Delapan Hari Di Negeri Mullah (I)

Awal Cerita

Hidup memang terlalu sukar untuk ditebak. Banyak teka-teki di sekitar manusia yang pada waktunya juga akan terbuka. Kepergianku ke negeri mullah, Iran, misalnya, tak jauh dari itu. Yakni, aku tak menyangka bahwa pada akhirnya aku bisa mendarat dan berkeliling ke negeri yang banyak melahirkan pemikir, agamawan, sufi, dan yang lainnya.

Sebetulnya, kepergianku ke negerinya Imam Khomeini berawal dari undangan The Bright Future Institut (BFI) yang mengundang orang-orang untuk menuliskan makalah tentang Imam Mahdi as. Informasi tentang adanya acara itu sendiri dari Direkturku, Syekh Mohsen Hakimollahi. Sekitar bulan Juni silam, aku dikasih sebuah alamat situs, yakni http://www.intizar.org. Di situs ini, mereka mengundang para peselancar internet untuk menulis makalah tentang Imam Mahdi sebagai persiapan Konferensi International Ke-2 tentang Mahdisme.

Info dari Direkturku ini, dikopikan untuk rekan-rekan kerjaku yang barangkali mereka tertarik untuk menulis makalah tentang itu. Dari sanalah, aku mulai menulis tentang Mahdisme. Sebetulnya niat awalku hanya ingin belajar menulis karena saat ini aku sedang berkuliah lagi di Islamic College for Advanced Studies (ICAS) cabang dari ICAS London. Karena aku mengambil Program Islamic Mysticism, akhirnya aku menulis makalah pembuktikan Imam Mahdi dari sudut pandang tasawuf atau mistisisme Islam. Dalam kesempatan lain, aku akan lampirkan makalah itu di blog ini.

Seraya mempersiapkan bahan-bahan, aku kirim draft ke http://www.intizar.org sebagai penyelenggara acara tersebut. Tak lama, aku dapat jawaban dari mereka yang memintaku untuk segera merampungkan tulisan tentang Mahdisme. Aku membutuh kan waktu seminggu lebih untuk merampungkan tulisanku itu. Ada dua faktor yang menjadikanku agak lamban dalam menyelesaikan makalah tersebut: pertama, kendala bahasa. Bahasa Inggrisku, yang jadi modal satu-satunya, tidak terlalu bagus sehingga aku bekerja ekstra keras untuk bisa merampungkan tulisanku; kedua, kemampuan menulisku yang masih lemah. Di situ aku menyadari perlunya kita membiasakan menulis. Dengan membiasakan menulis, apa pun, maka kemungkinan besar kita akan semakin terlatih dalam menuangkan gagasan-gagasan.

Bagaimanapun juga akhirnya tulisan itu dapat kuselesaikan juga. Kukirim makalah Mahdisme via e-mail pas tanggal deadline-nya (sekitar bulan Juni akhir). Dengan sedikit demam, aku menyelesaikan makalah itu di rental dekat rumahku, Bogor, dan mengirimkan malam itu juga. Alhamdulillah,…

Kurang dari sebulan, suatu hari aku mendapat telepon dari Iran, yang isi pembicaraannya adalah bahwa makalahku telah mereka terima (sampai saat ini aku tidak tahu apakah kualitas makalahku yang memang memenuhi syarat, ataukah karena mereka membutuhkan peserta. Entahlah, semoga saja keduanya) dan mereka memintaku untuk segera mengurus administrasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s