Dia (5)

Mei 26, 2009 at 11:12 am (ceritaku)

Dalam sebuah perjalanan menuju Pulau B, di dalam kereta menuju kota S dulu, dia cerita kepadaku bahwa ibunya dibunuh oleh suaminya yang kedua. Aku kaget. Selama bercerita, ia mencucurkan air matanya. Katanya:

“Papah sama Mamah terpaut jauh dari sisi umur dan status sosial. Dari umur Papah lebih tua dari Mamah. Sementara dari status sosial, Papah berasal dari keluarga sederhana, Mamah dari kalangan cukup berada. Tapi untuk yang terakhir ini, Mamah tidak mempersoalkan. Aku pernah diceritakan oleh Papah bahwa Papah belajar dengan menggunakan lampu hotel yang ada di kampungnya karena rumahnya berdekatan dengan sebuah hotel. Papah sangat sayang sama Mamah juga sebaliknya.

“Papah begitu dimanjakan oleh Mamah dalam hal masakan sehingga justru itu memicu akibat buruk pada akhir usia Papah. Papah kena diabetes. Diabetes yang akut, kau tahu, menjadikan penderita bisa impoten. Papah yang beda usia, sementara Mamah yang cukup muda dengan hasrat yang menyala, akhirnya dengan suka rela menceraikan Mamah.

“Mamah akhirnya menikah dengan salah seorang rekan Papah di sebuah kesatuan. Namun, sayang, pernikahannya tidak berlangsung lama. Ada kabar dari kantor bekas Papah bekerja bahwa Mamah meninggal karena dibunuh oleh suami kedua. Kami berempat–aku, kakakku, adikku, dan Papah–menjemput Mamah di Bandara. Papah begitu terpukul dengan kematian Mamah…”

Sampai sini kerongkonganku tercekat mendengar ceritanya. Aku tak menyangka kisah seperti itu ada di negeri ini. Kubiarkan air matanya mengalir deras. Ia pernah disakiti Ibunya gara-gara jilbab tapi semua itu tidak mengurangi rasa sayangnya kepada Ibunya. Ia berpesan, “Kalau saya meninggal, tolong satukan saja kuburan saya dengan Mamah biar murah juga biayanya.”

Aku hanya menangis.

Tulis sebuah Komentar