalah berjuang membersihkan ruh. Jihad ini jauh lebih penting daripada jihad militer sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Nabi saw dalam “Jihad an-Nafs” (Khomeini: 2005). Langkah awal dalam berjihad untuk menyucikan ruh ialah menghindarkan diri dari melakukan dosa karena hal itu merusak ruh. Tahap berikutnya adalah mengendalikan keinginan akan materi dan ambisi, dan membebaskan diri dari hal-hal yang menjauhkan diri seseorang dari Allah.

Sesungguhnya semua bentuk ibadah ritual dalam Islam –shalat, puasa, zakat, haji, dan lainnya- menuntut jihad ekstra. Dalam shalat, misalnya, kita berjihad untuk bisa menghadirkan hati, sesuatu yang menjadi fokus penilaian untuk diterimanya shalat. Dalam berpuasa, kita pun berjihad untuk tidak sekedar menahan makan, minum atau hal-hal yang membatalkan puasa. Namun lebih penting dari itu, berjuang untuk tidak berpaling dari selain-Nya. Demikian pula ibadah-ibadah lainnya. Jika Imam Husain as pernah mengatakan bahwa hidup itu hanya terdiri dari dua hal yakni akidah dan jihad, memang benar adanya.

Pertarungan kita dalam melawan hasrat-hasrat rendah di dunia ini semata-mata untuk mempertahankan akidah, sehingga kita memenuhi ayat yang menyatakan, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. 20:14). Ini bukan pekerjaan yang mudah. Kita perlu berjihad dalam pemikiran, menuntut ilmu, mengamalkannya dan semuanya, sehingga perjuangan keras dalam menyaksikan Realitas Mutlak terpenuhi dengan paripurna.

Jihad dan Empat Macam Kematiankematian1.jpg

Jihad dalam melawan hasrat-hasrat dan keinginan-keinginan (jihad an-nafs), yang sifatnya ofensif, mengantarkan para pelakunya pada empat macam kematian: kematian merah, kematian putih, kematian hijau, dan kematian hitam menurut perpektif ahli tarekat (Amuli: 2005). Kematian merah, sebagaimana Amuli jelaskan, adalah kematian dari hasrat-hasrat dan keinginan-keinginan rendah. Dari sana, pelakunya akan mendapatkan petunjuk dan makrifat Ilahi.

Disebut kematian merah karena, pertama, darah yang berwarna merah akan menyembur keluar ketika seseorang dibunuh, dan, kedua, (setelah pembunuhan itu) wajah menjadi merah karena masuknya cahaya Ilahi.

Adapun kematian putih adalah ekspresi atas rasa lapar karena rasa lapar menerangi batin dan memutihkan wajah hati. Dengan memperbanyak puasa, misalnya, atau tidak makan berlebihan, maka mujahid fillah (yang berjuang dalam konteks non-militer) dapat menghidupkan akalnya.

Sedangkan kematian hijau berkaitan dengan kematian dari keinginan mengenakan busana-busana lahiriah yang akan membawa kekaguman pada dirinya dan digantinya dengan pakaian-pakaian yang mendatangkan ridha-Nya.

Terakhir, kematian hitam berkaitan dengan daya tahan berjuang melawan nafsu dalam menghadapi kezaliman yang dilakukan orang lain terhadap dirinya. Orang yang berjuang di dalam Allah akan merasakan bahwa baik-buruknya yang ia terima, sejatinya berasal dari Yang Tercinta, Allah Swt. Apa yang diberikan Sang Kekasih, sesungguhnya keindahan saja, tidak yang lain. Ia fana di dalam Allah.

Sampainya pelaku jihad an-nafs ini pada empat macam kematian ini, akan dibalas ‘surga indrawi’ oleh Allah Swt di dunia sebagaimana firman-Nya, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan-keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. 79: 40-41). Karena, ‘surga‘ pada dasarnya dia yang ciptakan. ‘Bunuh diri’ harusnya diposisikan di sini, pada empat kematian yang disebutkan. Jangan di bali, atau di tempat-tempat lainnya. ‘Bunuhlah’ pusat-pusat kuasa imperialisme nafsu dalam dirimu.[]

3 thoughts on “Jihad dan Kematian

  1. MediaMuslim.INFO mengatakan:

    Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakatuh
    Salam Ukhuwah Islamiyah

    kini http://www.mediamuslim.info bagi-bagi buku gratis coba aja….
    seperti buku: Panah Syetan, Al-Ilmu, Malapetaka Akhir Zaman, Risalah Romadhon, Dasar-Dasar Memahami Tauhid dll

  2. menujukematian mengatakan:

    assalamu alaikum,
    semoga bisa selalu bisa menjadi pengingat akan kematian. mari berjihad, mari songsong kematian dengan segala keikhlasan.

  3. nurcahyono mengatakan:

    hidup ini adalah pergiliran.Demikian pula iman yang bersifat dinamis.Terkadang di atas,tak jarang pula di bawah.siap tak siap kita kan melalui pergiliran itu.Namun yang terpenting bukanlah ketakutan akan mendapatkan pergiliran yang pasti adanya,tapi dengan kita mengetahui bahwa makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya mati,kita mampu mempersiapkannya.Semoga segala persiapan yang kita lakukan selama ini mampu mendatangkan ridha-Nya karena kebahagiaan sejati bukanlah terletak pada harta dunia namun pada penyongsongan akhir kita dengan khusnul khatimah.amin………………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s