Kuingin diriku terhadap dirimu

bak Rumi rindukan Syams-i Tabriz

lewati hari lewati malam

hanya menari dalam kesatuan-Nya

aku yang kehilangan Nabi

tak mau kehilangan Sang Wali

datanglah engkau, ya Mahdi, laksana Syams-i Tabriz

ajari Maulawi tuk menari

atau siapkanlah hatiku

tuk bisa penuhi hati ini

dengan wajahmu

4 thoughts on “

  1. aktual mengatakan:

    salam
    luar biasa puisinya. Sebuah penantian sejati. tapi kok minta diajari menari..??

  2. salafyindonesia mengatakan:

    Amuli itu apa sich? Sepertinya gak ada tuh orang Indonesia yang bernama Amuli. Jangan ngaku-ngaku deh, yang bener saja!

  3. arif mulyadi mengatakan:

    Salamun ‘alaykum.
    Kepada mereka yang keberatan atas nama ‘amuli’, saya tidak bermaksud apa-apa dengan nama itu selain ingin menyingkat nama saya: Arif MULyadI. So, tak perlu ‘kan anda sewot?

  4. amuli mengatakan:

    Menari itu, bagi saya, simbol sebuah keinginan “mabuk” bersama Tuhan, atau makrifat. Jadi keinginan untuk menari di sana diterjemahkan keinginan untuk diajari makrifat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s