Adab Makan

Makanlah makanan orang miskin yang akan makan dan meninggalkan meja tanpa rasa kenyang. Jangan minum selama makan dan kurangilah air yang kamu minum. Jangan terima perlakuan khusus selama kamu makan. Jangan pamerkan dan sok aksi. Jangan pernah menunjukkan rasa laparmu. Ukurlah jumlah makanan yang kamu makan agar kamu hanya memuaskan kebutuhanmu seperlunya. Suapanmu sebaiknya tidak besar maupun kecil. Ingatlah Allah pada setiap suapan, dan kunyahlah dengan baik sebelum kamu telan. Setiap kali kamu menelan, beri kesempatan pada makanan itu untuk turun dalam perutmu dan pujilah Tuhanmu.

Kutipan di atas saya ambil dari buku Selamat Sampai Tujuan, sebuah risalah sufi praktis dari Ibn ‘Arabi. Sengaja saya jadikan pembuka dalam tulisan ini mengingat relevansinya yang kuat di bulan Ramadhan. Mengapa demikian? Karena di bulan Ramadhan ini, yang sedianya puasa diwajibkan agar manusia bisa mengendalikan diri, sebagian orang-orang yang berpuasa malah menunjukkan keganasannya sebagai makhluk “omnivora”.

Betapa tidak. Waktu berbuka menjadi saat-saat menegangkan bagi para pemburu kuliner. Malah, rencana untuk berbuka di tempat mana dan dengan apa sudah dirancang sejak dini hari ketika makanan sahur belum selesai disantap. Sehingga, tak jarang, dengan pola makan dan gaya hidup yang tak berubah, sebagian orang malah tetap memiliki berat badan yang stabil. Malah seseringnya bertambah.

Kalau sudah demikian, ada baiknya kita kembali merenungkan pesan Ibn ‘Arabi tentang adab makan yang saya kutipkan di muka. Seluruh paragraf yang dikutip, pada intinya, memerikan satu hal saja: pengendalian diri. Dengan pengendalian diri, Ibn ‘Arabi mengajak kita untuk mengurangi segala kenikmatan, seperti makanan. Beliau menyeru kita (atau tepatnya calon pesuluk) untuk menyantap makanan yang sederhana sebagaimana yang dikonsumsi oleh orang miskin dan menyesuaikannya dengan kebutuhan yang diperlukan kita. Ini dimaksudkan, menurut saya, dengan makanan seperti itu akan membawa kita kepada kerendahan hati. Dengan kerendahan hati, sangat dimungkinkan bagi kita untuk bisa secara mudah mengingat Allah dalam setiap suapan. Karena kita akan mengingat rezeki yang dikaruniakan oleh-Nya kepada manusia.

Selaras dengan itu, jauh-jauh hari Imam Jafar Shadiq mengingatkan dalam Lentera Ilahi bahwa makan karena dorongan kebutuhan adalah untuk orang yang suci. Menikmati makan terlalu banyak, tambahnya, akan menimbulkan dua akibat: kekerasan hati dan bangkitnya nafsu. Kekerasan hati akan mempersulit diri untuk menyesali dosa-dosa yang pernah dilakukan. Apalagi menangisinya sebagai buah dari penyesalan.

Semoga pesan spiritual mereka berdua ini lebih mudah dicerna bagi para shaimin. Amin

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s