16 Agustus 2009

Agustus 24, 2009 at 5:05 am (ceritaku)

Disini kita bicara
Dengan hati telanjang
Lepaslah belenggu
Sesungguhnya lepaslah

Sesuatu yang hilang
Sudah kita temukan
Walau mimpi ternyata
Kata hati nyatanya

Bagaimanapun aku harus kembali
Walau berat aku rasa kau mengerti
Simpanlah rindumu jadikan telaga
Agar tak usai mimpi panjang ini
Air mata nyatanya

Sampai berapa lama
Kita akan bertahan
Bukan soal untuk dibicarakan
Mengalirlah
Mengalirlah
Mengalirlah

(Kantata Takwa, 1990)


Roda memang berputar . Kadang hari ini kita suka, esok kita berduka. Beberapa hari kemarin, aku menceritakan tentang dia yang mewarnai hidupku. Sampai 5 tulisan aku buat tentangnya. Dan, aku sempatkan tunjukkan tulisan-tulisanku kepadanya. Dia hanya tersenyum sembari bertanya, “Mana puisinya?” Kujawab, “Ada. Tapi nanti kutunjukkannya.”

Tapi, itu tidak akan terjadi lagi. Karena, dia sudah bukan milikku lagi. Dia milik dirinya sendiri.

Aku tak menyangka kejadiannya begitu mendadak. Selepas kami melakukan semacam retreat di sebuah tempat, dalam perjalanan pulang, dia memintaku untuk berpisah. Awalnya, aku tak mau melepaskannya karena aku merasa ada ganjalan kenapa dia tiba-tiba memintaku berpisah. Aku meminta jawaban darinya di rumah saja, tidak di sebuah metromini yang hiruk pikuk. Tetapi, dia tetap bersikukuh. Dia hanya menjawab, “Saya lelah. Mari kita bermuhasabah.”

Pada akhirnya aku melepaskannya dengan banyak pertimbangan. Yang paling baik tentunya adalah memerhatikan kelelahannya. Sudahlah, aku juga tak bisa memaksanya. That is our time. Suka atau tidak.

Menurutku, sekiranya aku bisa memperbaiki keadaanku menjelang retreat tadi, tentu tidak akan secepat ini. Tapi, dia memintaku untuk berprasangka. “Bermuhasabahlah,” katanya.

Agar aku tak larut dalam kesedihan yang membuatku tidak bisa tidur selama 2 – 3 hari sejak tanggal itu, aku berusaha merasionalisasi bahwa mengapa itu terjadi.

1. Visi kami tentang potensi dan usaha diri sudah tidak sejalan. Dia merasa aku terlalu lamban untuk mengejar segala ketertinggalan. Meski aku membantahnya karena semua ini ada fokusnya masing-masing, itu tidak akan mengubah keadaan kami.

2. Kesehatan dirinya dengan berbagai aspeknya sehingga jika terus bersamaku itu hanya akan merepotkanku. Karena itu, daripada repot di akhir usia, mendingan berpisah dari sekarang.

3. Dia merasa bahwa kami terlalu banyak maksiat. Ini aku tak bisa komentar. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami.

Barangkali inilah belenggu yang harus kami putuskan.

Take your own way…


Tulis sebuah Komentar